Edisi 33

KEKERASAN demi kekerasan kerap kali terjadi di tanah Papua, sayangnya upaya penyelesaian damai selalu diselesaikan lewat cara cara menambah pasukan atau aparat kepolisian khususnya Brimob. Padahal banyak jalan untuk menyelesaikan persoalan di tanah Papua bukanlah dengan jalan mengirim pasukan hingga jumlah tentara dan polisi lebih banyak dari warganya.
Jika mau sedikit menengok ke belakang, para tokoh agama telah menetapkan Papua sebagai tanah damai, mestinya cara- cara damai dan dialog yang dipakai dalam menyelesaikan konflik. Ironisnya, ketika warga Papua hendak menyampaikan protes atau pun mengkritisi pemerintah justru mereka dicap melanggar hukum dan dituduh separatis atau makar. Bahkan peristiwa demi peristiwa kekerasan yang terjadi belakangan ini hampir pasti mendapat “cap” separatisme, sekalipun siapa yang berada dibelakang peristiwa kekerasan tersebut belum terungkap.   
Sampai kapan masalah konflik di Papua berakhir? Sampai kapan ideologi menguasai akal sehat?  Mungkin, salah satu kuncinya adalah kerelaan untuk membuka dialog dengan menanggalkan Merdeka Harga Mati dan NKRI Harga Mati.
 
Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *