Edisi 34

TRANSPORTASI  di Papua merupakan andalan utama dalam menjawab keterisolasian wilayah baik melalui darat, udara dan laut. Walaupun kenyataannya pendidikan dan kesehatan masih mendapat prioritas dalam UU Otsus Papua. Padahal dalam menunjang keterisolasian wilayah ini sarana transportasi harus menjadi prioritas utama pemerintah.
Sayangnya jalan darat berkualitas tol hingga kini baru sekadar mimpi dan belum menjadi kenyataan. Ironisnya, di tengah keterbatasan transportasi justru pelanggaran atas aturanpun masih berlaku. Penyelenggara jasa transportasi  di Papua sepertinya tidak peduli dengan pemberlakuan asuransi terhadap pengguna jasanya. Di lain sisi, masyarakatpun hanya bisa pasrah jika menerima tiket dalam bentuk kwitansi. Padahal, masyarakatpun tahu jika kwitansi sebenarnya tidak bisa dibenarkan sebagai pengganti tiket penumpang. Tapi apa mau dikata, karena butuh, aturanpun tidak dihiraukan lagi. Akibatnya ketika ada musibah, kita hanya menerima kenyataan seolah-olah sudah suratan takdir. Padahal ini semua akibat kesalahan dan kelalaian kita sendiri.
Kecelakaan demi kecelakaan terus terjadi. Dan selama ini pula kita menyaksikan begitu sulitnya pengguna jasa transportasi yang mengalami kecelakaan tersebut mendapatkan santunan. Apakah ini memang sengaja dibiarkan agar penyelenggara jasa angkutan tidak mengalami kerugian 2 kali?
 
Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *