Perempuan Marind Butuh Pemberdayaan

JUBI—Upaya mempertahankan eksistensi budaya asli suku Marind di Kabupaten Merauke, Papua ternyata tidak semudah yang dibayangkan.

Pasalnya, untuk memperoleh dukungan dari pemerintah daerah sangat sulit didapat sehingga upaya yang dilakukan oleh sekelompok perempuan Marind asal Kampung Bamol Distrik Kimaam, Kabupaten Merauke yang membentuk usaha kerajinan tangan mengalami kendala.
Ketua Kelompok Kerajinan Anyaman Nimure, Rika Ndiken ketika dijumpai di kediamannya, Rabu (27/5)  mengaku, usaha yang dilatarbelakangi untuk mempertahankan keaslian budaya itu, telah dilakukannya bersama 25 anggota lainnya sejak tahun 2008 dengan mengadakan kerjasama dengan Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Merauke. Namun sayangnya tidak berlangsung lama lantaran dinas tersebut tak mampu lagi menampung hasil kerajinan rakyat tersebut dengan alasan keterbatasan dana. “Kerajinan kami sudah ditampung oleh dinas perindagkop sebanyak 2 kali. Setelah menyerahkan lagi, mereka sudah tidak mau lagi dengan alasan tidak ada dana dan menyarankan untuk buat permohonan, namun tidak ada realisasi. Lalu kerajinan kami ini mau dijual kemana lagi,” ungkapnya kecewa.
Dirinya juga menyesalkan sikap Disperindagkop yang memberikan harga murah bagi hasil kerajinan rakyat yang telah dibuat oleh kelompoknya seharga Rp.20.000 per tas anyaman. Padahal, untuk memperoleh bahan anyaman berupa daun tikar, Rika dan kawan-kawannya harus mencari hingga ke Kampung Yanggandur Distrik Naukenjerai, begitupula dengan Bulu Kasuari, mereka harus memesannya hingga ke Kabupaten Boven Digoel “Kami sangat kecewa dengan dinas tersebut dan saya mau katakan tidak ada pemberdayaan terhadap perempuan Marind,“ ujarnya seraya mengatakan bahwa perempuan Marind diberikan pelatihan keterampilan dan tidak pernah  merasakan dana Otsus.
Sama halnya, Yulita Cambu (61) juga merasa selama ini kerajinan tangan yang telah sekian lama digelutinya hanya diberikan kepada orang yang meminta tanpa ada imbalan yang setimpal dengan jerih payahnya. “Kebanyakan orang-orang dinas pemberdayaan hanya datang kemudian liat dan minta tas-tas buatan kami tanpa membayarnya. Kalaupun datang mereka hanya lihat-lihat tanpa memberikan keterampilan dan hanya kasih buku keterampilan membuat kerajinan dari eceng gondok. Padahal untuk membuat keterampilan itu harus menggunakan mesin, sementara kita mau dapat mesin dari mana?” keluhnya panjang lebar.
Keduanya berpendapat, kelompoknya pantas untuk memperoleh bantuan dari pihak terkait karena telah bekerja keras melestarikan nilai budaya, namun sangat disesalkan selalu mendapat jawaban yang mengecewakan dengan alasan dana terbatas. “Tipu kalau tidak ada uang, apalagi su ada dana otsus,” pungkasnya dan diamini oleh rekan-rekannya yang lain. Mereka bertekad untuk tidak mau diperalat oleh orang-orang yang hanya mau mengambil keuntungan dari mereka. (drie/Merauke)

Tidak ada Komentar


  1. Hai, ini adalah sebuah komentar.
    Untuk menghapus komentar, cukup log masuk dan tampilkan komentar-komentar pada pos. Di situ ada opsi untuk menyunting atau menghapus mereka.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *