Rika, Aksi Perempuan Bamol Lewat “Aghayen”

 
JUBI—- Rumahnya sangat sederhana. Dindingnya terbuat dari gabah, beratapkan pelepah sagu kering. Saat saya tiba, mereka sementara menganyam tikar (aghayen).

Seketika wajah ketiga perempuan ini sumringah. Mereka mempersilahkan saya duduk bersila ditikar yang masih berantakan. Sambil mengajak saya ngobrol ketiganya sibuk menganyam tikar (aghayen). Tangannya sangat cekatan. Walaupun tatapan mereka tak sedikitpun berlalu dari saya, tapi anyaman tikar perlahan selesai. Rika Ndiken (28), warga Kampung Bamol Distrik Kimaam, Kabupaten Merauke ditemani Yulita Cambu (61) dan Fransina Were (52). Mereka bertiga berteman akrab.
Rika Ndiken dan rekan-rekannya membentuk kelompok kerajinan tangan yang diberi nama Nimure setahun silam. Nimure berarti ingin mencoba. Rika Ndiken ingin mencoba bersama kelompok usahanya, kerajinan anyaman Aghayen agar mampu mandiri. Anyaman Aghayen merupakan industri rumah tangga (home industri) yang berupaya mengumpulkan perempuan Bamol untuk mengisi waktu senggang, tapi mampu menopang ekonomi keluarga.
Saat ini Nimure makin berkembang. Anggotanya dari tiga orang kini meningkat 25 orang perempuan.  Misinya adalah melestarikan adat istiadat asli Papua dengan berbagai peran karya dan seni. Rika berusaha memotivasi kaum perempuan untuk dapat berwiraswasta meskipun dengan keterbatasan dana. Rika Ndiken mampu menjadi motivator bagi kaum perempuan yang jauh lebih tua dari usianya. Pengalaman hidup membuatnya menjadi tegar dan mampu menjalani hidup mandiri.
Perempuan ramah ini tak memperlihatkan gurat-gurat kepedihan masa lalunya yang kelam. Tak disangka di usianya yang masih belia, 13 tahun, pernah ia dilarikan seorang calon Pastor bernama Yohanes Konewara yang dianggapnya sebagai orang tua angkatnya. Saat itu Konewara bertugas di kampung Bamol. Atas izin orang tua, Rika Ndiken diajak Konewara pindah di Kabupaten Mappi hingga menamatkan pendidikan SMP. Di Mappi, ia tinggal di Asrama Pastoran. Namun lantaran tak punya biaya Rika akhirnya melanjutkan sekolahnya di distrik Etchi.
Konewara yang dalam pandangan Rika dapat menjadi panutan baginya ternyata berbalik 360 derajat. Dibalik dikeluarkannya Rika dari asrama, ternyata Konewara memiliki niat untuk mengawini Rika Ndiken. Dalam genggaman Konewara, Rika Ndiken mengembara dari satu tempat ke tempat lain. Ia hanya mengikuti keinginan Konewara. 

Aghayen Sebagai Warisan Budaya
Rika dan kelompok Nimure senantiasa melakukan kegiatan Usaha anyam-anyaman daun tikar. Aghayen merupakan warisan budaya yang perlu dilestarikan. Hal ini membuat  Rika Ndiken bersama kelompok Nimure memulainya secara swadaya. Tak mesti dilakukan di rumah sewa milik Rika yang sangat sederhana, namun para ibu-ibu yang rata-rata lebih tua dari usia Rika dapat melakukannya saat  waktu senggang di rumah mereka masing-masing.
Yulita Cambu mengaku, jika tak sibuk berjualan di pasar maka dalam sehari dirinya dapat menghasilkan 3 Aghayen. Bahan baku untuk Aghayen diambil dari Kampung Onggaya, distrik Naukenjerai. Sedangkan bahan baku berupa bulu kasuari  dipesan di Boven Digoel. Untuk mengambil bahan baku Aghayen sebelumnya harus minta izin lurah, ketua adat setempat dengan imbalan siri pinang.  “Dalam sebulan biasanya tiga kali kami ke Onggaya,” tukasnya.  
Fransina Were (52) mengungkapkan, ia prihatin kerajinan yang telah lama digelutinya ini. Pasalnya, acapkali Aghayen tak pernah membuahkan hasil lantaran sering dimanfaatkan pihak-pihak tertentu tanpa imbalan. “Mereka kalau perlu Aghayen datang menemui kami, tapi tak pernah membayar,” keluhnya dan diamini rekan lainnya.
Sebagai langkah awal memperkenalkan aghayen  kelompok Nimure  menjalin kerjasama dengan Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Merauke untuk menampung Aghayen kaum perempuan Bamol itu.  Alhasil, pemerintah  menampung Aghayen dengan harga Rp 20.000 per aghayen. Menurut pandangan mereka, harga tas yang relatif rendah itu tak akan cukup untuk membiayai kehidupan kaum perempuan yang sebagian besar berstatus janda. Pada akhirnya kerjasama itu menjadi terputus lantaran pemerintah tak mampu lagi menampung hasil kerajinan kelompok Nimure dengan alasan keterbatasan dana. “Saya merasa kecewa karena tak ada dukungan khusus kepada perempuan. Padahal kami telah berupaya dengan usaha sendiri. Jika memang tak tertampung, Aghayen tak boleh dibawa keluar,” keluh Rika.
Para kaum perempuan ini pun mengeluhkan kinerja Badan Pemberdayaan Perempuan Kabupaten Merauke. Setda Kabupaten Merauke belum memberdayakan perempuan Papua. Dana-dana yang selama ini  dipergunakan hanya secuil diperuntukan bagi kaum perempuan Papua. “Selama ini dana di kemanakan? Sementara dana Otsus selalu bergulir,” tukas Rika yang memiliki seorang putra buah perkawinannya dengan Konewara.

Faktor Adat Menghambat Kemajuan Perempuan Marind
Tutur katanya yang polos membuat Rika Ndiken mudah bergaul dengan siapa saja. Dibalik kepolosannya sebagai perempuan dari kampung, Rika Ndiken pun  mengeluhkan minimnya dana dari pemerintah setempat untuk pemberdayaan ekonomi keluarga. Tak hanya itu, minimnya ketrampilan yang diberikan terhadap upaya pengembangan usaha warga lokal khususnya perempuan tak lolos dari perhatiannya. Kalaupun ada perhatian dari pemerintah setempat sekedar datang menengok lalu menghilang. “Padahal yang sangat kami butuhkan adalah pengembangkan ketrampilan dan pengembangan pemasaran produk produk kerajinan lokal melalui pelatihan atau magang kerja,” ujarnya.
Meski didera ketakberuntungan, Rika Ndiken para perempuan Bamol untuk tak berpangku tangan tapi senantiasa mengembangkan kerajinan anyaman Aghayen melalui keluarga, kerabat, teman, pemerintah, LSM dan lain lain untuk memenuhi permintaan pasar. “Kami memahami bahwa membuat kerajinan anyaman Aghayen bukan mengikuti suatu ideologi tapi selera pasar,” urainya. “Peminat makin banyak, tapi yang menggunakan sebagian besar orang Papua sendiri, padahal ingin juga karya kita di senangi pembeli dari luar Papua,” ujarnya.
Menurut Rika Ndiken, perempuan Papua sebenarnya memiliki potensi tapi masih tak berani untuk memperkenalkan diri dan minder terhadap kemajuan yang dialami kaum pendatang. Untuk memotivasi para kaum perempuan, seharusnya pemerintah setempat turun lapangan untuk lebih memberdayakan kaum perempuan Papua.
Tokoh Perempuan Marind Theresia Esy Samkakai menuturkan, pada umumnya perempuan Papua tak mampu bersaing dalam segala hal khususnya yang berkaitan dengan usaha yang dapat menjadi sumber penghasilan yang secara khusus dikelola kaum perempuan dengan menggunakan bahan lokal. Perempuan Papua tak menyadari bahwa dalam suatu proses persaingan pasar da satu sisi.
Sementara di lain sisi, mereka tak memiliki wawasan apapun. Katakanlah menjual minyak kelapa, mereka jual mahal padahal produk sejenis seperti minyak goreng Bimoli yang dijual relatif lebih murah. Sama halnya dengan ketrampilan di pasar, mereka tak punya kesiapan menghadapi sistem pasar yang pada akhirnya tak ada yang membeli produk yang mereka hasilkan, seperti anyam-anyaman tikar, mereka menganyam menjualnya dengan harga mahal dan harus bersaing dengan  tikar yang murah. “Siapa yang mau beli,” tukas  Esy bertanya.  ”Jadi menurut saya semuanya terbentur pada kebutuhan pasar sehingga usahawan baru masyarakat lokal hanya berjalan ditempat,” tuturnya dan berharap agar pihak terkait bisa memberikan dukungan terhadap kaum perempuan seperti pelatihan ketrampilan yang dapat meningkatkan mutu dari kerajinan rakyat itu sendiri. (Indri/Merauke)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *