Mengapa Minat Baca Mahasiswa Di Perpusatakaan Uncen Rendah?

 
JUBI—Minat baca mahasiswa di Perpustakaan Uncen Jayapura, Papua rendah. Hal ini diakibatkan oleh ketidakbiasaan dalam mempergunakan perpustakaan.

Kepala Perpustakaan Universitas Cenderawasih (Uncen), Drs John B. Dumatubun, M.Si kepada JUBI, Rabu pekan kemarin mengatakan, walaupun kini Uncen memiliki Unit Pelayanan Terpadu (UPT) Perpustakaan  di Kampus Uncen Baru Waena dan 8 perpustakaan di masing-masing fakultas, tapi  minat baca dari mahasiswa dan jumlah kunjungan pada setiap perpustakaan di fakultas tak sebanyak yang diharapkan.
Hal ini, lanjut Dumatubun dikarenakan tak ada pembiasaan kepada mahasiswa dalam menggunakan perpustakaan sebagai tempat  untuk mencari bahan atau referensi dalam membuat tugas kuliah, skripsi, tesis dan tugas lainya. Dikatakannya, apabila mahasiswa mendapat tugas menulis skiripsi atau thesis  maka proses penulisannya tak beda dengan saat siswa mendapat tugas mengarang. “Menulis skripsi harus ada dasar atau referensi yang didapat di perpustakaan, bukan cuma asal mengarang saja,” pungkasnya.
Baginya, seharusnya mulai dari tingkat SLTP seorang siswa telah diwajibkan mengarang dengan suatu dasar atau referensi. Sehingga apabila siswa yang bersangkutan melanjutkan kuliah di perguruan tinggi, maka dia akan mampu menulis skripsi dengan dasar atau referensi yang jelas. “Saat ini bukan zamannya lagi mengarang tanpa dasar atau referensi,” imbuhnya.
Selain itu, menurut Dumatubun, mahasiswa juga tak  memahami proses mencari buku. Sejak SD sampai Perguruan Tinggi, rata-rata orang tak mempunyai perpustakaan. Jadi mahasiswa tak terbiasa menggunakan perpustakaan sebagai bahan belajar. “Mahasiswa harus menciptakan pembiasaan dalam belajar sehingga apabila datang ke perpustakaan mahasiswa sudah terbiasa,” ujarnya. Mahasiswa juga mesti menguasai sistem perpustakaan. Terdiri dari buku referensi seperti ensiklopedi, bibliografi, hand book, kamus dan buku umum. Kalau mahasiswa hendak menulis suatu fenomena sosial dalam masyarakat maka ia akan dengan mudah memahaminya.
Saat ini mahasiswa mudah mencari buku sesuai kebutuhan karena telah dilengkapi dengan sistem komputerisasi  untuk mendapatkan judul buku nama pengarang dan lain-lain. Sebelumnya, tidak seperti ini. Yakni hanya dengan menggunakan kartu katalog. Komputer untuk mengolah buku dimasukan secara on line. “Referensi yang paling murah  dan mudah didapat itu diperpustakaan. Sehingga sangat disayangkan sebuah sekolah tak mempunyai perpustakaan,” tutur Dumatubun.
Dia juga mengakui, lokasi dan jarak perpusatakaan Uncen yang jauh dan terpencil merupakan penyebab mahasiswa jarang mengunjunginya. “Kalau perpustakaan kampus-kampus di Pulau Jawa letaknya sangat strategis sehingga mahasiswa mudah mengunjungi perpustakaan. Walaupun dia tak ada niat dia pergi ke perpustakaan,” kata Dumatubun.

Fasilitas Perpustakaan Kurang Memadai

Hingga saat ini pengelola UPT Perpustakaan Uncen mengalami kekurangan dana. Pemerintah juga kurang memberikan perhatian kepada pengembangan perpustakaan. Pemerintah cenderung membedakan UPT Perpustakaan Uncen dengan Perpustakaan Daerah di Kotaraja yang fasilitas dan pendapatan karyawannya memadai.    
Faktor lain yang menyebabkan mahasiswa Uncen enggan mengunjungi perpustakaan adalah faktor daya tarik perpustakaan. Seperti tiadanya Air Conditioner (AC) dan ventilasi. Minimnya, fasilitas alat bantu telusur, komputer, dan buku referensi yang kuat juga mempengaruhi keengganan mahasiswa ke perpustakaan.
Dumatubun juga mengatakan, untuk memelihara koleksi buku di UPT Perpustakaan Uncen, pihaknya mengadakan Surat Keterangan Bebas Perpustakaan  (SKBP) bagi mahasiswa sebelum lulus atau  berangkat ke universitas lain. “Dia su pinjam buku  banyak dia pergi kita rugi,” kata dia. “Kita harus jaga buku baik-baik. Dia tak urusan dengan perpustakaan lagi. Kalau dia dapat pinjam harus diselesaikan,” tambahnya.
Sementara itu, Statistik Pengunjung UPT Perpustakan Uncen menyebutkan, di tahun  2008 per 1 Januari hingga 31 Desember, kunjungan yang terjadi sebanyak 28.242 . Tahun 2007 jumlah kunjungan menurun menjadi 26.153. Sedangkan pada  tahun 2006, sebanyak 23.703. Pengunjung terdiri dari mahasiswa, dosen, karyawan, dan masyarakat umum. Sementara untuk statistik peminjaman buku, per 1 Januari hingga 31 Desember 2008, peminjaman dari mahasiswa sebanyak 8.197. dosen 30, dan karyawan 8. Total peminjaman, 8.253. Sedangkan pada tahun 2007,  mahasiswa meminjam sebanyak 5.323. Dosen 55, dan karyawan 10. Totalnya 5.388.
Ketika dihubungi terpisah, Ketua Jurusan Antroplogi FISIP Uncen, Drs. Agustina Ivone Polo, M.Si kepada JUBI menuturkan, pihaknya memberikan tugas kepada mahasiswa terutama kepada mereka yang akan melakukan penelitian dilapangan. Hal ini dimaksudkan agar mahasiswa memiliki pemahaman tentang masyarakat.
Mahasiswa yang melakukan praktek di lapangan biasanya dari 1 hingga 3 bulan. Mereka  mengumpulkan data dan mensurvey banyak hal. “Mereka mengolah data lapangan dan mengkonsultasikan ke dosen pembimbing.  Kemudian Dosen  pembimbing tinggal mencocokan. Hasil dari ujian skripsi syaratnya dipublikasikan terutama di jurusan dan fakultas,” jelasnya.

Buku Lama Masih Dipakai
Dalam kesempatan berbeda, Albert Batlayeri, mahasiswa Fakultas Hukum Uncen mengutarakan, kehadiran UPT Perpustakaan Uncen serta perpustakaan di masing-masing Fakultas diakui sangat membantu didalam mengerjakan tugas. Namun demikian, ia menyayangkan buku di perpusatakan tak lengkap dan tak ditata dengan baik dan rapi. Hal ini biasanya mempersulit mahasiswa untuk mencari buku. Untuk mengatasi hal ini, ia bersama rekan-rekannya terpaksa mencari buku diluar Uncen seperti ke Perpustakaan Daerah Kotaraja maupun menyewa internet. “Tong rasa di kedua tempat ini cari materi kuliah lebih praktis, mudah, murah dan lengkap,” tukas Albert yang terakhir mengunjungi UPT Perpustakaan Uncen November lalu.
Albert juga menyarankan kepada pihak-pihak pengambil keputusan di Uncen agar menambah koleksi buku. Dimaksudkan agar mahasiswa tak mengeluarkan biaya tambahan untuk mencari tugas kuliah.
Dilain tempat, Nathan Kepno dan Leksi Edoway, mahasiswa FISIP Jurusan Ilmu Administrasi, Program Studi Pemerintahan Uncen menandaskan, kehadiran UPT Perpustakaan Uncen dan perpustakaan di masing-masing Fakultas sangat membantu mahasiswa mencari bahan kuliah. Namun demikian, mahasiswa mengaku mendapat hambatan lantaran  pelayanan petugas  perpustakaan tak memadai. Terkadang perpustakaan di fakultas juga tak melayani mahasiswa. Bahkan selama berbulan-bulan. Selain itu, buku-buku di perpustakaan Fakultas adalah buku lama. Tak ada buku baru. “Ini yang membuat tong malas ke perpustakaan dan pilih di Warnet untuk cari tugas-tugas kuliah,” ujar Nathan, seraya menambahkan, agar petugas perpustakaan diaktifkan pada saat jam kuliah mahasiswa. ”Kitong ada mau cari tugas materi dari skripsi yang sudah ada. Tapi perpustakaan tra buka, jadi kitong susah. Buku-bukunya juga tak ditata rapi, jadi kalau kita mau pergi cari buku, kitong macam susah dapat buku yang kitong  butuh,” kata Leksi.
Karena itu, Leksi menganjurkan kepada pimpinan Uncen agar menugaskan petugas perpustakaan untuk menata kembali buku-buku sesuai kategori program studi mahasiswa Uncen. (Ronald Manufandu/Mahasiswa Pelatihan Jurnalistik JUBI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *