Mengurai Teka-Teki Penyerangan Bersenjata di Papua

 
JUBI — Penyerangan dan teror terus saja terjadi di Papua. Uniknya, dari satu penyerangan ke penyerangan yang lain, selalu saja menyimpan teka-teki pelaku dan dalang sebenarnya. Teka-teki itu hingga kini masih terpendam.

Serangkaian aksi kekerasan di Papua sepertinya tak akan pernah reda. Sejumlah pihak mengklaim, termasuk tokoh pemuda, Dominukus Sirabut di Jayapura kepada JUBI, bahwa aksi penyerangan dan teror akan semakin marak jelang pemilihan Presiden Juli mendatang. Ironisnya, tidak hanya pelakunya yang sulit ditangkap tapi juga tak pernah ada langkah untuk menghentikan kekerasan ini.
Lihat saja dalam insiden baku tembak antara kelompok TPN/OPM dengan anggota TNI Satgas Pam Yonif 725/ Woroagi di Pasar Skow-Wutung 17 April lalu, penembakan terhadap Rumah Dinas Bupati Puncak Jaya, Lukas Enembe S.Ip, di Kota Baru, Distrik Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Sabtu 23 Mei kemarin, dan penyerangan terhadap petani di wilayah perbukitan Tanah Hitam Kampung Selayar, Abepura, Jayapura. Teror dilakukan dengan menggunakan panah dan parang. Diduga kelompok tak dikenal ini juga memiliki senjata api.
Bagi Neles Tebay, Dosen Sekolah Tinggi Filsafat dan Theologia, Fajar Timur, Jayapura, dalam sebuah Artikel di harian lokal Papua, sepertinya akan sama mengidentikan pengibaran Bintang Kejora dan kekerasan di Papua. Bagi Tebay, sikap dan reaksi pemerintah melalui kepolisian memperlihatkan pengibaran Bintang Kejora juga masih dipandang sebagai masalah kriminal. Baginya, solusi yang tepat dan bermartabat bukanlah penangkapan dan pemenjaraan bagi para aktor kekerasan, tapi kepada sebuah dialog antara pemerintah Indonesia dengan orang Papua.
Teka-teki penyerangan di Papua memang sulit terjawab. Dalam suatu kesempatan, Eben Kirksey, seorang antropolog dari Universitas California dan Andreas Harsono (jurnalis) di Jakarta pernah pada pembunuhan 31 Agustus 2002 di Timika membongkar tentang fakta penyerangan dan kekerasan. Laporan ini merupakan satu-satunya fakta lapangan atas penyerangan di Papua yang terungkap secara mendetail. Hasil laporan yang disusun selama dua setengah tahun, dengan cara mengolah data, riset dan wawancara tersebut, berdampak pada statement yang pernah diungkapkan Condoleezza Rice, menteri luar negeri Amerika Serikat. Laporan yang dimuat di jurnal South East Asia Research itu bertajuk, ‘Criminal Collaborations? Antonius Wamang and the Indonesian Military in Timika’. Harsono dan Kirksey menggali info dari hasil Berita Acara Pemeriksaan (BAP) tujuh warga Papua yang jadi tersangka kasus pembunuhan dua guru warga negara Amerika dan seorang warga negara Indonesia. Sebelas orang lainnya juga dilukai dalam peristiwa itu.
Tujuh warga Papua tersebut dihukum antara lima tahun hingga seumur hidup. Laporan tersebut menjadi menarik, lantaran menyebut sejumlah nama anggota TNI. Mereka dilaporkan berada di tempat kejadian perkara pada waktu yang sama dengan kelompok Antonius Wamang. Mereka masih aktif dan tidak semua diperiksa. Laporan juga memakai radiogram Kedutaan Besar Amerika di Jakarta kepada Kementrian Luar Negeri di Washington. Mereka juga menulis sejumlah cerita mengenai perdagangan senjata secara ilegal di Jakarta ketika Wamang membelinya. Dalam laporan ini, mengungkapkan pula, misalnya, kedua pemerintah ingin International Military Education and Training (IMET), Counter Terorrism Fellowship Program (CTFP), dan Foreign Military Finance (FMF) segera dibuka lagi. Kerjasama-kerjasama ini melibatkan jumlah dollar yang cukup besar. Bahkan Indonesia adalah penerima bantuan program anti terorisme terbesar di dunia, lebih tinggi dari Yordania, dan Pakistan. Data Pentagon menyebutkan Indonesia menerima dana sebesar US$6,2 juta, sejak 2002 hingga 2005. Di tahun 2007, Amerika memberikan juga bantuan US$18,4 juta. Selang beberapa jam setelah Wamang diputus hukuman seumur hidup oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Pentagon menyebutkan “era baru” kerja militer kedua negara dimulai.
Kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia oleh militer Indonesia memang harus segera diselesaikan. Sebab Kongres Amerika tidak bersedia mencairkan bantuan jika masalah-masalah ini tidak dibereskan. Pemerintah Indonesia berupaya keras untuk menyelesaikan, walaupun dengan mutu asal-asalan. Misalnya, di kasus Timtim, tidak ada satupun perwira TNI yang dihukum. Sama dengan di Timika. “Dalam laporan, yang kami ungkap adalah nama-nama tentara dalam kejadian tersebut dari kesaksian tersangka, saksi dan korban. Misalnya, dari keterangan Wamang, kami menulis soal Sersan Puji, Kapten Hardi Heidi, serta seorang perwira Kopasuss, Sugiono, yang disebut-sebut membantu mencarikan senjata untuk Wamang di Jakarta,” kata Harsono dalam Jawa Pos News Network. Dia mengatakan, “Kapten Hardi membawa senjata dari Jakarta ke Surabaya, kemudian dikirim ke Timika via pelabuhan Tanjung Perak. Namun apesnya, Wamang ditipu. Senjata-senjata yang dibeli tersebut tidak pernah dikirimkan ke Timika. Uang setengah miliar milik Wamang pun lenyap. Dia hanya membawa peluru dari Sersan Puji,” tambahnya.
Lalu, dari informasi Decky Murib, kata Harsono, seorang informan militer di Timika, menyebut juga nama Kapten Margus Arifin, Lettu Wawan Suwandi, Sertu I Wayan Suradnya, dan Pratu Jufri Uswanas. Mereka bersama tiga tentara lainnya mengajak Murib menuju mile 63. Decky Murib dan empat tentara lainnya menunggu di mile 62. Sebagian dari mereka adalah anggota Yonif 515 Kostrad dari Tanggul, Jember, yang saat itu ditugaskan di Timika. Sedangkan Margus adalah anggota Kopassus.
Laporan itu juga menyebutkan ditemukan pecahan dan selongsong peluru, sebanyak 208 butir. Dari Puslabfor Bareskrim Polri, diketahui selongsong tersebut berasal dari 13 pucuk senapan jenis M16, SS1 dan Mauser. “Itu menunjukan ada kejanggalan-kejanggalan terhadap pengadilan Wamang. Padahal jaksa mengatakan Wamang hanya punya tiga senapan, tetapi selongsongnya menyatakan ada 13 senapan. Jadi 10 itu milik siapa?” kata Harsono.
Fakta lainnya, kata dia, adalah orang yang dikatakan ditembak oleh anggota Kostrad Yonif 515, Koptu Wayan Ardana, yang sebelumnya dikenal dengan sebutan Mr X. Ternyata dia bukan salah satu anak buah Wamang. Identitas Mr X disebutkan adalah Elias Kwalik. Belakangan mayat tersebut dikenal oleh penduduk kampung sebagai Deminus Waker. Hasil visum rumah sakit Tembagapura, waktu kematian Mr X, lebih awal dari tanggal kejadian penembakan. Sekitar 24 hingga 36 jam.
Laporan Harsono dan Kirksey pasca dilakukan penelusuran itu, diberitakan di situs harian Kompas, Koran Tempo, AFP, Channel Nine, BBC Indonesia, Radio Hilversum, harian Belanda AD, Radio Australia, dan harian The Age (Melbourne).
Namun sayangnya setelah 6 tahun lebih, ternyata laporan tentang pembuktian teka-teki kekerasan di Papua seakan lenyap begitu saja. Radio Australia yang pernah memberitakan laporan itu dalam tahun 2002 terkait tentara dan orang-orang yang berkaitan dengan TNI memanipulasi dan membantu mempersenjatai anggota separatis Papua, Antonius Wamang, pun dilupakan. Wamang sendiri dijatuhi hukuman penjara seumur hidup di tahun 2006 karena memimpin serangan tadi. Laporan itu juga menyebutkan, oknum-oknum TNI menyulut kekerasan untuk meyakinkan Freeport agar terus membayar jutaan dollar setiap tahunnya kepada militer untuk menjaga operasinya.
Kini, setelah tahun berganti, teka-teki penyerangan di Papua dibalik insiden Polsek Abepura April kemarin, termasuk serangkaian kekerasan hingga Mei, seakan terulang lagi. Polisi bahkan hingga kini masih terus mencari pelaku sebenarnya atas insiden pembakaran Gedung Rektorat Uncen di Waena. Gubernur Papua, Barnabas Suebu dalam suatu kesempatan pernah mengecam tindakan-tindakan penyerangan tersebut. Namun, tetap saja, teka-teki dibalik itu belum juga terungkap secara detail. (Jerry Omona)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *