Dibalik Euphoria Kemenangan  Tim “Mutiara Hitam” Persipura

 

 

Oleh: Yanuarius G. Douw (*)

 

JUBI—Pada 17 Mei 2009 kebanyakan orang di Tanah Papua bangga setelah menyaksikan tim “Mutiara Hitam” Persipura meraih scudeto dalam Kompetisi Djarum Indonesia Super League (ISL) Tahun 2008/2009.

Pada tahun inilah Persipura dipandang sebagai tim yang mengangkat keterpurukan harga diri masyarakat Papua pada era Otonomi Khusus (Otsus) ini. Dengan kemenangan “Mutiara Hitam” pada kompetisi ISL tahun ini, kita sering mendengar suara-suara kegembiraan dengan nada: “Mutiara Hitam, tim penyelamat tanah Papua; Mutiara Hitam, malaikat penyelamat harga diri orang Papua, dan lain-lain”.

Lebih Bernuansa Politik Dan Bisnis
Bertolak dari euphoria sebagian rakyat Papua ini dapat kita bertanya bahwa apakah realitas sesungguhnya yang terdapat di Tanah Papua dibalik kemenangan ini? Mengapa kekompakan rakyat Papua hanya dinyatakan dalam aksi-aksi menyambut kemenangan Persipura ini? Apakah relevansinya atas kemajuan dan kemenangan dalam dunia sepak bola bagi penyelesaian masalah-masalah kemiskinan, penderitaan dan pelanggaran HAM yang sedang melingkupi orang Papua dewasa ini?

Bukankah orang Papua terjebak dalam suatu situasi euphoria agar melupakan perjuangan mengangkat harga diri dan martabat manusia Papua sendiri dari berbagai kemelut kemanusiaan yang selalu saja melanda orang Papua? Bukankah perjuangan untuk sukses dalam persepakbolaan ini lebih bernuansa politik dan bisnis dari pada bernuansa kemanusiaan? Apakah kekompakan dan kesatuan orang Papua yang selalu diperlihatkan dalam dunia olah raga ini dapat diperlihatkan juga dalam perjuangan untuk sukses dalam bidang-bidang kemanusiaan?
Mereka yang mendasari filosofi tersebut di atas serta indikasi kesatuan dan kekompakan segenap masyarakat yang diperlihatkan ini, lupa dengan masalah mendasar lain yang sedang dialami di Tanah Papua. Masalah-masalah tersebut adalah penyediaan pasar tradisional bagi Mama-mama asli Papua sebagai bagian dari usaha pengentasan kemiskinan, masalah proses pembangunan yang memarginalisasi orang asli Papua, masalah pelanggaran HAM, ketidakadilan dalam hukum dalam proses pengadilan seperti Buchtar Tabuni Cs, masalah diskriminasi dalam pengembangan ekonomi masyarakat bawah, masalah manipulasi informasi serta stigma buruk bagi masyarakat Papua, dan lain-lain.
Singkatnya, masyarakat selalu dilupakan hakekat diri dan hidupnya oleh ilusi-ilusi dengan mengabaikan masalah-masalah dasar yang selalu mengantar orang Papua menuju kepunahan. Lebih ironis lagi ketika filosofi kesatuan dan kekompakan semua komponen masyarakat dalam mengatasi masalah-masalah dasar ini tak pernah dinampakan sebagaimana selalu diperlihatkan dalam dunia sepak bola di Tanah Papua.

Melihat Posisi Kita
Meskipun kita semua senang dan bangga dengan kemenangan Persipura ini. Tapi kita secara bersama perlu merenungkan kenyataan sesungguhnya dari keberadaan serta arah gerak kita sebagai orang Papua di Indonesia. Kita harus selalu melihat posisi kita berada seperti apa dan kita berjalan ke arah mana. Usaha ini penting karena keberadaan kita serta arah gerak kita selama ini, realitas menunjukkan kepada kita bahwa hidup kita hanya terlena dalam euphoria persepakbolaan dan dengan demikian melupakan realitas penderitaan di bidang kemanusiaan akibat berbagai pelanggaran HAM, melupakan realitas kemiskinan dalam bidang ekonomi, kesehatan dan pendidikan, mengabaikan realitas marginalisasi dalam proses pembangunan di Tanah Papua, memasabodohkan realitas krisis identitas budaya, serta meninabobokan dalam kondisi hiburan semata. Misalnya, kalau dana menyangkut sepak bola, pemerintah menyediakan sekian ratus juta ataupun sekian miliar, sementara tuntutan masyarakat untuk mengalokasikan dana bagi penyelesaian masalah-masalah HAM dan kemanusiaan, masalah kemiskinan, dan lain lain selalu diabaikan.

Kualitas Moral Dan Iman
Dengan demikian, fenomena ini menggambarkan bahwa sebagian besar orang beriman di atas tanah Papua memperlihatkan solidaritasnya, kekompakan dan kesatuan serta kerja sama secara solid ketiga hal itu menyenangkan dan menggembirakannya. Tapi sebaliknya usaha itu tak pernah diperlihatkan kalau hal itu sesuatu usaha yang menyedihkan, menyusahkan, merepotkan dan lain-lain. Padahal moralitas sosial mengajarkan bahwa hal yang terpenting adalah solidaritas, kerja sama, serta kekompakan dan kesatuan amat perlu dibangun dan diusahakan dalam rangka mengatasi masalah kemiskinan, menegahkan kesamaan martabat manusia, mengusut tuntas kasus pelanggaran HAM, menuntut keadilan bagi mereka yang korban ketidakadilan, dan lain-lain. Karena itu, kita masih harus mempertanyakan kualitas moral dan iman kita, kita masih terus mempertanyakan rasa kepekaan dan kepedulian kita sebagai orang beragama terhadap mereka yang susah dan menderita, kita masih perlu selidiki nilai-nilai sosial yang selama ini dibangun.
Demi tujuan itu, ada beberapa hal yang menjadi penting untuk dicacat berkenaan dengan dunia sepak bola ini, yaitu: Pertama; prestasi dalam dunia sepak bola tetap dipertahankan namun prestasi dan semangat sportivitas itu perlu dinampakan juga dalam kemajuan bidang-bidang kemanusiaan lain. Kedua; pemerintah perlu transparan kepada masyarakat
Papua mengenai sumber dana serta total penggunaan dana bagi tim-tim sepak bola di Tanah Papua. Ini perlu demi menghindari kesan bahwa sebagian besar dana-dana APBD dan Otsus dihabiskan dalam dunia olaraga. Ketiga; pengunaan dana APBD  dan Otsus diusahakan tidak dihabiskan dalam kegiatan-kegiatan serimonial belaka tapi penggunaannya lebih dialihfungsikan pada kegiatan-kegiatan yang mengatasi masalah-masalah mendasar yang telah berakar dalam masyarakat. Keempat; kalau dana otonomi khusus tidak mampu mengatasi kemiskinan dan penderitaan rakyat Papua maka perlu dipikirkan untuk dana Otsus dibagikan per kepala bagi setiap orang asli Papua. Kelima; para penguasa tak hanya mengalihkan pandangan rakyat pada hiburan-hiburan sesaat, seperi olah raga, KKR, dan lain-lain tetapi lebih mengalihkan pandangan masyarakat untuk menyadari realitas kesusahan dan usaha-usahanya untuk bangkit dari keterpurukan hidup yang dialaminya.
Menurut hemat kami usaha-usaha ini penting demi menumbuhkan kehidupan yang lebih dewasa menuju masyarakat yang hidup sejahtera dan harmonis. Keenam; semua warga Papua perlu memiliki sikap kritis dan pekah terhadap realitas masalah di Tanah Papua agar kita tidak mudah terperangkap dalam pikiran dan pandangan penguasa yang terkadang menyepelekan masalah-masalah mendasarnya. Ketujuh; masalah-masalah mendasar yang terjadi di Tanah Papua ini merupakan tanggung jawab semua pihak dan karena kita semua perlu membangun sikap solidarias, kerja sama dan kekompakan untuk mengatasai berbagai masalah ekonomi, sosial, kesehatan, pendidikan dan sosial budaya. Usaha ini perlu dilakukan di segala lapisan masyarakat dan pada setiap lembaga, baik di lembaga formal maupun lembaga-lembaga non formal, baik lembaga-lembaga negeri maupun lembaga-lembaga swasta. Kini saatnya kita membuka mata terhadap segala keterpurukan hidup dalam aspek kemanusiaa, ekonomi, politik dan budaya sebagaimana kita membuka mata terhadap dunia olah raga.

(*) Penulis Mahasiswa Program Studi Pasca Sarjana STFT Fajar Timur
Abepura, Jayapura, Papua

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *