Dirantai Sakit Dalam Kekangan AIDS

 

 

Tentang Kisah Mereka

 

JUBI — Pria berusia 25 tahun itu tergolek lemah ditempat tidur Puskesmas Eci di Mappi. Kondisi badannya sangat kurus, mulutnya penuh dengan sariawan dan diare yang sudah 4 bulan tak henti-hentinya. Keluarganya bingung sekali saat itu. Lelaki itu dirawat selama 3 hari  sebelum menghembuskan nafas terakhir.

Pihak Puskesmas sebenarnya telah mencurigai bahwa lelaki tersebut mengidap HIV/AIDS. Tetapi sebelum ditest darahnya, pria itu telah meninggal. Petugas akhirnya mengambil sampel darah istri penderita – tetapi sebelumnya dikonseling dulu. Beberapa minggu kemudian hasil tes darah HIV/AIDS disampaikan dan ternyata si ibu positif.
Masih dari Merauke, Sofia Wawon, salah seorang ODHA, diketahui positif 2004 silam juga menjalani masa-masa sulit pada saat awal. Dia tidak mengetahui secara pasti darimana awalnya dirinya tertular virus mematikan itu. Awalnya, setelah diketahui teridap HIV/AIDS, dirinya sempat dikucilkan oleh keluarga dan lingkungannya. Namun, setelah 2 tahun kemudian, keluarganya mulai bisa menerima keadaan dirinya. “Penyebab saya tertular AIDS saya tidak tahu, namun yang pasti sejak umur 15 tahun saya sudah mulai masuk dalam kehidupan malam, mungkin disitulah awal saya tertular karena pergaulan bebas. Namun sebenarnya profesi saya bukan sebagai pekerja seks,” kata dia.

Dirinya menjalani test kesehatan pertama kali disebuah rumah sakit swasta di Merauke, Bunda Pengharapan. Rumah sakit tersebut adalah milik Keuskupan Agung Merauke. Setelah menjalani test, dirinya kemudian melarikan diri ke Tanah Merah, Kabupaten Boven Digoel karena merasa frustasi. Dalam tahun yang sama (2004) suaminya juga meninggal dunia akibat menderita HIV/AIDS. Sofia Wawon adalah salah seorang penderita HIV/AIDS yang sudah bisa dibilang terbuka kepada sesama dan lingkungannya. Ia sudah bisa menerima dirinya sebagai ODHA. Dia berharap semoga tidak lagi ada anak muda yang seperti dirinya.
Seorang ibu rumah tangga di Merauke yang tidak mau menyebutkan namanya juga menceritakan hal yang sama. Si ibu positif teridap HIV pada 2004 lalu dari suaminya yang telah meninggal pada tahun yang sama. Saat itu suaminya mengalami sakit yang sangat luar biasa. Dia akhirnya dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah Merauke. Namun tak bisa tertolong. Waktu masih hidup suaminya adalah seorang ODHA yang sangat aktif dalam berbagai kegiatan peduli ODHA. Ia bahkan pernah menjadi Ketua Forum CBS (Cenderawasih Bersatu). CBS adalah kelompok pembinaan ODHA di Merauke. Bahkan dalam berbagai pertemuan akbar termasuk kunjungan Ibu negara, Ani Yudhoyono, 2007 lalu sang suami ditunjuk sebagai pembicara mewakili para ODHA. Namun, semuanya itu sama sekali tidak berguna. Pada waktu meninggal, Kelompok Kerja (Pokja) HIV AIDS juga tidak mau datang melihatnya. Usahanya hanya sia-sia. “Suami saya hanya dijadikan bahan lelucon saja. Jujur saja, keluarga, terutama saya istrinya sangat kecewa dengan Pokja AIDS dan pelbagai pihak yang menangani masalah HIV/AIDS. Karena waktu masih kuat, suami saya selalu dipakai untuk berbicara di forum-forum dan banyak dana yang mengalir untuk ODHA, tetapi dana itu kemana? Saya tidak tahu,” ujarnya.
Si ibu kini hanya tinggal seorang diri. Awalnya keluarganya tidak mau menerima dirinya. Namun selang perjalanan waktu, keluarganya akhirnya bisa lunak menerima. Meski tidak sepenuh hati. Dia mengalami gejala awal yang sangat berat. Seperti gatal dan keputihan yang sangat luar biasa. Dokter yang menanganinya juga tidak semuanya peduli. “Yang bagus itu dr. Mala dan dr. Inge. Pelayanan mereka sangat baik dan teratur dalam cara memberikan obat, tes darah setiap enam bulan dan memberikan semangat, dukungan serta perhatian.” kata dia.
Sepenggal cerita tentang ODHA diatas sebenarnya menggambarkan kondisi diri, upaya untuk menerima diri sendiri, dan usaha menghadapi masa sulit saat ditolak keluarga. Tidak semua ODHA di Merauke seperti itu. Beberapa diantaranya bahkan meninggal  karena tidak bisa menerima keadaan diri sendiri. Lebih dari itu, HIV/AIDS ternyata telah masuk ke dalam masyarakat luas. Tidak lagi PSK yang menjadi sasaran HIV. Penularan yang luas didalam kalangan masyarakat diakui beberapa kelompok peduli AIDS. Kepala Puskesmas Eci, dr. Praptono mengungkapkan ada indikasi penyebaran HIV/AIDS telah sampai di wilayah-wilayah terpencil di pedalaman Papua.”Sebenarnya ada penduduk asli yang meninggal di kampung-kampung dengan gejala HIV/AIDS,” katanya.
Infeksi HIV di Papua memang lebih banyak diakibatkan oleh perilaku hubungan seks yang tidak aman. Dalam prediksi sejumlah LSM peduli AIDS termasuk Yayasan Matahari Kehidupan di Merauke, 2008, mengungkapkan kecenderungan peningkatan HIV/ AIDS ini akan terus meningkat pada setiap empat tahun sekali. Hal ini dipengaruhi salah satunya oleh semakin bertambahnya penduduk yang tidak terkontrol. Mobilitas penduduk ke kampung dan ke kota yang bisa menjadi sarana penularan HIV terus merangkak naik. Semakin bertambahnya beberapa tempat pelacuran ilegal dan tersembunyi termasuk penggunaan kondom yang masih minim. Selanjutnya, pemekaran wilayah administratif di Papua Selatan juga menjadi faktor pendukung tidak langsung dalam penyebaran HIV/AIDS. Sehingga sangat dikhawatirkan penyebaran epidemi baru serta kasus AIDS yang dirawat akan bertambah banyak. Kematian akibat AIDS di antara kelompok penduduk usia produktif akan terus meningkat dan diprediksi akan terjadi kematian masal terhadap penduduk Papua Selatan asli yang kini hanya sebesar 30 % atau 184.172 orang (Sumber dari BPS Papua 2006)
Henny Astuti Suparman, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS daerah Merauke mengatakan, dari semua data yang telah dikumpulkan diketahui, laki-laki lebih banyak tertular HIV/AIDS dibandingkan wanita. Jumlah yang tercatat tersebut sebenarnya jauh lebih kecil dari prevalensi yang sesungguhnya, dikaitkan dengan adanya fenomena gunung es. Pada tahun 2008 di Papua Selatan diperkirakan jumlah orang yang terinveksi HIV akan berkisar antara 40.000-60.700 orang.  ”Ini karena HIV telah masuk ke dalam kalangan masyarakat. Sehingga sangat sulit untuk dikontrol,” ujarnya.
Lepas dari prediksi itu, tingginya HIV/ AIDS ini terjadi karena beberapa sebab utama, Pertama rendahnya pengetahuan akan kesehatan reproduksi, baik laki-laki maupun perempuan. Rendahnya pengetahuan disebabkan oleh beberapa hal selain pendidikan juga sosialisasi akan pentingnya kesehatan reproduksi yang kurang bagi masyarakat. Hanya beberapa tahun terakhir ini saja, sosialisasi cukup gencar dilakukan di Merauke. Saat ini hampir di setiap kota menjamur Baliho besar yang berisi tentang pencegahan HIV/AIDS. Faktor kedua adalah perilaku gonta-ganti pasangan seksual. Hal ini secara khusus banyak dilakukan oleh kaum laki-laki, yang akhirnya menularkan ke pasangan seksualnya. Perilaku seksual yang berganti-ganti itu menjadi faktor utama pemicu hubungan seksual yang tidak aman. (Jerry Omona)
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *