Mungkinkah Persipura Menjadi Penetralisir Konflik di Papua?

 
JUBI — Walau di Pulau Jawa beberapa jadwal ISL waktu lalu ditunda, tetapi di Wamena dan Jayapura, kompetisi tetap berjalan. Ini artinya sepak bola telah memberikan rasa aman bagi warga. Namun dibalik itu, dia juga bisa menjadi sumber pemicu pertikaian manakala tim kesayangan dikalahkan tim lawan.

Sepak bola menjadi populer karena sangat mudah dan sederhana untuk dimainkan. Disitu juga ada kepuasaan saat “dirinya” menjadi pilar pendamai. Tak pelak, hal ini menjadikan sepak bola menjadi sebuah kebanggaan dan identitas dari suatu bangsa. “Sepak bola memang bisa mempererat rasa persatuan jika kesebelasan kebanggaannya menang. Contohnya Persipura. Dia menjadi milik semua warga Papua karena prestasinya. Dia juga mampu mempersatukan seluruh warga dan menjadi kebanggaan,” ujar Markus Haluk, Sekjen Mahasiswa Pegunungan Tengah Seluruh Indonesia kepada JUBI pekan lalu. Baginya, dengan sepak bola, warga dibelahan bumi lain akan bisa mengenal Papua. Saat Persipura berlaga nanti di Liga Champion Asia, ini pasti akan terjadi. Secara otomatis Persipura akan semakin dikenal di kancah sepak bola bergengsi itu. Saat itu, penonton juga akan mengetahui tentang suburnya “Tanah Cenderawasih”
Pernyataan Haluk kiranya selaras dengan beberapa pendapat yang mengatakan sepak bola adalah cita-cita, harapan dan sumber motivasi suatu bangsa. Sepak bola adalah agama baru dan pandangan hidup suatu bangsa. Pendapat ini berujung pada sebuah gurauan untuk Persipura. “Jika ada pertandingan sepak bola di Mandala dan Persipura berlaga, saat itu, stadion “Merah Hitam” penuh dengan lautan manusia. Ya, ibarat sebuah Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) yang berisikan pertandingan sepak bola”.
Namun terkadang sepak bola juga bisa menimbulkan ketegangan antar negara, atau menyebabkan jatuhnya korban jiwa akibat fanatisme yang berlebihan. Dalam setiap laga kandang Persipura, konflik horizontal antar suporter kerap juga terjadi. Meski tidak sebesar yang terjadi pada pertandingan di Pulau Jawa. Ini telah membuktikan bahwa kekerasan yang terjadi dalam pertandingan sepak bola merupakan “tragedi” yang harus dilenyapkan. Sepertinya tidak tepat juga apabila “Bintang Kejora” dinaikan saat Persipura menang. Euphoria semacam ini mungkin perlu dilihat sebagai langkah yang salah kaprah.
Apa yang terjadi dalam kompetisi bergengsi di tanah air ini seolah-olah mengkonfirmasi anekdot yang lama beredar di masyarakat. Mungkin juga untuk Persipura. “Apa perbedaan antara sepak bola dan tinju? Bedanya adalah, kalau dalam pertandingan tinju, tidak ada orang yang bermain sepak bola. Tetapi dalam pertandingan sepak bola, banyak yang bermain tinju”. Inilah buktinya. Konflik dan kekerasan terjadi dalam ragam relasi.  Bisa konflik antar pemain, antar klub, antar pemain dan wasit, antar pemain dan penonton dan  yang paling sering terjadi, antar penonton dan penonton.
Mengapa pertandingan sepak bola amat rentan konflik dan kekerasan? Mengapa tim raksasa sekelas Persipura sangat sulit untuk menetralisirnya?. Tidak bisa dipungkiri, jawaban terdepan adalah karena cabang ini amat diminati masyarakat. Suatu kekuatan sekaligus ancaman. Hampir tidak ada cabang olahraga yang mempunyai stadion dengan kapasitas tempat duduk penonton melebihi sepak bola. Pertandingan yang dimainkan tim legendaris seperti Persija, PSIS, Persib, Persebaya, Arema dan Persik yang disaksikan puluhan ribu penonton juga menyisahkan “Pertarungan Kekerasan” ini. Antitesis dari kepuasan yakni kekecewaan. Itulah salah satu sumber konflik dan kekerasan. Hal inilah yang menjadi pemicu kerusuhan di Stadion Brawijaya Malang beberapa waktu lalu. Konflik horizontal itu dilatari kekecewaan terhadap kepemimpinan wasit dan asistennya yang menganulir tiga gol yang dilesakkan pemain Arema Malang.   
Sepak bola mirip dengan politik. Benarlah apa yang dikatakan pemikir politik, Harold Laswell, “Who gets what, when and how” (1972). Artinya, sepak bola merupakan ranah sarat kepentingan. Bukan saja publik tetapi juga pemerintah daerah, pemilik klub plat merah juga sponsor dan pihak swasta serta pendukung seperti Pemilik Arema, Pabrik Rokok Bentoel. Dengan ragam kepentingan dalam ranah kompetisi ketat terbatas maka konflik kepentingan berpotensi menimbulkan konflik horizontal.
Sepak bola juga rentan konflik dan kekerasan karena penyelenggaraannya telah diparadigma secara reduktif. Hanya soal menang-kalah. Sehingga mirip dengan kekuasaan politik, dan cenderung menghalalkan segala cara. Karena itu, kerap, kekerasan dan cara-cara premanisme digunakan asal dapat mencapai apa yang diinginkan. Sebagai contoh, guna menghentikan laju striker berbahaya, pemain belakang terkadang sengaja melakukan tackling kaki, dan bukan tackling bola. Tujuannya untuk mencederai lawan secara permanen dan mengakhiri karir lawan dalam sepak bola. Cara-cara premanisme juga ditemukan dalam kasus suap seperti pengaturan skor. Ini bahkan menghinggapi sepak bola sekelas Liga Italia. Penggunaan cara kekerasan dan premanisme demikian, tidak jarang mengundang dan diselesaikan oleh cara kekerasan lainnya.
Memang selayaknya sepak bola harus menjadi ranah dalam mempertontonkan demokrasi dan moralitas. Kemenangan dan nilai-nilai-nilai moral tidak boleh diparadigma dalam model relasi dikotomis. Para pelaku sepak bola harus berani menetapkan hati bahwa kemenangan tanpa moral-etika bukanlah merupakan kemenangan sejati. Sepak bola bermoral juga berarti penyelenggaraan yang ruled by law. Karena itu, pemukulan terhadap wasit, terlepas dari ketidakbecusan kepemimpinannya, harus diparadigma sebagai perlawanan terhadap otoritas hukum, karena sebenarnya terdapat mekanisme hukum. Sepak bola bermoral, salah satu wujudnya adalah penghormatan terhadap wasit dan hakim garis sebagai representasi hukum dilapangan hijau.

Tentang Persipura
Persipura menapaki sejarah panjang sebelum menjadi juara dalam liga ISL. Persatuan Sepak bola Indonesia Jayapura ini, didirikan pada tahun 1950. Ketua Umumnya, Drs. MR. Kambu, M.Si dengan pelatih, Jacksen Ferreira Tiago. Persipura dengan Kemenangan memang sangat dekat. Prestasinya ditorehkan semenjak 1976 saat menjadi Juara Perserikatan (Menang 4-3 atas Persija di Final). Pada 1979 dan 1993, Persipura juga menjuarai divisi satu. Prestasinya terhenti disini. Waktu yang sangat lama bagi Persipura tidak memenangi pertandingan. Sepuluh tahun kemudian, 1990, tim Mutiara Hitam kembali muncul dengan masuk sebagai Runner –up dalam perserikatan.
Prestasinya mulai menanjak setelah 1993. Pada 1995, Persipura masuk dalam peringkat ke-8 Wilayah Timur (Liga Indonesia) dan Semifinalis (Liga Indonesia) setahun sesudahnya, 1996. Kemenangan terus mengikutinya pada 1997 dengan masuk pada 12  besar Liga Indonesia. Pada 1999, tim “Samba Dari Timur” kembali memecahkan peringkat ke empat Liga Indonesia di Wilayah Timur. Terus hingga peringkat lima pada 2000 dan tujuh pada 2001 dalam Liga Indonesia Wilayah Timur. Pada 2002, Mutiara Hitam lolos dalam delapan besar Liga Indonesia. Setahun setelahnya, 2003, tim pimpinan Ivakdalam ini meraih peringkat lima besar. Namun naas pada 2004 dengan turun menjadi 13 besar. Pada 2005, Persipura membuktikan dirinya bisa memegang tropi. Dia menjuarai Liga Indonesia (Menang 3-2 atas Persija di Final). Prestasinya berturut-turut kemudian adalah menjadi peringkat ke-9 Wilayah Timur pada 2006, menjadi semifinalis pada 2007 dan akhirnya menjadi juara paruh musim dalam Super Liga Indonesia.
Persipura benar-benar menyempurnakan suksesnya meraih gelar juara Superliga edisi perdana. Prestasinya juga menorehkan bomber andalannya Boaz Salosa sebagai pemain terbaik. Tidak hanya itu, pemilik nama lengkap Boaz Theofilius Erwin Salossa ini sukses menjadi bomber tersubur di pentas Super Liga dengan koleksi 28 gol sepanjang musim. Hanya saja, untuk kategori pencetak gol terbanyak, Boaz tidak sendiri. Disitu juga ada Cristian Gonzales dari Persib Bandung. Bagi Boaz, ini merupakan kali pertamanya menjadi pencetak gol terbanyak, setelah dalam beberapa musim terakhir selalu didominasi pemain asing. Meski demikian, hasil yang diraih pemain yang akrab disapa Boci ini tetap mengejutkan. Ia bisa tampil dan menjadi kesohor. (Tim JUBI/Dari Berbagai Sumber)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *