Patah Kaleng, “Street Football” Ala Papua

 
JUBI — Meski telah berusia uzur, namun permainan “Patah Kaleng” tetap menjadi idola. Bagi anak muda Papua, Patah Kaleng merupakan permainan football yang mensinergikan budaya dan ketangkasan luar biasa.

Pieter Werbekay mantan pemain belakang Persipura, Theodorus Bitbit mantan pemain Pelita Jaya, bahkan Ian Luis Kabes, pemain Persipura adalah alumni dari SD YPK Paulus Dok V Jayapura yang sangat menyenangi permainan ini. Patah Kaleng bagi mereka sudah tak asing. Semenjak dulu mereka telah mengenalnya dengan bermain menggunakan dua buah kaleng yang diletakkan pada dua sisi. Kaleng yang digunakan bisa apa saja. Termasuk bekas minuman Cocacola. Permainan ini kemudian telah mengantar mereka menjadi “Petarung” dalam football sesungguhnya. Mereka juga terkenal.
Sepak bola Patah Kaleng lazim ditemui hampir di seantero Papua. Biasanya dimainkan oleh bocah berusia belasan tahun. Pada beberapa bagian, kerap dimainkan juga oleh remaja. Patah Kaleng seperti sepak bola jalanan yang lain di Papua, bertujuan tidak hanya untuk kegembiraan semata. Disitu ada upaya memandirikan mereka untuk tidak terlibat dalam kegiatan menyimpang. Sepertinya hal ini selaras ketika lembaga amal Football for Hope, sebuah wadah kerja sama Badan Sepakbola Dunia (FIFA) dan Organisasi Sepakbola Jalanan Dunia, berinisiatif membuat program bernama Chigol. Program yang mencoba menjauhkan anak-anak Chile dari bahaya kejahatan. Chigol merupakan sebuah proyek sepakbola jalanan yang bertujuan menguatkan hubungan dan pengawasan sosial. Chigol juga mendorong anak-anak dan remaja Chile agar selalu sehat dalam kondisi fisik dan pikiran. Chigol bisa juga menangani masalah keluarga termasuk masalah ekonomi. Hal ini diwujudkan dengan penyediaan dana bagi warga yang ingin mengembangkan usahanya. Program ini setidaknya memberi harapan bagi anak-anak Chile untuk menatap masa depan dengan penuh impian. Beda dengan Chigol, Patah Kaleng tak memiliki dana. Tidak juga disediakan oleh pemerintah. “Kitong senang main Patah Kaleng karena tara ada bola out dan bisa putar atau gocek di belakang kaleng atau gawang,” ujar Boy Mandosir saat bermain Patah Kaleng dihalaman Kantor Ranting PT PLN Abepura, pekan lalu.
Patah Kaleng merupakan permainan tradisional warga Papua. Luas lapangan saat dimainkan tidak ditentukan. Bisa setengah lapangan bola sesungguhnya, bisa juga dengan ukuran yang sangat kecil. Kaleng, kerap menggunakan bekas minuman atau makanan, diletakkan pada kedua sisi. Dimainkan oleh dua kelompok dengan jumlah tak beraturan. Tidak ada wasit juga hakim garis. Waktu permainan tidak diatur. Bisa 2 jam, bahkan 3 jam. Bolanya dari apa saja. Yang penting berbentuk bulat, ringan dan bisa ditendang. Skor antara dua kelompok terkadang melebihi dari 5. Gol bagi mereka adalah ketika bola yang ditendang mengenai dan menjatuhkan kaleng. Disitulah kegembiraan itu muncul. Kala matahari terbenam, kedua kelompok akan pulang. Permainannya dilanjutkan pada keesokan harinya dengan melanjutkan skor yang telah diperoleh. Simple dan tidak membutuhkan aturan. Akibatnya, “pertarungan” Patah Kaleng tak sedikit memberi hadiah luka pada pemain. Ada yang terpesosok, mengaduh kesakitan, tapi ada juga yang enjoy saja. Patah Kaleng di Asmat dimainkan dilumpur. Di Asmat tidak ada lapangan yang dapat digunakan untuk permainan ini. Asmat hanya ada jembatan dan air.
Kini, Patah Kaleng di Papua telah mengalami goncangan akibat munculnya Futsal. Namun bagi beberapa orang, Patah Kaleng tetap mengasyikan. Disitu ada semangat, kebersamaan dan teknik jitu untuk melewati belasan pemain yang saling berebutan bola. Sepak Bola sendiri memiliki sejarah panjang. Dulu, sepak bola tradisional, seperti Patah Kaleng di Papua, ternyata telah dimainkan di China sejak tahun 206 SM. Saat itu disebut sebagai Cu Ju. Bolanya berupa kulit yang diisi rambut. Di jaman Yunani Kuno, sekitar abad ke-2 SM, permainan ini dimainkan dengan cara memukulnya dengan tangan dan boleh ditendang saat bola menyentuh tanah. Sepak bola saat itu dikenal dengan nama Episkuros atau Harpaston. Harpaston memakai bola yang tidak lebih baik ketimbang bola isi rambut, bolanya diisi “bulu” binatang. Saat Kaisar Romawi Julius Caesar “berkunjung” ke sejumlah negara, olahraga ini kemudian mulai dikenal. Bahkan di Eropa Tengah, sepak bola dijadikan permainan rakyat yang disebut Melees atau Mellays. Bolanya tidak lebih baik, malah menjijikkan, kantung kemih hewan. Permainan ini di Romawi, lebih dikenal dengan nama Harpastrum, pernah dilarang karena dianggap brutal oleh dua penulis Romawi pada jaman itu, Horatius Flaccus dan Virgilius Maro.
Sekitar abad ke-8 sepak bola mulai dikenal di Inggris. Bahkan ada hari sepak bola tradisional guna memperingati keberhasilan mereka mengusir musuh. Ratu Elizabeth I sempat khawatir para prajurit lupa berlatih karena terlalu sering bermain bola. Karena terlalu ribut, pada April 1314, raja Edward II, menyebut sepak bola sebagai “permainan setan.” Salah satu yang paling mencengangkan yakni, bola yang digunakan adalah tengkorak musuh. Sekitar tahun 1700-an, Joseph Struut menulis dalam bukunya “The Sports and Pastimes of The People England” tentang aturan permainan sepak bola modern yang tertib dan teratur serta tidak mengandung unsur kekerasan. Sebenarnya peraturan tersebut merupakan hasil penyempurnaan yang sebelumnya pernah ditulis oleh Richard Mulcaster, dalam “Position Where in Those Primitive Circumstanes be Examined”.
“Saya paling suka goreng (Melewati lawan–Red) dua sampai tiga pemain lawan,” ujar Boy. Bagi Roberth Wanggai, wartawan olahraga yang juga pernah menikmati sepak bola Patah Kaleng, idealnya permainan Patah Kaleng selalu menggunakan bola kecil ukuran tennis lapangan. Pasalnya, bentuk bola kecil ini mampu menembus celah kaki pemain lawan dan dapat menjatuhkan kaleng. Meski Patah Kaleng memiliki kelebihan dalam possession football tapi terdapat pula kelemahannya. Antara lain, para pemain hanya memperhatikan bola sehingga tidak melakukan gerakan tanpa bola. Pemain juga tak menjaga posisi lawan. Terlebih lagi dalam Patah Kaleng semua aturan bola seperti out side, bola out, tendangan pojok, tidak berlaku terkecuali kalau terjadi hands ball. Disitulah ada tendangan bebas. Intinya, Patah Kaleng adalah bagaimana menendang bola dari segala penjuru agar kaleng tersebut bisa jatuh atau patah karena sentuhan bola. Celakanya, permainan ini juga sering menimbulkan perkelahian. Adu bogem selalu timbul jika kelompok lawan tak menerima jika kalengnya terjatuh.
Model permainan bola Patah Kaleng lebih mengutamakan kolektifitas. Dimana pemain menyerang secara bersama dan juga bertahan bersama. Disinilah, permainan Patah Kaleng melahirkan skill individu. Mungkin Total Football pola permainan tim Belanda serupa bagi permainan patah kaleng yang tak mengenal ruang sempit maupun lebar. Total football pertama kali dipertontonkan oleh pelatih Belanda, Rinus Michhel  dengan sistem permainan menarik. Tetapi memahami Total Football ternyata tidak segampang yang diduga. Pola permainan ini jelas bertumpu pada fleksibilitas pertukaran posisi pemain yang mulus. Posisi pemain sekadar kesementaraan yang akan terus berubah sesuai kebutuhan. Karenanya, semua pemain dituntut untuk nyaman bermain disemua posisi.
Penjelasan paling memuaskan tentang Total Football, ditulis oleh seorang penulis Inggris yang tergila-gila dengan sepakbola Belanda, David Winner. Winner menulis bukunya, “Oranye Brilian – Jenius dan Gilanya Sepakbola Belanda”. Winner tidak membahas sepakbola semata. Menurutnya, Total Football hanyalah pengejawantahan ‘’psyche’’ paling dasar warga Belanda dalam memahami kehidupan. Benang merah Total Football juga ada dalam karya seni, arsitektur, dan bahkan tatanan sosial budaya masyarakat Belanda.
Total Football, demikian jelas buku itu, adalah persoalan ruang dan eksploitasinya, bukan yang lain. Fleksibilitas posisi pemain, pergerakan pemain, semuanya adalah konsekuensi dari upaya untuk menciptakan ruang agar bisa dieksploitir semaksimal mungkin. Prinsip dasarnya sebenarnya sangat sederhana. Besar kecilnya lapangan sepakbola walau ukurannya sama, tetapi dibenak bisa berubah tergantung siapa yang bermain didalamnya. Mungkin juga Patah Kaleng bisa dikategorikan disini. Ia adalah permainan sepak bola khas Papua yang tidak mengenal luas lapangan. Dalam lapangan sekecil apa pun permainan bola Patah Kaleng bisa saja dimainkan sesuai keinginan anak-anak SD di seantero tanah Papua. (Dominggus A Mampioper/Jerry Omona/Ronald Manufandu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *