Perayaan Mistis Ditengah Sentuhan Modernisasi

 

 

Pesta Ulat Sagu di Asmat

 

JUBI — Lantai Jew, rumah panggung Asmat yang tingginya 2 sampai 3 meter itu berayun teratur. Bunyi tifa (perkusi khas Papua) yang ditabuh sembilan lelaki Kampung Ewer pun terus menggema. Pesta mistis itu akan segera dimulai.

Asmat merupakan salah satu dari 251 suku yang ada di Papua. Di selatan Papua, Asmat berada dalam jajaran suku besar disamping Marind, Awyu, Muyu dan Mandobo. Karakternya keras. Semangat kegotongroyongannya tinggi. Adatnya juga terkenal hingga ke penjuru bumi. Apalagi tentang keunikan dan kelihaian mengukirnya. Sudah sangat terkenal. Ukiran bagi suku Asmat bisa menjadi penghubung antara kehidupan masa kini dengan para leluhur. Di setiap ukiran bersemayam citra dan penghargaan atas nenek moyang mereka. Patung dan ukiran umumnya dibuat tanpa sketsa dan dikerjakan oleh lelaki. Bagi lelaki Asmat, kala mengukir patung, disitulah mereka berkomunikasi dengan leluhur di alam lain. Itu dimungkinkan karena mereka mengenal tiga konsep dunia. Amat ow capinmi (alam kehidupan sekarang), dampu ow campinmi (alam pesinggahan roh yang sudah meninggal), dan safar (surga). Orang Asmat percaya sebelum memasuki dusurga, arwah orang meninggal akan mengganggu manusia. Gangguan bisa berupa penyakit, bencana bahkan peperangan. Demi menyelamatkan manusia serta menebus arwah, mereka yang masih hidup membuat patung dan menggelar pesta. Misalnya pesta patung bis (Bioskokombi), pesta topeng, pesta perahu dan pesta ulat sagu.

Pesta ulat sagu biasanya dibuat didalam Jew setiap tahun. Pernah juga dibuat di Ewer, dua tahun silam. Didalam Jew, semua orang memiliki hak berbicara, tetapi pantang berbohong. Semua pembicaraan, perdebatan, bahkan makian, dilontarkan untuk menyepakati solusi dari suatu masalah atau konflik di kampung. Dalam pembicaraan itu, perempuan dilarang masuk. Jew atau rumah bujang ini memiliki sebuah tungku utama dan sejumlah tungku lain yang mewakili rumpun suku Asmat. Di rumah adat yang berbentuk memanjang sekitar 25 meter itulah, seluruh persoalan kampung dibicarakan.

Pesta Dimulai
Sinar matahari menyerempet perlahan menembus sela kayu penyangga Jew. Bayangan mereka yang menari terlihat agak memanjang. Peluhnya dibiarkan mengalir. Siang itu, pekikan khas perempuan Ewer disertai tarian mereka semakin menambah semarak dimulainya pesta Ulat Sagu. Pesta ini hanya bisa dilakukan seusai pendirian jew baru atau sesudah perbaikan sebuah Jew. Hari itu, ratusan perempuan menari, ikut menikmati syair yang dinyanyikan sembilan penabuh tifa. Di sela setiap syair, mereka bergurau, berkejaran, dan sejenak melupakan penat akibat rutinitas hidup. Sehari-harinya kaum perempuan itu biasanya berperahu sejauh puluhan kilometer untuk mencari makan di hutan. Mereka juga harus merawat anak, bahkan mencari pekerjaan sampingan untuk menambah uang untuk kebutuhan keluarga.
Upacara ulat sagu bukan pesta yang bisa digelar dadakan. Sejak dua bulan sebelumnya, para tetua adat rumpun telah berembuk di Jew, menghitung hari baik untuk upacara tersebut. Mereka juga berunding menyepakati hari tebang sagu. Biasanya, upacara itu ditetapkan sekitar lima atau empat pekan sebelum digelar. Saat tiba waktunya, setiap keluarga akan menebang belasan pohon sagu di hutan. Setelahnya, tebangan tersebut dibiarkan membusuk dan dipenuhi ulat sagu. Ulat sagu inilah yang dipanen pada hari upacara dilangsungkan. Panjangnya berkisar 50 cm dengan diameter 12 cm. Saat dipanen, ulat sagu dibungkus dengan menggunakan pelepah sagu segar. Hiasannya dengan anyaman dedaunan. Bisa juga dibaluri dengan tepung sagu hingga menyerupai lemper. Dalam upacara itu, ulat sagu akan diserahkan ke perempuan Asmat.
Sesudah seluruh perempuan Asmat menerima persembahan itu dari ipar dan menantu mereka, ratusan lelaki kemudian akan mengantre untuk menuangkan ulat sagu ke dalam sebuah kerucut terbalik. Terbuat dari pelepah sagu. Kerucut setinggi dua meter itu penuh dengan ulat sagu. Pesta ini akan berakhir setelah sejumlah lelaki Asmat mengaku tentang sebagian kepala yang pernah di-ayau-nya pada masa lampau. Atas setiap kepala yang di-ayau, sebuah tali pengikat kerucut pelepah sagu dipotong. Sampai akhirya kerucut pelepah sagu pun terurai. Satu demi satu ulat sagu berjatuhan di lantai. Ulat sagu dipungut, dan pesta menyantap sagu pun dimulai.

Jauh Berubah
Dari aspek klimatologi, iklim di Kabupaten Asmat cukup bervariasi. Mulai dari daerah beriklim kering di pantai selatan hingga daerah beriklim basah di bagian utara, dimana sebagian wilayahnya dibentengi oleh kaki pegunungan Jayawijaya. Seluruh wilayahnya dipayung oleh hijaunya hutan rimba tropis baik hutan PPA (Perlindungan dan Pelestarian Alam) hutan lindung, hutan produksi terbatas hutan produksi maupun hutan produksi konversi yang meliputi lebih dari 85% luas, Kabupaten Asmat.
Orang Asmat hidup di dua area. Disepanjang tepi pantai dan dipedalaman. Dua kelompok masyarakat ini memiliki perbedaan dialek bahasa, cara hidup, struktur sosial dan pesta ritual. Mereka tersebar di kampung-kampung sekitar 27.000 kilometer persegi dengan kondisi tanah berawa dan digenangi air pada musim penghujan. Sebelum para misionaris dan ekspedisi asing datang ke wilayah ini, sekitar tahun 1950 hingga 1960-an, mereka adalah suku yang belum terjamah oleh peradaban modern. Namun kini berbeda. Kehidupannya telah berubah dengan kehadiran banyaknya pendatang. Pendatang termasuk para pedagang dan pegawai pemerintahan diam di kota kabupaten maupun distrik. Asmat dipimpin oleh seorang putra daerah, Yuvensius A. Biakai.
Perubahan dalam kehidupan orang Asmat ditandai dengan makin banyaknya sarana transportasi yang dibangun. Tidak hanya itu. Sepeda sebagai alat transportasi di kota Agats, ibukota kabupaten Asmatpun mulai menjamur. Padahal dulunya tidak ada. “Orang mau marah bagaimana? Sekarang Agats semakin besar,” kata kurator Museum Kebudayaan dan Kemajuan Asmat, Erick Sarkol. Di rumah Sarkol juga terdapat satu sepeda yang pada masa lampau dikenal sebagai kereta angin. Seperti kebanyakan sepeda yang berseliweran di Agats, sepeda miliknya dilengkapi dengan lengan ayun roda belakang berperedam kejut, bak motor trail. Garpu roda depan sepeda juga berperedam kejut sehingga sepeda tetap nyaman dikendarai diatas papan kayu yang tak rata. Bersepeda di Agats memang membutuhkan keterampilan lebih lantaran papan kayu besi yang basah sehabis hujan atau terkena embun pagi selalu licin. Beberapa hari lalu Sarkol terpeleset di antara sesaknya pejalan kaki. “Bersepeda di Agats hanya punya dua pilihan, kita naik sepeda atau sepeda naik kita,” kata Sarkol tertawa lebar.
Apa pun itu, toh, warga Agats kini suka bersepeda. Di rumah salah satu karyawan Museum Asmat, Jhon Ohoiwirin, juga terdapat satu sepeda, meski jalan masuk ke rumahnya berupa jalan panggung dengan lebar 40 sentimeter dan panjang 10 meter. “Kalau mau bersepeda harus dituntun dulu sampai ke jalan umum. Saya juga tak berani mengayuh sepeda di atas papan jalan masuk ke rumah. Takut jatuh,” katanya.
Agats sekarang memang jauh berbeda dengan Agats tempo dulu. Pada masa lalu, banyak bagian tanah rawa yang mengering sehingga pada tahun 1950-an seorang pemburu buaya terkenal, Willem Farneubun, bisa berkeliling wilayah itu dengan bersepeda motor. Kini, Agats bukan hanya memiliki rumah panggung, tetapi juga “jalan panggung”. Budaya pesta ulat sagu semakin berada ditengah-tengah shock budaya itu. Perayaan mistik yang membumi seperti ukirannya makin hari makin terpojok. Namun Jew tetap bertahan. Tariannya juga masih tetap memukau. (Jerry Omona/Dari Berbagai Sumber)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *