Persipura, “Obat Generik” Bagi Papua

 
JUBI — Ribuan warga berpakaian merah tumpah ruah memerahi jalan-jalan utama di Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura. Mereka menyambut kedatangan tim kebanggaan masyarakat Papua, Persipura Jayapura. Persipura telah dianggap sebagai “Obat Generik” bagi ribuan jiwa ini.

Ya, disaat UU Otsus kacau balau dan carut marut, ternyata pasukan Persipura mampu mengembalikan semangat anak muda Papua yang selama ini pudar. Ia ibarat obat generik, penyembuh luka lama yang telah lama disayat sedikit demi sedikit. Walau luka itu belum sembuh benar, kemenangan Persipura telah mengurangi rasa sakit yang telah lama diderita. Tak heran kalau ribuan warga di Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura, termasuk Kabupaten Keerom akhirnya tumpah ruah ke jalan-jalan utama, khususnya yang menghubungkan Kota Sentani (ibukota Kab Jayapura) dengan Pusat Kota Jayapura ketika menyambut kedatangan Sang Jawara Indonesia Super League (ISL) 2008-2009, Persipura.
Bahkan dua pertandingan sisa sejak melawan PSMS Medan yang berkesudahan 1-0, disesaki pula oleh ribuan warga dari seluruh Papua. Mereka datang hanya untuk menyaksikan secara langsung aksi anak-anak Persipura saat berlaga. Begitu pula pada 10 Juni lalu. Ribuan warga Papua ini berpesta dengan kemenangan itu. Puluhan truk dari Kabupaten Sarmi dan dua kapal putih yang sandar di Kota Jayapura ikut membawa warga dari seluruh tanah Papua.
Guru TK Lila Rumsarwir, yang ditemui JUBI mengakui,  Persipura memiliki daya hipnotis yang demikian kuat. Sehingga mampu membuat anak-anak sekolah tidak mau bersekolah. Ia menjelaskan, semua anak-anak TK yang diajarkannya di sekolah memilih untuk menyaksikan Persipura. Memang Persipura telah memberikan hiburan bagi sebagian besar masyarakat Papua untuk bersama membagi rasa suka dan bangga atas torehan prestasi anak-anak asuhan JF Tiago.
Pelatih Persipura, Jacksen F. Tiago sendiri yang ditemui di home base-nya di Hotel Relat Indah, Argapura, mengakui  tidak menyangka warga akan memberikan sambutan atas kemenangan mereka dengan meriah. Ia mengatakan, keberhasilan ini berkat dukungan doa dan moril dari seluruh warga masyarakat di tanah Papua. Ia juga optimis anak-anak asuhnya akan menampilkan permainan terbaik dan tercantik mereka untuk menghadiahi rakyat Papua dengan setiap kemenangan.
Ya, sepak bola merupakan kebanggaan dan potret jatidiri. Dengan kemenangan ini Persipura Jayapura akhirnya  menjadi “obat generik” yang diyakini mampu mengobati luka-luka Papua atas berbagai fenomena yang terjadi selama ini. Ketika Otonomi Khusus (Otsus) Papua kacau-balau, cuma Mutiara Hitam yang bisa angkat kitong pu harga diri, demikian ungkapan sekretaris Jenderal Presidium Dewan Papua  (PDP) Thaha Alhamid pada sebuah spanduk berukuran besar yang terpampang di depan Kantor Majelis Muslim Papua di Abepura. Thaha menyebut Persipura sebagai  “Pasukan Malaikat”  yang mampu membuat rakyat Papua tersenyum.

Yosim Samba dari Ufuk Timur

Dua ratus penari Yosim Pancar dari setiap sanggar di Kota Jayapura mengawali pertandingan akhir Indonesia Super Liga (ISl) 2009 antara Persipura Jayapura juara ISL 2009 melawan juara bertahan ISL 2008 Sriwijaya FC di Stadion Mandala. Tarian Yosim Pancar ini tampil sebagai simbol kemenangan anak-anak Mutiara Hitam memperoleh hasil buruannya setelah pulang dari laga pertandingan. Ya, anak-anak asuhan JF Tiago telah memperoleh hasil buruan mereka berupa mahkota juara ISL 2009. Bukan Yosim Pancar saja yang tampil, tarian Mambri dari kebudayaan Saireri ikut pula  menyemarakkan suasana siang, Rabu pekan kemarin di Stadion Mandala yang dipandang 30.000 pasang mata.
Andaikata Mandala sebuah kapal tentunya ia tak mampu membawa seluruh warga dari Papua ini. Sorong, Manokwari dan 400 suporter Persipura dari Biak Numfor datang untuk melihat langsung para pemburu mahkota Persipura. Dan akhirnya, dalam laga tersebut, Persipura kembali menang dengan melibas Sriwijaya FC 4-1. “Saya sangat terkesan dengan semua peristiwa ini,” tegas Tiago.
Tim Samba dari Timur ini bermain cantik bak Cenderawasih. Sehingga pantaslah mereka menang. Julukan itu tidaklah salah. Sama juga ketika anak-anak Brazil bermain bola, mereka akhirnya dijuluki pemain Samba karena bermain dengan lihai seperti sebuah tarian khas Brazil di mana seorang penari mampu menggerakan seluruh tubuhnya secara luwes mengikuti irama musik. Ciri khas musik Afrika, maupun Papua dan Brazil selalu menonjolkan tabuhan genderang atau perkusi dalam musik modern. Pukulan tifa bertalu-talu mengiringi goyangan pinggul dan kaki para penari Papua. Gerakan ini berakar pada para pemain kulit hitam dimasa lalu di Brazil. Saat itu mereka menciptakan trik-trik dan dan gerakan khusus untuk menghindari kontak fisik langsung dengan pemain kulit putih. Pasalnya, pada jaman dulu kontak langsung sangat dilarang. Hal ini menyebabkan para pemain  kulit hitam lebih mampu memperagakan kelincahan tubuh dan tipuan serta menonjolkan kemampuan individu dari pada mengandalkan kekuatan fisik dalam bermain bola.
Gaya permainan Samba Brazil ternyata juga sesuai dengan capociera, sebuah seni bela diri yang diciptakan oleh budak-budak dari Angola, Afrika. Tak heran kalau Jeremiah, Victor dan Bio Pauline memperagakan permainan cantik mereka dilapangan. Mungkin ada pengaruh capociera ini. Bagi beberapa pendapat, dengan hadirnya mereka didalam “Mutiara Hitam” maka lengkaplah sudah perpaduan budaya dari Afrika, Samba dan Papua.
Capociera sendiri merupakan seni bela diri Brazil sejak jaman perbudakan disana. Disamarkan dalam bentuk tarian agar tak mengundang perhatian para pemilik budak. Bentuk bela diri asal Brasil ini tak mengenal kontak fisik. Mereka melakukan gerakan gerakan seperti mengejek lawan dengan tendangan, tipuan, gerakan pinggul, dan salto. Kebiasaan salto dalam tarian ini membuat sejumlah pemain Brasil saat bermain bola suka memakai tendangan salto.
Serangan dalam capociera lebih banyak menggunakan kaki. Gerakan-gerakan ini ditemukan juga dalam tarian Samba dan Yospan di Papua yang menitikberatkan kaki, pinggul dan langkah cantik dalam menari. Kesamaan antara gaya Brasil dan Papua ini menyebabkan mantan pelatih Persipura era 1960-an, HB Samsi, lebih banyak memakainya dalam memoles tim Mutiara Hitam. Mulai dari pemberian umpan pendek hingga mengandalkan kecepatan pemain sayap dalam memberikan bola ke lini tengah atau striker. Belakangan, gaya ini dirubah oleh Hengki Heipon ketika ke Jerman mempelajari gaya petarung bola kaki disana. Ia kemudian menerapkan permainan ala Eropa dengan formasi 3-5-2. Namun menurut Hengki Heipon, “Mutiara Hitam” tetap  memiliki karakter tersendiri. Dan ini membawanya dalam setiap laga merebut kemenangan. Kemenangan per setiap kemenangan didukung kuat juga oleh tubuh pemain yang memang sangat baik. Pemain ada yang berasal dari Kepala Burung, Metu Duaramuri, Boas Salosa, dan Ortisan Salosa. Bentuk tubuh mereka sangat lentur berbeda dengan postur tubuh dari anak-anak Teluk Cenderawasih yang cepat, dan keras. Begitupula mereka yang berasal dari Merauke dengan postur tubuh tinggi dan memiliki tendangan gledek yang keras. Belum lagi karakter dan postur dari Port Numbay dan Bumi Dafonsoro yang terkenal dengan badan kekar dan memiliki tendangan jarak jauh yang terukur.
Bagi Fredy Imbiri mantan pemain belakang Persipura era 1970-an, tim Persipura itu ibarat pemainnyaYosim Pancar atau sebuah gerakan tari untuk pergi berburu. “Sepak bola sudah pasti berkembang sesuai dengan karakter budaya setiap daerah di Papua. Karakter budaya masyarakat jelas mempengaruhi pola gerak sesuai dengan lingkungan masing-masing baik di daerah pegunungan maupun pantai,” katanya.
Kini JF Tiago telah memoles sebuah perpaduan baru antara cara bermain bola ala Samba dengan goyangan Yosim Pancar dalam mengolah si kulit bundar. Tantangan selanjutnya adalah membuktikan hasil kerja keras di ISL 2009 untuk menatap tantangan di Champion Asia 2010 nanti. (Tim JUBI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *