Pinang Ojek, Sebuah Tradisi Di Merauke

 
JUBI — Tangannya dengan cekatan menggundukkan buah pinang pada meja kayu berbentuk persegi. Sambil menumpuk pinang, pembeli, kebanyakan orang asli Papua, mulai mengambilnya dan berlalu pergi. Warga setempat menyebutnya pinang ojek.

Hendrika Kamburip sebaliknya menyebutnya ojek pinang. Sepertinya sama saja. Sebuah gundukan pinang biasanya dijualnya seharga  Rp.1.000  hingga Rp. 2.000 per buahnya. “Ini sudah yang namanya pinang ojek, pembeli ambil terus sambil berlalu makan pinang,” tutur mama Kamburip, sapaan akrabnya.
Saban hari, wanita Suku Muyu, 49 tahun silam itu selalu mangkal didepan Puskesmas Mopah Baru, Merauke menjajakan pinangnya. Pinang itu dari usahanya sendiri menanam dipekarangan rumahnya seluas setengah hektar. Dia seorang diri, tak seperti penjual pinang lainnya yang  berjualan pada malam hari di wilayah perkotaan. Tempatnya berjualannya sangat strategis. Selain dekat Puskesmas, didepannya juga ada kantor Pemda dan Polres Merauke. Waktu berjualan disesuaikan dengan irama orang bekerja. Ketika pegawai masuk kerja, mama Hendrika mulai menggelar dagangannya. Ketika pegawai pulang kantor, ia pun segera menutup jualan dan bergegas pulang.
Pinang adalah sejenis palma yang tumbuh di daerah Pasifik, Asia dan Afrika bagian timur. Orang Aceh menyebutnya pineung, sedangkan Batak Toba menyebutnya, pining. Madura, penang, jambe untuk Jawa dan bua, ua, wua, pua, fua, hua untuk aneka bahasa di Nusa Tenggara dan Maluku. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Betel palm atau Betel nut tree. Pinang memiliki nama ilmiah, Areca catechu. Di Merauke, pinang bisa dijumpai dengan mudah dipasar dan disejumlah titik perbelanjaan. Tidak seperti pegadang kelas kakap, penjual pinang hanya bermodalkan meja berukuran 1 x 1 meter dan buah pinang. Tempat jualannya pun hanya dipinggiran trotoar dan depan toko atau swalayan. Kamburip juga demi-kian. Namun, tak banyak yang mengetahuinya, jika hampir sebagian besar penjual pinang di Kabupaten Merauke membeli pinang dari hasil kebunnya.
Menjual pinang dilakoninya semenjak masih berada di Jayapura saat menemani suaminya kuliah. “Saya pikir kalau berjualan pinang itu sangat menguntungkan bagi peningkatan ekonomi keluarga. Jadi pada tahun 1990, ketika saya dan suami saya kembali ke Merauke, saya membawa serta bibit pinang untuk ditanam di pekarangan rumah saya,” ungkapnya. Ketika menanam pinang seluas setengah hektar di pekarangan rumahnya yang terletak di Kawasan Gemah Ripah, Kampung Kuda Mati, mama Hendrika mengaku sering mengalami kegagalan. Dari 50 bibit pinang yang ditanam, hanya sedikit yang tumbuh. Namun dia tak putus asa. Bersama kelima anaknya, mama Hendrika berulang kali membuat persemaian baru hingga pada akhirnya pinang itu pun tumbuh subur dan berbuah lebat. Sesekali sang suami yang bertugas sebagai kepala distrik di Kabupaten Boven Digoel juga membawa bibit pinang untuknya. “Itu dulu, sekarang saya sudah bisa buat bibit pinang sendiri,” ucapnya dengan bangga.
Pertama kali berjualan, mama Hendrika mengaku malu-malu. Namun lama kelamaan dirinya mulai terbiasa. Bahkan mendapat acungan jempol dari orang-orang yang membeli. “Saya pikir jadi pegawai negeri tidak ada guna, kalau sudah pensiun mau bergantung pada uang pensiun saja tentu tidak cukup. Jadi sebagai ibu rumah tangga itu harus ada usaha untuk membantu suami,” tuturnya sembari mengatakan, dalam seminggu dirinya dapat meraup keuntungan sebesar 1 juta rupiah.
Dalam sehari, mama Hendrika bisa mengeruk keuntungan sebesar Rp. 100.000 hingga Rp.200.000. Dari berjualan pinang, dia juga dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan menyeko-lahkan anaknya hingga ke perguruan tinggi. “Anak-anak saya selalu membantu saya. Jika saya pulang dan memperoleh keuntungan saya selalu memberikan uang sebesar 10 ribu rupiah pada anak saya yang paling kecil untuk ditabungkan pada celengan miliknya,” ujarnya.

Pinang Kering Tergantikan Oleh Pinang Buah
Siapa yang dapat menyangka, cikal bakal keberadaan pinang buah di Kabupaten Merauke berasal dari mama Hendrika. Awalnya,di Kabupaten Merauke banyak beredar pinang kering yang dijual dalam bentuk kiloan atau perbungkus yang didatangkan dari Makassar dan Buton. Namun sejak tahun 1990-an, mulai nampak pinang buah beredar di Kabupaten Merauke. Kepada sejumlah penjual pinang yang rata-rata kaum perempuan itu, mama Hendrika selalu menjelaskan keunggulan dari pinang buah. Yang mana, dari segi kebersihan, pinang buah jauh lebih higienis ketimbang pinang kering. Sedangkan dari segi rasanya pun jauh berbeda. Lebih segar pinang buah dibandingkan pinang kering yang terasa keras jika dikunyah.
Pada akhirnya, penjual pinang yang jumlahnya tak seberapa itu beralih dan membeli pinang dari mama Hendrika. Harganya 35 ribu rupiah permayang. Meski ada juga yang tetap memesan pinang buah hingga ke Jayapura. Tak hanya menjual buah, bibit pinang pun dijual mama Hendrika. Tujuannya untuk melestarikan tanaman pinang. Biasanya, 1 koker bibit pinang, dijual seharga 10 ribu rupiah. Namun jika ingin mengambil bibit sendiri, mama Hendrika juga mengijinkannya. Lain pula harganya jika diambil langsung oleh pembeli, satu plastik bibit pinang, dijualnya seharga 150 ribu rupiah.
Pinang buah menurut Mama Hendrika cocok dibudidayakan di Kabupaten Merauke.  Hanya saja banyak orang malas untuk menanamnya. Mereka lebih senang mengkonsumsi ketim-bang menanamnya. Mama Hendrika juga tak merasa tersaingi dengan penjual pinang lainnya. Baginya, semua tengah berupaya berjuang mening-katkan taraf hidupnya melalui berjualan pinang. Tak jarang pula, jika sesama penjual pinang membeli pinang buah miliknya, mama Hendrika selalu memberikan diskon.

Merambah Daerah Pemekaran
Pinang milik Kamburip ternyata sampai juga disejumlah daerah pemekaran. Mappi, Boven Di-goel dan Asmat. Biasanya, peda-gang membeli pinang miliknya hingga 5 mayang dan memba-wanya ke daerah pemekaran. “Saya sendiri tidak tahu, darimana mereka mengetahui kalau saya menjual pinang buah. Mungkin dari mulut ke mulut. Setiap kali mereka ke Merauke selalu membeli pinang ke rumah saya,” ujarnya.
Memang permintaan pinang  ke wilayah pemekaran tidak sesering permintaan di dalam kota Merauke. Tapi dirinya merasa bangga atas kerja kerasnya itu. Dirinya berjanji akan terus menjadi penjual pinang. Tradisi ini akan diturunkan pada anak-anaknya kelak. Dirinya juga berkeinginan agar setiap perempuan Papua di Kabupaten Merauke dapat membudidayakan pinang sebagai salah satu sumber penghasilan keluarga. Setidaknya, Pinang telah terbukti sanggup memberikan penghasilan baginya. (Indri. Q)     

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *