Taklukan Persija, Simbol Dominasi Pemerintah Pusat

 
JUBI — Bukan kebetulan kalau Persija telah beberapa kali takluk dibawah kekuatan anak-anak Papua sejak pertandingan merebut scudeto ISL 2009 di Jepara. Sebelumnya Persipura juga telah menundukan Persija 3-2 dikandang Macan Kemayoran dalam Liga Indonesia 2005.

Tercatat 2001 sampai 2009 Persija belum pernah menang melawan Persipura. Tim Macan Kemayoran telah delapan kali kalah melawan Persipura. Bahkan Persipura jaman Hengki Heipon dan kawan-kawan juga pernah mengalahkan Persija Jakarta yang diperkuat beberapa pilar pemain PSSI seperti Iswadi Idris, Risdiyanto dan Ronny Pasla. Waktu itu dalam final 19 April 1976 di Jakarta, tim kebanggaan masyarakat Papua Persipura menundukan Persija Jakarta dengan skor 3-2.
Kemenangan ini mungkin bagi warga Papua menjadi simbol dimana dominasi kekuasaan Jakarta bisa saja dikalahkan melalui permainan cantik dan menyerang dalam sepak bola. Ya! Eduard Ivakdalam dan kawan-kawan sudah mengembalikan kejayaan sepak bola Papua yang hilang selama 26 tahun. Dan kini dalam tempo tiga tahun, pelatih Kepala JF Tiago kembali mengangkat pamor Persipura dan Ivakdalam memegang tropi juara Indonesia Super Liga 2009.
Ketika kemenangan melawan Persija di Jepara, kontan warga kota Jayapura berpesta menyambut hasil gemilang. Namun sebenarnya apa yang tersirat dibalik prestasi anak-anak Mutiara Hitam tersebut bagi warga Papua?
Memang kadangkala orang mencoba menyingkirkan sepak bola dan politik. Tetapi spiritnya tak bisa hilang dan akan terus menyerempet ke dalam semangat untuk menemukan kembali sebuah harga diri. Kata para ahli harga diri ini berkaitan dengan dua hal, yaitu perasaan kompetensi pribadi dan perasaan nilai pribadi. Atau dengan kata lain harga diri itu merupakan perpaduan antara kepercayaan diri dan penghormatan diri. Mempunyai harga diri yang kuat artinya merasa cocok dengan kehidupan dan penuh keyakinan, yaitu mempunyai kompetensi dan sanggup mengatasi masalah-masalah kehidupan.
Sepakbola Indonesia memang menghadirkan banyak hal yang bersifat unik. Kadang keunikan ini menjadikan kondisi persepakbolaan Indonesia memiliki tontonan asyik diluar permainan teknis yang disuguhkan. Sebagian orang memplesetkan keunikan tersebut dengan memberi contoh, Sepakbola Indonesia sebagai “multi olahraga”. Seperti cabang olahraga Triathlon yang menggabungkan beberapa cabang olahraga atletik.
Banyak pendapat juga mempresentasikan, Persepakbolaan Indonesia dipenuhi oleh konspirasi tingkat tinggi yang bermuara pada Badan/Organisasi yang mengurusi Liga itu sendiri. Melihat iklim pemerintahan di Indonesia itu sendiri kiranya sudah mewakili bagaimana birokratisme itu melanda persepakbolaan Indonesia, bagaimana pula budaya “KKN” masih meracuni negeri ini sampai ke cabang olahraga. Semua hal ini tentulah berhubungan dengan efek prestise. Tujuannya jelas untuk menjadi yang terbaik, terhebat, meski dilalui oleh kompetisi yang tidak sehat. Semuanya saling tuding siapa yang salah dan siapa yang benar, meski dirinya sendiri tampak tidak mengakui bahwa ia turut serta dalam membuat kesalahan itu.
Sepakbola memunculkan kebanggan. Hal ini berlaku di Indonesia tentunya. Setiap tim dipaksa untuk mereguk kemenangan demi kemenangan untuk tujuan akhir, meraih prestasi dan mempertahankan prestise. Meski klub tersebut mewakili daerahnya bertanding, yang terpenting mereka bisa meraih prestise bahwa mereka mampu menjadi yang terbaik dengan mengalahkan tim dan daerah lainnya.
Inilah sepakbola prestise dan harga diri. Liga Indonesia dipenuhi hal semacam ini. Sepak bola juga telah memberikan hiburan. Juga obat untuk mengurangi luka. Bagi warga Papua, luka itu memang harus ditebus dengan kemenangan Persipura. Luka itu adalah, UU Otsus yang tidak berjalan. Sepertinya hal ini tepat jika memperbandingkan pesepakbola kesohor dunia dari Argentina, Diego Maradona. Maradona bahkan disejajarkan martabatnya dengan orang suci alias Santo di klub Napoli. Sebuah klub miskin di selatan Italia. Rasa cinta justru melebihi rasa nasionalisme mereka terhadap negara Italia sendiri. Buktinya pada Piala Dunia 1990 ketika Italia berjumpa dengan Argentina di Napoli, bukannya warga Napoli mendukung Italia tetapi Maradona dan Argentinanya. Ya, faktor Maradona sekali lagi dianggap penyelamat bagi orang Napoli dari selatan Italia sebagai simbol lepas dari kemiskinan dan keterbelakangan. Ironisnya, saat Italia tersisih, seluruh warga Napoli tetap mengelukkan dewa mereka, Diego Maradona dan Argentina.
Kecintaan warga Napoli kepada Maradona merupakan wujud penghargaan mereka terhadapnya karena telah melambungkan sebuah klub miskin menjadi klub besar yang sejajar dengan klub kaya seperti Juventus, Milan, Inter dan Roma. Sosok Maradona dianggap sebagai sang pembebas, ratu adil yang telah membebaskan Napoli dari keterbelakangan ekonomi, sosial, budaya dan yang terpenting adalah telah membawa Napoli pada puncak harga diri dan martabat di tengah warga Italia.
Bukan hanya itu saja, pengalaman warga Catalan, basis klub Barcelona juga dianggap oleh pendukung Barca sebagai simbol perlawanan mereka terhadap kekuasaan Madrid di Spanyol. Kemenangan atas Real Madrid lebih berharga ketimbang mereka juara Piala Champion. Bahkan semangat Catalan disana lahir karena sebuah harga diri melawan para penguasa Spanyol dengan simbol mengalahkan Real Madrid, tim kaya bertaburan bintang.
Ketika melawan MU dalam laga final Champion 2009 lalu, wartawan Spanyol sedikit bercanda dan bertanya kepada Sir Alex Ferguson, bukankah Barca baru saja mengalahkan tim “berseragam putih-putih” di Spanyol dengan skor telak 6-2. Kontan Sir Alex Ferguson menjawab,”Kami lebih baik dari Real Madrid.” Buktinya di Roma Italia klub MU asal Inggris yang “berseragam putih-putih” dihancurkan Barca hingga tak ada perlawanan berarti. Ronaldo alias CR 7 dibuat tak berkutik oleh Lionel Messi dan kawan kawan. Mereka dilibas 2-0 tanpa balas dan perlawanan berarti.
Persipurapun demikian. Kesebelasan dari ufuk Timur Indonesia ini hanya merupakan simbol keterbelakangan dan kemiskinan. Tim ini juga tak masuk dalam hitungan blantika persepakbolaan nasional. Tapi itu dulu. Kini, Persipura bak dewa bagi masyarakat Papua. Persipura juga berhasil menyamai rekor Persebaya dan Persik Kediri, dua kesebelasan asal Jawa Timur yang sarat fasilitas dan tentunya sponsor pembinaan sepak bola. Dua kali jadi juara Liga dan Indonesia Super Liga (ISL 2009).
Pelatih Kepala Persipura JF Tiago mengaku, sangat beruntung memiliki pemain lokal yang kemampuan skill individunya tidak kalah dengan pemain asing. “Anak-anak Papua bermain bola bukan mengejar bonus tetapi membela nama daerah. Itulah yang jadi motivasi mereka,” ujar JF Tiago.
Persipura mampu menyamai rekor Persik Kediri dan Persebaya karena anak-anak bermain demi membela nama daerah. Bahkan sang jenderal lapangan tengah Eduard Ivakdalam ketika mencapai prestasi tertinggi dan ketika banyak tawaran datang kepadanya, kontan menjawab, “Kami tetap membela tanah ini”. Eduard Ivakdalam menegaskan uang bukan segala-galanya.
Baginya, semua orang boleh bicara soal nama dan identitas Papua, tapi tidak semua orang Papua membela nama dan kejayaan tanah Papua dalam pentas nasional. Tak heran kalau ia berujar, hanya tanah kelahirannya saja yang menjadi kebanggaan tatkala tampil membela tim bertajuk Mutiara Hitam (Tabloid  JUBI Edisi No:55 Tahun 04, 16-22 November 2003). Ya, mereka semua bersatu padu membela tanah Papua dari hinaan. Mereka memang pantas menyandang predikat tim juara. Tapi mampukah mereka berprestasi di Liga Champion Asia? Mungkinkah Eduard Ivakdalam dan kawan-kawan mampu memberikan sebuah kado khusus buat 60 tahunnya Persipura dengan hadiah juara atau menembus tim elit Champion Asia?. Entahlah. Tapi yang jelas dimana ada kemauan disitu pasti ada jalan. Tidak tertutup kemungkinan jika Persipura mampu menembus kancah elit sepak bola Asia, sudah pasti nama sepak bola Indonesia juga akan ikut cemerlang dimata dunia. (Tim JUBI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *