Edisi 36

SEHAT itu kitorang pu hak. Benar tak ada keinginan untuk selalu menderita sakit namun terkadang kuman dan virus itu datang kepada siapa saja tanpa pandang bulu. Semua orang bisa sakit dari bayi hingga orang dewasa maupun kaya atau miskin.
Ironinsya, lembaga pelayanan kesehatan biasa memilih dan memilah antara si sakit yang mampu dan mana yang miskin alias tak bisa bayar. Walau ada kebijakan gratis dari pemerintah baik dari Jakarta atau di Provinsi Papua belum tentu memuaskan semua pihak. Pelayanan kesehatan di Indonesia termasuk Papua sepenuhnya tergantung kepada pasar. Artinya setiap pelayanan dikenakan tarif dan jasa medis. Bahkan di Rumah Sakit pemerintah yang notebene Dokternya digaji oleh negara masih juga memungut biaya jasa medis.
Lagi-lagi sebuah ironi, harga obat pun tak lepas dari potensi pasar, akibatnya tarifnya akan selalu berubah. Persaingan produsen obat jelas akan merebut para dokter untuk meresepkan obat produknya. Dokter menentukan obat dan pasien harus membayarnya. Bukan hanya menentukan apa obatnya, tapi juga menentukan dimana obat tersebut harus dibeli. Kalau sudah begini, apalah artinya sebuah pelayanan kesehatan gratis!
 
Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *