“Anak-anak Perahu” Dari Danau Sentani

 
JUBI — Mereka tak berkasut. Hanya ada dingin air Danau Sentani yang saban hari mengantar mereka ke sekolah. Mereka menggunakan perahu.

Mentari pagi mulai menam-pakan dirinya dibalik bukit Kampung Asei Besar. Sinarnya menyerempet pelan disela dedaunan. Dikejauhan, geme-ricit burung hutan bersahutan menyambut pagi. Mereka berkejaran seiring terbelahnya riak air Danau Sentani diterpa hembusan angin. Disebelah pecahnya air yang berbusa putih, “Anak-anak perahu” itu mendayung kano. Kaki mereka tanpa alas. “Ayo, cepat, nanti kita terlambat,” sahut sese-orang dari ujung perahu. “Iya, ayo,” balas yang lain.
Sahutan anak-anak kecil berbaju lusuh ini tiap pagi terdengar kala mentari tiba. Mereka selalu gembira meski tiap pagi harus menempuh perjalanan jauh untuk ke sekolah. Pecahnya air disentuh dayung kayu, mengantar mereka ke dermaga pantai Kalkote, Kampung Harapan, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Papua. Jumlah mereka ratusan.
“Mana saya punya buku, ayo cepat sudah mau masuk,” teriak seseorang bertubuh pendek. Diambilnya tas berisi buku dan kemudian berlari. Tali sepatunya masih terurai. Saban hari, bocah 16 tahun itu selalu dikejar waktu. Dia takut terlambat ke sekolah. Tubuhnya kurus. Namanya Jhon Rian Ibo. “Selamat pagi Ade, apa kabar”. Saya menyapanya. Dia hanya tertunduk. Bajunya dibiarkan tergantung tak rapi. “iya kaka”. Rumahnya dibibir Danau Sentani. Sederhana dan berbentuk panggung. Dinding-nya dari gaba beratap seng reot. “Biasa setiap pagi itu sejuk”.  Rudolf Ohee, pamannya, tersenyum.
Kesejukan Sentani kala pagi memang nyaman dirasa. Alunan angin yang berjalan sepoi semakin memperdalam rasa itu. Warga Asei senang menikmatinya. Kampung Asei berdiri disebuah pulau ditengah Danau Sentani. Pulau yang dinamakan Asei Besar ini bentuknya memanjang. Ada sekitar 30 KK didalamnya. Mereka mendiaminya semenjak ratusan tahun lalu.  Danau Sentani sendiri memiliki luas sekitar 9.360 hektar. Berada pada ketinggian 75 meter di atas permukaan laut. Danau ini terbesar di Papua. Merupakan bagian dari Cagar Alam Cycloops yang memiliki luas sekitar 245.000 hektar. Suplai air bagi danau seluas ribuan hektar ini berasal dari air hujan, serta 32 sumber mata air yang mengalir dari pegunungan.
Rata-rata rumah penduduk disini berbentuk panggung. Dibangun dipinggiran Danau.  Mata pencahariannya nelayan dan bertani. Penghasilan mereka juga pas-pasan, hanya untuk makan sehari. Kehidupan yang serba sulit juga dialami Rian Ibo dan keluarganya. “Tong disini susah sekali cari uang untuk kase sekolah kitong pu anak-anak,”cetus Rudolf. Meski dengan kehi-dupan yang sulit, Rian Ibo terus belajar. Tiap pagi, pukul 05.000 WIT, dia sudah bangun. Kerap dia membantu pamannya. Setelah itu berangkat ke sekolah. Ransel putih tergan-tung dibahu. Sepatunya menga-nga dikiri dan kanan. Sobek. Saya hanya terdiam melihatnya. Ada rasa kasihan.
Kami pun bergegas turun dari rumah dan menuju tambak perahu yang letaknya di bibir Danau. Saat menginjakkan kaki di air, kesejukan langsung merayap ke sekujur tubuh. “Kaka duduk di depan, biar saya yang dibelakang,” ujarnya lembut. Perahu itu terbuat dari kayu hutan. Luas dalamnya hanya bisa memuat sebagian tubuh saja. Duduknyapun dengan posisi bersila sambil berhadapan muka. Panjangnya kurang lebih lima sampai sepuluh meter.
Dengan perlahan bocah asal Sentani ini mengayuhkan dayung. Airnya tenang. Warna-nya biru. Sebelah kiri kami terlihat bayang-bayang awan. Didepan, puluhan bocah dari kampung Asei Kecil juga mengayuh. Seragamnya kusut. Tas sekolah menempel dipung-gung. Saya sempat melihat, lambang diseragam ternyata tak sama. Ada SMU ada juga SMP. Perjalanan itu memakan 15 menit lamanya. Jarak antara Kampung Asei Besar ke dermaga sejauh 300 meter.
Saat menginjakkan kaki di dermaga Pantai Kalkote, saya bertemu dengan Antonius Ohee (17), siswa SMP Negeri 4 Kampung Harapan Sentani. Badannya kecil. Sama seperti Rian Ibo, dia juga tiap hari mendayung perahu ke sekolah. Saat itu, Antonius bersama orang tuanya, Susana Yoku (30). “Kalo tong dapat kayu perahu kitong bikin sendiri, tapi kalau tidak punya kayu perahu, terpaksa harus beli,” cetus Yoku. Harga perahu sangat bervariasi. Jika perahu tersebut panjangnya 6 meter, harganya Rp 300.000. Jika berukuran kecil, harganya Rp 500.000. Perahu milik Yoku harganya Rp 300.000. “Kalau yang belum punya perahu sendiri terpaksa orang tuanya harus antar setiap pagi”.
Orang Sentani selalu membuat Perahu berdasarkan jenis kelamin. Laki-laki dan perem-puan. Perahu untuk perempuan dibuat dari kayu perahu atau Kayu Susu. Panjangnya bisa 4 sampai 10 meter. Perahu perempuan pada umumnya lebih besar dari perahu pria dan bisa memuat hingga 10 orang penumpang ditambah alat masak. Contoh nama perahu perempuan antara lain, “Nako-ro Ya”, yang artinya, “Biarkan Aku Sendiri”. Ada juga “Mal Nip”, atau “Cara Mencapai Tempat”. Sedangkan perahu pria berukuran lebih kecil. Hanya bisa memuat satu hingga 3 orang.
Desiran angin terdengar sayup-sayup. Sayapun berjalan bersama mereka. Jaraknya cukup jauh. 700 meter. Tujuan-nya hanya untuk menunggu Angkot Abepura-Sentani yang nantinya akan membawa kami ke sekolah Ibo. Tempatnya di Hawai Sentani. “Kaka tong jalan dari dermaga ke jalan raya jauh sekali,” ucap Jhon Ibo sambil membasuh peluh. Jalan itu belum beraspal. Onggokan batu tergeletak dikiri kanan jalan. Berdebu dan kasar.

Mimpinya
Tak lama kemudian, mobil berwarna putih bergaris biru menghampiri kami. Itu angkot disana. Perjalanan ke sekolah Ibo memakan waktu 10 menit. Saat tiba, Ibo langsung berlari. Rupanya teman-temannya telah masuk kelas.”Wah, Kaka saya su terlambat,” katanya. “Memang dong biasa terlam-bat setiap hari”, Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Hawai Sentani, Drs A.H Marandoff, hanya tersenyum saja melihat anak didiknya. Dia mengerti kesulitan mereka. Dia juga tak bisa memaksa mereka untuk harus ke sekolah tepat waktu.
Memahami kesulitan siswa ditunjukan juga dengan membebaskan uang SPP. Kebijakan ini sejalan dengan pemberlakuan pendidikan gratis bagi siswa asal Papua yang dikeluarkan pemerintah daerah Papua. Siswa juga dibebaskan dari pungutan sekolah yang direstui Komite Sekolah. “Untuk pendidikan dasar dari SD sampai SMP harus bebas untuk semua warga,” kata Gubernur Papua Barnabas Suebu dalam sebuah kesem-patan di Jayapura. Kebijakan berlaku dari 2 Maret kemarin. Kebijakan tersebut dilandasi dengan Peraturan Gubernur Nomor 5 Tahun 2009 Tentang Pembebasan Biaya Pendidikan Bagi Wajib Belajar Pendidikan Dasar, dan Pengurangan Biaya Pendidikan Bagi Peserta Didik Orang Asli Papua Pada Jenjang Pendidikan Menengah.
Kategori siswa yang mendapat pembebasan biaya pendidikan adalah bagi yang orang tuanya nelayan, petani, buruh kasar, atau tidak memiliki pekerjaan tetap. Siswa yang orang tuanya bekerja sebagai pegawai negeri sipil golongan I dan II, TNI/POLRI golongan I dan II, serta pegawai swasta setara PNS golongan I dan II, juga mempe-roleh pembebasan biaya pendidikan.
Ibo tertegun. Diambilnya buku dan langsung menuliskan beberapa catatan. Ia hanya memiliki satu mimpi. Sekolah dengan rajin dan bisa memban-tu orangtuanya. Kelak ada harapan dia bisa bekerja sebagai PNS. Mimpi itu ingin dicapainya meski peluh harus membasahi sekujur tubuhnya ketika hendak berangkat ke sekolah. Ia juga tak mau patah semangat. Pamannya selalu berpesan kepadanya, “Sekolahlah dengan baik, jangan main-main”. Pesan itu dilukis-kannya dalam hati. Dia tak akan pernah lupa. Ia ingin pesan dan mimpinya itu akan selalu sama seperti teduh dan sejuknya danau Sentani. Biarpun tiap pagi dia harus memecah air disana, tapi mimpinya jangan sampai pecah. (Musa Abubar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *