Danau Sentani : Sebuah Keindahan Yang “Terpanggang”

 
JUBI — Danau Sentani di Papua terkenal dengan keindahannya yang luar biasa. Sayangnya, dibalik itu, ancaman atasnya juga datang silih berganti. Dia terpanggang diantara banyaknya pujian.

Danau Sentani di Papua terletak antara 20.33 hingga 2041 LS dan 1400.23 sampai 1400 38 BT. Berada 70 – 90 m diatas permukaan laut. Terletak juga diantara pegunungan Cyclops. Merupakan danau Vulkanik. Sumber airnya berasal dari 14 sungai besar dan kecil dengan satu muara sungai, Jaifuri Puay. Diwilayah barat, Doyo lama dan Boroway, kedalaman danau sangat curam. Sedangkan sebelah timur dan tengah, landai dan dangkal, Puay dan Simporo. Disini juga terdapat hutan rawa di daerah Simporo dan Yoka. Dalam beberapa catatan disebutkan, dasar perairannya berisikan substrat lumpur berpasir (humus). Pada per-airan yang dangkal, ditumbuhi tanaman pandan dan sagu. Luasnya sekitar 9.360 Ha dengan kedalaman rata rata 24,5 meter. Disekitaran danau ini terdapat 24 kampung. Tersebar dipesisir dan pulau-pulau kecil yang ada ditengah danau.
Danau Sentani merupakan danau terbesar di Papua. Di Danau ini, tiap tahun digelar sebuah festival tahunan. Dimulai sejak 2008 kemarin. Namanya Festival Danau Sentani. Digelar tiap bulan Juni. 19 Juni 2009 kemarin, digelar juga festival serupa. Festival ini menjadi pionier penyuguhan atraksi wisata danau di Indonesia.
“Selama ini Sentani hanya menjadi tempat transit. Citra itu harus kita ubah dengan menyediakan pertunjukan bernilai budaya tinggi kepada wisatawan agar mau tinggal di Sentani,” kata Bupati Kabupaten Jayapura, Habel Suwae.
Festival Danau Sentani (FDS) merupakan festival budaya ketiga yang ada di Papua. Pertama adalah Festival Lembah Baliem di Kabupaten Jayawijaya. Pagelaran budaya yang  menampilkan tradisi masyarakat Pegunungan Tengah ini telah berusia sembilan tahun. Selain itu, ada Festival Budaya Asmat. Dalam kegiatan itu, dipamerkan aneka benda adat  milik suku-suku di Sentani dan sekitarnya. Benda berharga seperti mas kawin, manik-manik milik Ondofolo dan Ondoafi (kepala suku), serta senjata tradisional.
Namun sayangnya, festival Danau Sentani yang tiap tahun digelar meriah dengan meng-gunakan dana hingga miliaran rupiah ternyata tak sebanding dengan keterpurukan yang sementara melandanya. Dalam suatu kesempatan, beberapa tahun silam,  Kepala Sub-Bagian Pengairan Dinas Pekerjaan Umum Papua, Chris Wayoi di Jayapura pernah mengatakan, rata-rata proses pendangkalan Danau Sentani mencapai lima meter setiap tahun. Terhitung sejak tahun 1999. Penyebabnya adalah pengendapan bahan sedimen-tasi yang mencapai 90 ton per tahun. Diakuinya, pendang-kalan Danau Sentani hingga saat ini mencapai sekitar 15 meter atau lebih kurang lima meter per tahun. Pendangkalan terjadi hampir merata, mulai dari permukaan sekitar tepi danau. Menurut catatan, Danau Sentani dengan luas ribuan hektar ini merupakan sumber hidup bagi sekitar 5.000 keluarga di sekitarnya. Danau ini juga telah diprogramkan Pemerintah Kota Jayapura sebagai obyek wisata kota.
Bahan sedimentasi yang mengakibatkan pendangkalan berupa pasir, batu, kayu, plastik, botol plastik, kaleng, sampah penduduk kota, dan besi bekas yang tertumpuk di dasar danau. Sebagian bahan sedimentasi itu bersumber dari penggalian, penambangan, penebangan hutan, pembukaan lahan, dan pembangunan jalan di Pegu-nungan Cycloops.
Serupa dengan Wayoi, Kepala Badan Lingkungan Kabupaten Jayapura, Drs. Suharta Sem-biring, dalam sebuah kesem-patan mengatakan, kerusakan lingkungan di sekitar Danau Sentani lebih diakibatkan oleh munculnya galian C illegal di wilayah itu. Sembiring men-contohkan, penggalian oleh warga misalnya terjadi di Jembatan Kali 2 Sentani. Warga di sepanjang bantaran kali ini melakukan penggalian liar yang akhirnya menyebabkan airnya menjadi kotor. Berbagai material yang turut dibawa arus air kali ke Danau Sentani juga secara perlahan-lahan menye-babkan terjadi pendangkalan dan pencemaran. Dikatakan, bukan hanya masalah galian C, masalah sampah juga menjadi sangat ruwet. Seluruh kegiatan ini pence-maran ini berbuntut juga pada rusaknya ekosistem biota danau tersebut. Apalagi air Danau Sentani juga diambil masya-rakat untuk dikonsumsi
Danau Sentani merupakan satu kesatuan dengan cagar alam Pegunungan Cycloops (Jaya-pura) yang berareal 245.000 ha. Pegunungan Cycloops ditetapkan menjadi cagar alam pada tahun 1995. Digunakan pula, sebagai pusat penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan. Disana terdapat berbagai jenis tumbuhan, hewan endemik, dan serangga khas Papua. Selain air hujan, Danau Sentani mendapatkan suplai air dari sekitar 32 sumber mata air dari pegunungan. Pihak aktivis lingkungan hidup mengu-mumkan, sekitar 13 sumber air diantaranya dinyatakan telah mengering akibat penebangan, permukiman penduduk, dan kemarau panjang. Tingkat kedalaman danau dari 175 meter lebih, kini diperkirakan hanya tersisa 160 meter.
Sejak lama penduduk sekitar memanfaatkan danau sebagai tempat menangkap ikan dan udang untuk dijual ke pasar. Sarana yang digunakan untuk menangkap ikan di Danau adalah dengan perahu tanpa motor. Jumlahnya pada 2005 sebanyak 405 buah. Ada juga keramba. Jumlahnya 542 unit dengan total penggunaan seluas 8,71 Ha. Alat ini dimliki oleh 274 petani keramba. Petani ikan pada 2005 juga membuka kolam dengan luas mencapai 35,01 Ha. Dimiliki oleh 106 petani kolam. Kegiatan ini dikelolah oleh sekitar 329 Rumah tangga Perikanan dengan produksi pada tahun 2005 sebanyak 233,11 ton. “Karena itu Pemerintah kabupaten harus membentuk tim penyelamat danau dan Pegunungan Cycloops. Apabila kondisi ini tidak segera diatasi, danau itu satu ketika akan lenyap, sekaligus melahirkan persoalan serius bagi masya-rakat asli disekitar danau. Ini, tentu sangat merugikan semua pihak,” kata Sembiring.
 Papua sendiri memiliki sekitar 12 danau, antara lain Danau Paniai dengan luas 14.150 ha, Danau Rombebani 13.470 ha, Yamur 10.500 ha, Tigi 5.000 ha dan Danau Ayamaru 3.000 ha. Terdapat juga 50 sungai. Antara lain, Sungai Tami, Wirawori, Biri, Tor, Mamberamo, Geseroi, Lemsuri, Oruto, Uta, Setakwa, Blumbu, Dumas, Digul, Bian, Maro dan Balim. Sebagai sebuah obyek wisata, Danau Sentani kerap dikunjungi wisatawan dari dalam dan luar negeri.  Wisatawan yang mengunjungi danau ini dapat menyaksikan hamparan air yang luas dengan pulau-pulau yang membentuk susunan bukit-bukit menghijau ditengah danau. Dari ketinggian tertentu, bukit-bukit tersebut nampak seperti punggung buaya yang sedang bermalas-malasan.
Danau Sentani memiliki keka-yaan biota danau yang cukup melimpah. Di danau ini dapat ditemukan berbagai jenis tumbuhan dan hewan endemik khas Papua. Situs arcbc.org.ph  mencatat, terdapat beberapa ikan air tawar, seperti Anus sp, Neosilurus novaeguineae, Chilathenina sentaniensis, Glossolepis incisus, dan Glossogobius koragensis, hidup di danau ini. Bahkan dua diantara jenis-jenis ikan ini, Neosilurus novaeguineae dan Glossolepis incisus dipercaya hanya terdapat di Danau Sentani. Di danau ini juga terdapat hiu gergaji (Pristis Microdon). Hiu ini memiliki deretan gigi yang menyerupai mata gergaji. Hiu ini juga dikenal dengan sebutan “Hiu Sentani” karena hanya terdapat di lokasi ini. Sayangnya, seperti dilansir satudunia.oneworld.net, dari sekian biota yang hidup, keberadaan ikan gabus asli Danau Sentani saat ini sedang menyusut tajam. Langkanya Gabus Sentani diakibatkan oleh pembudidayaan ikan Gabus Toraja. Mereka memakan telur-telur ikan Gabus Danau Sentani hingga hampir habis.
Dari semua catatan, demikian jelaslah, Danau Sentani kini berada dalam ancaman. Benarlah apa yang dikatakan Sembiring, jika saja tidak ada perhatian untuknya, suatu saat, Danau Sentani nanti hanya tinggal nama. Generasi Sentani kelak tidak akan lagi menemukan air yang jernih dan kesejukan pagi hari dipinggir Sentani. (Jerry Omona)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *