Kaigere, Perempuan Pelukis Kulit Kayu Dari Danau Sentani

 
JUBI—-Tangannya dengan cekatan menari-nari diatas selembar kulit kayu. Dia melukis seiring desiran angin yang datang dari Danau Sentani.

Diambilnya sebuah kulit kayu tipis. Lalu dibersihkan. Kulit itu dari Kayu Semang. Orang Sentani menyebutnya kayu Bambong Kaha. Tangannya kemudian berpindah ke alat lukis. Diraihnya arang bekas bakaran. Lima menit kemudian, motif gambar telah diterakan. Alurnya cantik seindah lurusnya Kayu Semang. Kulit kayu itu dipakai lantaran mudah dikupas dan tahan cuaca, panas dan dingin. Sejam kemudian, lukisan awal usai. Untuk hasil sempurna, butuh seminggu lamanya. Kali ini dia mencoba melukis Batik Kas Papua. Baginya, kecantikan Batik sama seperti sejuknya danau Sentani kala senja. Dia kemudian berdiri dan diletakkannya lukisan itu ditempat terbuka. Tujuannya untuk mengeringkan lukisan yang telah jadi. Diapun tersenyum puas.
Ance Kaigere (46), perempuan asal Kampung Asei Besar, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Papua itu saban hari bekerja melukis di atas Kulit Kayu. Lukisan itu dijual. Dia juga melukis di topi dan tas. Kaigere telah menekuni pekerjaannya sejak lama. Pendapatannya digunakan untuk menopang ekonomi keluarga. Selain sebagai pelukis, dia juga bekerja di Restoran Youga di Jaya-pura sejak 1989. “Setiap pulang dari kerja saya mencari waktu luang untuk melukis diatas kulit kayu, membuat topi dan tas,” ujarnya.  
Ance Kaigere tak banyak bicara. Wajahnya lugu. Ketika saya menemuinya, dia sementara sibuk melukis. Kami pun berbagi cerita. Suasana yang sebelumnya kaku perlahan ceria setelah disisipi dengan gurauan khas Papua. Perempuan kelahiran Sentani 15 April 1962 ternyata memiliki lukisan yang indah. Tapi dia tidak selalu  membang-gakannya. Pekerjaan itu dilakoninya, juga untuk memper-tahankan tradisi di Sentani. Baginya melukis diatas kulit kayu memiliki arti tersendiri. Disamping memiliki nilai seni yang tinggi.
Kulit kayu itu diperoleh dari hutan ditempat tinggalnya. Setelah dikuliti, kulit kayu Semang dihancurkan dengan alat penumbuk. Biasanya dari besi. Sesudahnya dijemur selama sehari. Kulit kayu yang telah mengering akan dipotong dengan ukuran 5 x 4 meter. Banyaknya kulit kayu yang digunakan disesuaikan dengan bentuk kayu yang diambil. Jika kayunya kecil maka hanya bisa menghasilkan dua hingga empat kulit kayu. Sebaliknya, jika besar, bisa sebanyak 3 hingga 7 kulit kulit kayu.  
Pewarnanya dari arang api, bunga merah hutan, dedaunan hijau, getah buah Sukun dan Kunyit. Arang dipakai untuk warna hitam, Bunga Merah Hutan untuk warna merah, dedaunan hijau untuk warna hijau, Kunyit untuk warna kuning dan Getah Sukun untuk putih. Bahan tersebut diperoleh disekitarnya. Bisa dari halaman rumah, hutan dan dari pinggiran danau. Mewarnainyapun tak sulit. Setelah kulit kayu mengering, kemudian digelar diatas lantai. Setelah itu digambar. “Kalau su buka begitu, melukis diatasnya dengan bahan pewarna yang telah disiapkan.” Lukisan yang kerap dibuat adalah batik Papua dengan kekhasan Kampung Asei Besar, kampung yang terletak di sekitar Danau Sentani.
Kaigere tak hanya melukis diatas lembaran kulit kayu, tapi juga pada Topi. Pembuatannya sedikit rumit. Kulit kayu harus dibentuk menjadi topi baru kemudian dilukis. Begitu pula dengan Noken (tas bawaan orang Papua). Noken dikerjakan menggunakan dua hingga empat kulit kayu. Pembuatannya sama dengan topi. Bahan yang digunakan adalah pisau cutter dan gunting. Dalam sehari, sebanyak 2 hingga 4 tas noken dan topi dapat diselesaikannya. “Cukup banyak wisatawan nusantara dan mancanegara yang memburu lukisan dari kulit kayu,” tukasnya sambil menunjukkan beberapa karyanya.
Lukisan yang dibuat Kaigere dijual di sejumlah Art Shop (Toko Seni) di Pasar Hamadi, Jayapura. Harganya Rp 200.000 hingga Rp. 800.000. Sedangkan topi dan tas dijual sebesar Rp 50.000 hingga Rp 1 juta. Uang yang didapat, dipakai untuk mengepulkan dapurnya.

Perjuangan Kaigere
Syahdan, tempo dulu di Sentani, sebelum warga disana mengenal lukisan diatas kanvas, mereka telah terlebih dahulu melukis diatas kulit kayu. Lukisan itu dibuat indah secantik ombak di Danau Sentani. Leluhur Sentani, memecahkan arti “ombak putih” danau tersebut dengan lukisan mereka. Ada arti dibalik lukisan itu selain sebagai penghormatan terhadap leluhur mereka. Tradisi ini yang secara turun temurun dikerjakan oleh generasi Sentani. Kaigere salah satunya. “Orang tua dong duduk diatas Para Para (rumah adat) sembari melihat ke Danau Sentani saat angin disertai gelombang pecah dan memutih,” katanya. “Saat mereka melihat gelombang tersebut mereka langsung melukisnya diatas kulit kayu.”
Melukis bagi Kaigere merupakan penghormatannya terhadap budaya. Kaigere telah melukis semenjak masih duduk dibangku SMU. Saat itu, hasil jualan lukisan dipakai untuk membiayai sekolahnya. Kedua orang tuanya tak memiliki pekerjaan tetap. Mereka tak mampu. Setelah tamat, Kaigere kemudian menikah dengan Yula Iskadar (30), lelaki asal Betawi. Tapi ia tak cukup beruntung karena pria idamannya itu malah tak bisa berbuat banyak untuk meningkatkan ekonomi keluarga. Akhirnya, saban hari Kaigere harus menafkahi anak dan suaminya. Dia juga harus berjalan jauh untuk mengambil Kayu Semang. Biasanya di daerah Taja dan Lereh di Distrik Kaureh yang ditempuhnya dengan mengitari pinggiran Danau Sentani menggunakan mobil. Perjalanan selanjutnya harus ia tempuh sejauh 700 meter dengan kaki tak berkasut.
Jarak yang cukup jauh tersebut tak mematahkan semangatnya. Meski dia harus pula merogoh kocek hingga jutaan rupiah ha-nya untuk mencari kayu terse-but. Dia tetap menjalaninya karena itu merupakan mata pencahariannya. “Saya jalani semuanya ini dengan satu semangat, saya tidak ingin menyerah,” cetusnya.
Kaigere memiliki satu harapan. Dia ingin hidupnya dapat berubah. Dia juga ingin budaya melukis diatas kulit kayu dapat terus dilestarikan. “Saya hanya ingin ada perubahan,” celetuknya disertai hembusan angin Danau Sentani. (Musa Abubar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *