Peredaran Kosmetik Berbahaya Di Papua Memprihatinkan

 
JUBI — Ancaman berikut di Papua setelah makanan kadaluarsa adalah kosmetik berbahaya. Badan Pengawasan Obat dan Makanan (Badan POM) tiap saat selalu merazianya. Namun selalu saja beredar tanpa henti.

Pengguna dan penyalur kosmetik di Papua tergolong tinggi. Mulai dari distributor dengan klasifikasi usaha K1 sampai pengecer yang menjajakan kosmetik abal-abal di emperan toko. Di Kota Jayapura dengan populasi kaum hawa yang tergolong tinggi, tentu kosmetik menjadi sebuah kebutuhan utama. Tidak hanya sekedar mengikuti life style, tapi juga sebagai gengsi. Namun, apa jadinya jika dibalik ribuan kosmetik berbagai merek yang beredar dipasaran, ratusan diantaranya mengandung Bahan Berbahaya? Ironisnya, kosmetik tersebut makin meningkat peredarannya. Tentu ini akan menjadi masalah tersendiri bagi kaum hawa.
Uji labolaturium Badan POM kota Jayapura menemukan, bahan berbahaya yang terkandung dalam kosmetik berbagai merek itu antara lain berupa Merkuri (Hg) atau air raksa. Bahan ini termasuk dalam golongan logam berat berbahaya. Walaupun dalam konsentrasi kecil, Mercuri bersifat racun. Pemakaian zat kimia ini menimbulkan efek buruk bagi kulit manusia. Mulai dari perubahan warna kulit hingga timbul bintik-bintik hitam, alergi dan iritasi pada kulit. Parahnya lagi, penggunaan kosmetik yang mengandung bahan berbahaya, secara continue, berdampak pula pada kerusakan permanen susunan syaraf, otak, ginjal serta gangguan perkembangan janin. Bahkan paparan jangka pendek dalam dosis tinggi dapat menyebabkan muntah-muntah, diare, dan kerusakan ginjal. Zat Karsinogenik yang terdapat didalamnya bahkan dapat menjadi penyebab kangker pada manusia.
Dalam Kosmetik berbahaya, ditemukan pula unsur Hidrokinon. Unsur ini termasuk dalam golongan obat keras. Hidrokinon hanya dapat dikonsumsi berdasarkan resep dokter. Bahaya pemakaian obat ini tanpa pengawasan dokter dapat menyebabkan iritasi kulit, kulit menjadi merah dan berasa seperti terbakar yang akhirnya menimbulkan bercak-bercak hitam pada kulit. Ada pula unsur lain, seperti Asam Retionat atau Tretinoin. Dikenal juga dengan sebutan Rotinoc Acid. Unsur ini dapat menyebabkan kulit kering, dan berdampak pada Teratogenik atau cacat pada janin. Kosmetik berbahaya juga mengandung bahan pewarna Merah K.3 (CI 15585), Merah K.10 (Rhodamin B), dan Jingga K.1 (CI 12075). Ketiga pewarna tersebut merupakan zat warna sintetis yang umumnya digunakan sebagai pewarna kertas, tekstil atau tinta. Zat karsiogenik ini dapat menyebabkan kangker. Parahnya, jika Rhodamin B dalam penggunaan berkonsentrasi tinggi dapat menyebabkan kerusakan hati.
Kebutuhan harian kaum hawa di kota Jayapura atas kosmetik memang menjadi peluang bisnis yang menjanjikan. Hal ini dialami, Martono (32), seorang pedagang Kosmetik di Pasar Lama Abepura. Dirinya tiap harinya dapat meraup keuntungan 100 hingga 200 ribu rupiah. Menurutnya, dengan menjajakan kosmetik berharga murah, konsumen datang dari masyarakat lapisan bawah hingga kelas menengah. Pemuda berperawakan sedang itu menuturkan,  dirinya telah menjalankan usaha ini sejak Oktober 2008 silam. “Sejauh ini usaha saya lancar-lancar saja, belum pernah ada razia atau peringatan tentang bahaya kosmetik yang saya jual,” kata Martono.
Berbeda halnya dengan Anes (36), pedagang kosmetik eceran yang membuka usahanya di Regina Mall lantai 1, Jayapura. Agnes mengatakan, dirinya pernah dirazia Badan POM beberapa waktu lalu. Saat itu ditemukan kosmetik dagangannya bermasalah. Dia sendiri tak mengetahui jika kosmetik yang dijual ternyata mengandung bahan berbahaya. Baginya, kosmetik yang didagangkan telah sesuai prosedur standar yang dikeluarkan Badan POM. “Informasi yang saya terima kalau ada tulisan Balai POM CL atau Balai POM CD pada kemasan kosmetik, berarti kosmetik itu sudah boleh dijual,” kata Agnes sambil menunjukan contoh 2 kosmetik berbeda yang dipajang dalam etalase. “Kami tahu tentang bahaya Mercuri dan Hidrokinon, namun untuk mengecek kembali kandungan bahan baku kosmetik tentu menggunakan uji laboraturium dan itu hanya dimiliki Badan POM,” ujarnya.
Keluhan pedagang kosmetik tidak hanya terjadi di Jayapura. Di Jakarta, para pedagang kosmetik meminta BPOM transparan dalam melakukan pengawasan produk kosmetik sehingga tidak menimbulkan ketakutan berlebih pada konsumen. “Kami bukannya tidak percaya dengan BPOM, tetapi dalam kenyataan ada produk yang ditarik tersebut sudah beredar beberapa tahun, jadi membingungkan ketika tiba-tiba dikatakan mengandung bahan kimia berbahaya,” kata Hendrik, pedagang di pusat perdagangan Kosmetik, Pasar Baru, Jakarta. Dia mengaku, tindakan BPOM melakukan penarikan bahan kosmetik secara tiba-tiba sangat merugikan bisnis yang telah mereka geluti puluhan tahun. “Pembeli berkurang hingga 50 persen setiap kali ada pengumuman kosmetik berbahaya,” katanya.
Di Jayapura,  produk-produk kosmetik yang ditarik BPOM dari pasar tradisional maupun  toko-toko besar dan pusat perbelanjaan berjumlah ratusan. Produk kosmetik berbahaya ini dijual diantaranya di Pasar Youtefa, Papua Trade Center (PTC), Sagu Indah Plaza (SIP), dan pertokoan di sepanjang jalan utama Kota Jayapura.  Dari hasil penyelidikan laboratorium, ratusan kosmetik yang terbukti mengandung zat kimia berbahaya antara lain Olay 4 in 1 complete make up, Pond’s detox eye shadow blusher da Lip gloss, cream powder No. 1 dan 2. Pond’s detox Complete beauty care, DR’s secret 4 skinrecon, DR’s secret skinlight, Ql papaya whitening, Ql day cream, Scolarwhitening cream night cream, Olay total white krim pemutih, Ponds age miracle, Qianyan, Natural 99, banyak lagi yang lain.
Saat dikonfirmasi tentang maraknya peredaran kosmetik dengan bahan berbahaya, Kepala Balai POM kota Jayapura, Muhammad Ramli Bandu kepada JUBI mengatakan, sebagian besar kosmetik dengan bahan berbahaya yang berhasil disita pihaknya tidak memiliki izin edar. Parahnya, kata dia, beberapa kosmetik yang ditemukan berlabel legal dari Badan POM RI. Padahal setelah diperiksa, ternyata, kosmetik tersebut tidak memenuhi ketentuan edar. “Kosmetik berbahaya juga ada yang berlabel legal dari Badan POM RI, namun isi kosmetik setelah dilakukan tes laboraturium mengandung bahan berbahaya. Kemungkinan pelaku menukar isi dalam kemasan kosmetik itu. Kami akui untuk pengawasan sampai ke arah itu perlu penelusuran lebih dalam,” ujar Bandu.
Untuk memberikan efek jera bagi para produsen, distributor hingga ke pengecer, Badan POM menerapkan beberapa pendekatan. Pertama pendekatan persuasif bersifat himbauan. Namun kelak jika ditemukan masih terulang, akan diterapkan cara represif projusticial. Adapun ketentuan pidana terkait permasalahan ini diatur dalam dua Undang-Undang. Pertama, Undang-Undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan dengan ancaman pidana penjara paling lama lima tahun dan denda paling banyak 100 juta rupiah. Aturan ini ditujukan bagi yang memproduksi atau mengedarkan kosmetik mengandung bahan berbahaya. Sedangkan yang mengedarkan kosmetik tanpa ijin edar diancam pidana penjara paling lama 7 tahun dan denda paling banyak 140 juta rupiah. Kedua, Undang-undang nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen. Pelakunya akan diancam pidana penjara 5 tahun atau denda paling banyak 2 milyar rupiah.  
Sementara itu, terkait peredaran kosmetik berbahaya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga menyatakan tidak akan memberikan label halal bagi kosmetika yang mengandung bahan-bahan beracun. “Bahan-bahan kosmetika berbahaya bagi kesehatan seperti yang mengandung merkuri atau logam berat, MUI tidak akan berikan label halal,” kata Wakil Direktur Bidang Sosialisasi Pelatihan dan Kajian Ilmiah Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-Obatan dan Kosmetika (LPPOM) MUI, Ana Roswiem, di Jakarta. Ia menyebutkan, jika unsur-unsur kosmetika berbahaya itu berdasarkan kajian proses produksi juga mengandung barang haram, misalkan babi, maka pihak MUI akan memberikan label haram pada produk itu. MUI seperti dilansir Antara, akan mengkaji kehalalan suatu produk barang itu haram atau tidak, salah satunya dengan cara meneliti proses produksi yakni apakah menggunakan lemak babi atau tidak. (Ardiansyah Matra’is)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *