Bendungan Kali Bumi di Nabire Terancam

 
JUBI — Kesan tak pernah dirawat tampak dari banyaknya tumpukan kayu gelondongan di Bendungan Kali Bumi Nabire, Papua. Jika tidak segera ditangani, jebolnya Situ Gintung bakal terjadi di bendungan yang dibangun tahun 1996 itu.

Tidak hanya tumpukan kayu yang rata-rata berdiameter lumayan besar. Sampah dan tumbuhan liar juga turut mengotori Bendungan Kali Bumi. “Kalau masalah kotor saja tidak apa-apa. Tapi disini banyak potongan kayu. Kami khawatir jangan sampe bendungan ini jebol,” kata warga SP I Nabire, Yoppi Dogopia. Bencana jebolnya Situ Gintung yang memakan korban jiwa, imbas dari terlambatnya penanganan. Bila Bendungan Kali Bumi terlambat ditangani, bukan tak mungkin terancam jebol.
Yoppi kemudian meminta kepedulian pemerintah mencegah tempat rawan bencana, semisal bendungan yang dibangun miliaran rupiah itu. Tumpukan kayu gelondongan yang begitu banyak, jika tidak segera ditangani, dikhawatirkan akan menimbulkan bencana bagi warga sekitarnya. Ya, bisa mengancam ketentraman masyarakat yang bermukim di SP1, SP2, SP3 dan SP C. “Ketika terjadi bencana lantaran terlambat penanganan, apakah pemerintah mau bertanggung jawab?,” kata Yoppi.
Selama ini, orang seringkali menjadikan bendungan tersebut sebagai tempat rekreasi. Cuma akhir-akhir ini jarang dikunjungi. Warga setempat, kata Dogopia, menghendaki bendungan itu dibersihkan. Pekerjaan pembersihan dari tumpukan kayu gelondongan, sebaiknya tidak saling tunjuk antara daerah dengan provinsi. Pemerintah kabupaten harus memfasilitasi agar pengelola kegiatan, dalam hal ini pemerintah provinsi segera turun tangan sebelum jatuh korban. Kini dana senilai Rp 19 Miliar telah digelontorkan ke Nabire. Masalahnya, proyek tersebut tak jelas kepada siapa diberikan. Tender saja belum dilakukan. “Lalu kapan mau tangani bendungan ini?,” tanya Dogopia.
Tudingan pun bermunculan. Ketua Asosiasi Masyarakat Pengusaha Pribumi Papua Kabupaten Nabire, G. W. Duwiri menuding proyek APBN itu “digelapkan” oknum pejabat di daerah. “Dengan dasar apa Dinas PU Kabupaten Nabire kasih proyek besar itu hanya kepada satu kontraktor saja? Memangnya proyek itu didatangkan untuk PT. Paradiso saja ka?,” kata G. Duwiri kepada JUBI di Nabire baru-baru ini.
Kebijakan sepihak pemerintah daerah dianggapnya sebagai bentuk ketidakpedulian terhadap para pengusaha pribumi. “Kami dipandang sebelah mata. Padahal pengusaha pribumi juga mampu kerja proyek itu,” kata Duwiri.

Warga Cemas
Ketua Komisi A DPRD Nabire, Fransiskus Tekege, mengaku, akhir-akhir ini warga sekitar Bendungan Kali Bumi, merasa cemas. “Keluhan itu saya dengar langsung dari warga saat meninjau kondi bendungan,” katanya. Sebagai wakil rakyat, Frans sempat mendesak pemerintah daerah secepatnya mengambil langkah pencegahan. Mengangkat batangan kayu yang ada di sekitar bendungan, dengan cara apapun.
Kegelisahan warga sekitar, kata Tekege, sebaiknya ditanggapi sebelum terjadi musibah. “Pemerintah daerah tidak boleh tinggal diam. Kayu-kayu yang masih mengendap harus dibersihkan. Sebab jika jika tidak, akan mengancam ketenteraman warga,” ujarnya.
Sejauh pengamatan JUBI, tumpukan kayu di bak penampungan Bendungan Kali Bumi kian menyerupai “logpond”. Ini menjadi ancaman bagi keselamatan ribuan warga sekitarnya. Tak tertutup kemungkinan rusaknya fasilitas pemerintah dan sarana umum lainnya, termasuk putusnya jalur darat antara Nabire-Wanggar. “Ya bisa saja kalo pemerintah tidak antisipasi segera,” ujar Yoppi Dogopia.
Rasa ketakutan kian menusuk hati warga Kampung Bumi Raya (SP I), Kali Semen (SP II), Bumi Mulia (SP C) dan Waroki. Ketakutannya muncul terutama bila hujan besar. Sebab selain menampung banjir yang terjadi sewaktu hujan, beban bendungan berat karena tumpukan kayu, sehingga bisa jebol dan air meluap di tengah pemukiman penduduk. Sawah dan tanaman milik warga transmigran bisa terendam air bah. “Selama ini warga di sana biasa takut terutama saat hujan,” imbuh Frans. Lebih dari lima ribu orang di Distrik Nabire Barat dan Wanggar sedang berada diambang bencana jebolnya Bendungan Kali Bumi akibat tak mampu menahan beban kayu dan sampah. Air dari bendungan tertampung sejauh lebih dari 10 Km.
Jika dihitung, beban yang akan dihadapi ketika suatu saat bendungan jebol, akan lebih besar dibanding biaya pengerukan dan pengangkatan kayu di sekitar bendungan itu. “Sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk mencegah sebuah ancaman bahaya. Tak perlu tunggu sampai ada bencana,” ujar Fransiskus sembari menghimbau pemerintah daerah melalui instansi terkait harus segera mengeluarkan kayu-kayu yang tertampung di bendungan supaya terhindar dari ancaman bencana.

Dibersihkan Tanpa Alat Berat
Sebelum proyek 19 Miliar ‘turun’, warga sekitar bendungan Kali Bumi sudah bekerja membersihkan tumpukan kayu besar. Tak ada alat berat. Ditangani CV Cinai Jaya, pekerjaan dilakukan apa adanya.  Kini hasilnya mencapai 57%. Konon kabarnya, pekerjaan pembersihan tersebut telah disetujui Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Papua. Pekerjanya, 80 orang buruh kasar dan 8 tenaga teknisi. Semuanya putra daerah. “Tanpa alat berat, tapi kami sudah bersihkan kayu-kayu yang terapung di bendungan Kali Bumi,” kata Fabianus Mote, SE, tenaga teknisi.
Tenaga pribumi yang direkrut CV Cinai, telah bekerja sejak 2 bulan lalu. Mereka berkomitmen menyelesaikan pekerjaan ini. “Tra perlu ada kontraktor lain datang bersihkan bendungan ini,” tegas Mote. Mereka cuma minta perhatian pemerintah dalam hal ini PU Provinsi Papua dan PU Kabupaten Nabire. “Proposal yang kami ajukan itu saja yang harus diakomodir untuk tangani pembersihan bendungan,” pintanya.
Pembersihan dikerjakan terdorong kepedulian warga setempat mencegah banjir dan dampak lainnya di kemudian hari. “Tidak ada perintah. Kami kerja atas dasar inisiatif kami sendiri,” kata Fabianus. Selama ini warga melihat bendungan dihuni tumpukan kayu. Ini jelas merusak pemandangan areal bendungan yang seringkali dijadikan tempat rekreasi. Juga ada kekhawatiran akan jebol akibat beratnya tumpukan sampah dan kayu-kayu. “Itu yang kami cepat tangani,” ujar Marius.
Sekarang, kata dia, pemerintah dalam hal ini Dinas PU bagian Pengairan bisa memberi kesempatan warga pemilik ulayat untuk membersihkannya. “Terutama dana penunjang kerja bagi tenaga buruh kasar,” pintanya.

Proyek Provinsi
Bendungan Kali Bumi dibangun pemerintah melalui Departemen Pekerjaan Umum (DPU) tahun 1996. Tujuannya, membantu pengadaan air bagi petani dengan target sasaran 4.200 hektar sawah dalam rangka percepatan swasembada beras di Kabupaten Nabire. Tapi, diperkirakan baru memanfaatkan sarana tersebut hanya sekitar 1.500 hektar. PPK Irigasi Nabire Departemen Pekerjaan Umum (DPU), Ir. Matius Tangyong membenarkan, proyek pembersihan ditangani pelaksana di Jayapura. “Bukan kami,’ ujarnya kepada JUBI. Tim dari Jayapura, kata dia, akan ‘turun’ membersihkan batangan kayu dan sampah. “Saya juga sudah dengar keluhan dan harapan warga sekitar Bendungan Kali Bumi,” aku Matius.
Ia juga mengaku, endapan batangan kayu di bendungan bisa mengancam keselamatan ribuan warga sekitarnya. “Kita sudah menghubungi instansi teknis yang menangani irigasi di Nabire,” tandasnya. Sesuai pengalaman pembersihan bendungan tahun lalu, kata dia, membutuhkan waktu selama 4 minggu untuk mengangkut batangan kayu yang terhanyut akibat rembesan air bendungan yang kini mencapai lebih dari 2 Km ke arah hulu Kali Bumi. Menurut Matius, pembersihan memerlukan waktu yang agak lama karena akan mengangkut kayu secara manual, tidak dengan teknologi atau alat berat. “Kayu diangkut secara manual, batangan kayu dipotong lalu diangkat dan dibuang keluar,” urainya. (Markus You)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *