Hotel Marao Biak : Model Pariwisata Instruksi

 
JUBI—Sejak awal pembangunan Hotel berbintang empat di kawasan Wisata Marao, Biak, banyak pihak terutama LSM telah menentangnya. Bagi mereka, inilah model pariwisata instruksi.

Model pembangunan pariwisata instruksi merupakan istilah khusus atas kebijakan daerah yang diperuntukan bagi pengembangan wisata. Kerap kebijakan ini bersifat sepihak dan tak memperhitungkan dampak pengembangan wisata. Akibatnya sering menelorkan kecaman dan sanggahan dari masyarakat pemilik hak ulayat. Di Biak, Papua, model pariwisata instruksi terjadi saat pembangunan hotel Marao. Sebuah hotel berbintang yang diperuntukan untuk wisatawan dan bagi mereka yang ingin menghabiskan masa akhir pekan. Direktur YPMD Papua, Decky Rumaropen kepada Jubi belum lama ini mengatakan, pembangunan hotel Marao sejak awal berdirinya memang telah dikecam. Kurangnya pengelolaan yang baik dan profesional, juga telah mengakibatkan hotel tersebut hancur. Ironisnya, setelah kehancuran hotel, warga dengan penuh sukacita melalap habis sisa bangunan. Mereka mengambil apa saja menjadi milik mereka. “Hotel bermilyar-milyar rupiah hancur dalam waktu sepuluh tahun dan tidak ada bentuk yang tersisa,” kenang Rumaropen.
Rumaropen mengatakan, pihaknya sebelum itu pernah melakukan wawancara dengan 168 turis sandal jepit mancanegara dan mereka menyimpulkan, belum saatnya di Papua khususnya di Kota Biak memiliki atau membangun sebuah hotel berbintang.  Mantan Direktur Yayasan RUMSRAM Biak ini juga mengatakan, salah satu indikator runtuhnya hotel itu adalah, pihak pelaksana pembangunan atau pemerintah terlalu meremehkan studi tentang perilaku masyarakat. “Masyarakat memang tidak merasa memiliki suatu program yang dilakukan pihak pembuat proyek,” kata  Rumaropen.
Dalam bagian lain, sebuah studi sebenarnya pernah dilakukan Yayasan Pembangunan Masyarakat Desa (YPMD) Papua bersama Dr. PM Laksono, dosen Antropologi dari UGM pada 1989 hingga 1994. Keduanya meneliti Pengembangan Pariwisata dan Dampaknya Terhadap Masyarakat Sekitar. Bagi Pemerintah Provinsi Irian Jaya saat itu, 1989-1994, mungkin juga sejalan dengan studi yang dilakukan, sektor pariwisata merupakan alternatif utama dalam meningkatkan pendapatan daerah, selain pertambangan, kehutanan, pertanian dan perikanan. Dengan pertimbangan tersebut, pemerintah saat itu lalu memprioritaskan pariwisata sebagai sektor yang dapat menopang PAD. Dan ini terjadi. Prioritas itu juga didorong oleh banyaknya wisatawan yang datang ke Papua. Wisatawan membanjir dari 1990. Saat itu jumlahnya sebanyak 12.889. Jumlah ini terus berkembang pada 1992 menjadi 13.768 orang.
Hal ini menyebabkan Gubernur Irja, Barnabas Suebu bersama jajarannya, Bappeda Provinsi Papua, membangun hotel berbintang empat di Kampung Marao, Biak Timur. Rencana ini berbarengan dengan upaya Pemda Provinsi Irian Jaya waktu itu untuk menjadikan Biak sebagai koridor dan gerbang masuk pengembangan wisata Papua. Rencana yang mulia. Namun ternyata, komitmen tersebut tak terlalu mendapat dukungan. Dalam beberapa waktu, rencana itu akhirnya mulai menghilang perlahan. Ini seiring dengan semakin menurunnya kunjungan turis mancanegara di Papua. Memasuki tahun 2000 hingga 2008 kunjungan itu makin merosot jauh. Menurut data Seksi Analisa Pasar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Papua, kunjungan wisata pada 2000 hanya 1096 orang, 2001, 1209 turis, dan 2002 hanya 1208. Selanjutnya menjadi sedikit membaik pada 2003 dengan 7416 turis. Setahun setelahnya, 2004, turun lagi menjadi 3413 turis. Pada 2005, jumlahnya mencapai 3201 turis, 2006, 3060 turis dan akhirnya 2007, mentok pada angka 3133 turis. “Pada 2008 tahun kemarin merosot lagi menjadi 2687 turis,” tutur M Korwa. Menurunnya kunjungan wisata ke Provinsi Papua lanjut Korwa, disebabkan kurangnya promosi yang maksimal dari pemerintah. Namun dibalik itu terdapat juga isu tentang keamaanan Papua yang sering konflik. Hal ini menyebabkan para turis kerap mengurungkan niat mereka.
Pembangunan Hotel Marao memang disesalkan banyak pihak. Tidak hanya telah merugikan pemerintah disatu sisi, tapi juga telah menelantarkan potensi wisata yang bisa saja menghasilkan trilyunan rupiah kelak. Alasan yang jelas untuk mendukung pembangunan itu juga tak pernah diperoleh LSM. Hanya satu saja yang mungkin bisa diterima. Yakni pembangunan hotel berbintang itu dilakukan karena terdapat landasan terbang international peninggalan Perang Dunia Kedua dan penerbangan Garuda yang membuka jalurnya ke Los Angeles via Denpasar, Biak dan Honolulu. Penerbangan ini akhirnya terhenti dan tidak dilanjutkan lagi. Direncanakan pada 2009, penerbangan swasta, Air Asia, akan membuka kembali jalur penerbangan ke luar negeri via Biak.

Pulau Owi
Keindahan Pantai Marao memang tiada duanya. Kemegahan itu bersinar lewat hotel Marao yang dibangun, meski akhirnya juga dirusak. Pantai Marao seperti juga Pulau Owi adalah salah satu dari wisata bahari yang terdapat di Papua. Lukisan tentang keindahan pulau Owi, dituangkan sepenuhnya oleh Menteri Perikanan dan Kelautan Fredy Numberi dalam bukunya “Keajaiban Pulau Owi”. Pulau Owi memiliki potensi kelautan, perikanan dan wisata bahari yang naturalistik. Disini juga terdapat landasan udara peninggalan Perang Dunia Kedua yang dikembangkan sebagai obyek wisata sejarah bernilai tinggi. Dalam bukunya, Numberi menyebutkan, ketika berlangsung Perang Dunia Kedua, Pulau Owi digunakan sebagai salah satu basis tinggal landas pesawat pembom Armada VII Amerika Serikat.
Selain Marao dan Owi, laut Supiori di Kabupaten Supiori, juga tak kalah indahnya. Potensi laut disini masih bersifat alami dan natural. Keindahan itu terdapat di Pulau Rani dan Mapia. Di Pulau Rani, karang merah (gorgion) yang sangat banyak makin menambah kemewahannya di pagi hari. Pulau Rani bisa ditempuh dengan menggunakan long boat sejam lamanya dari Korido, ibukota Kabupaten Supiori. sementara itu, Mapia, lebih ke arah Utara, terletak di laut lepas Samudera Pasifik. Ke Mapia bisa ditempuh dengan kapal perintis dalam waktu 18 jam. Potensi wisata yang terdapat di Pulau Mapia juga sangat beragam. Antara lain Penyu Hijau (Green Turtle), Ikan Kakatua (Humphead Wrasse/Cheilinus undulates), Parrot Fish, Baraccuda Fish, Shrimp dan sebaran terumbu karang keras dan lunak yang masih alami.
Tidak hanya di Biak dan Supiori saja. Di Kampung Berawai di Distrik Yapen Timur Kabupaten Yapen, habitat burung Cenderawasih (The Bird of Paradisse) juga masih sangat banyak. Burung ini dilindungi dengan baik.
Potensi laut lainnya bisa juga ditemukan di Kepulauan Moor Mambor di Kabupaten Nabire. Disana ada goa bawah laut (underwater cave), Belut Pasir (garden ill), Sponge, fungia, Gorgonion, Kipas Laut (sea fan), cumi cumi (cutfle fish) dan sebaran terumbu karang yang masih utuh dan alami. Di kawasan Moor–Mambor bisa ditemukan pula Burung Maleo (Maleo Birds) dan KusKus Pohon. Beberapa pulau lainnya seperti Nutabari, Pulau Pepaya, Pulau Kimbur dan Pulau Nuburi juga memiliki potensi alam yang hampir sama.
Selain keindahan pulau, ada pula keindahan Taman Nasional (TN) Laut. Namanya TN Laut Cenderawasih. Terletak membentang dari arah semenanjung Kwatisore sampai bagian Utara Pulau Rumberpon. Keunikan kawasan ini adalah keanekaragaman hayati laut dan pulau. Jumlah pulau di dalam kawasan TN Cenderawasih sebanyak 18 buah dengan beberapa ekosistem yang dikelompokan ke dalam Hutan Tropis Daratan, Hutan Mangrove, Hutan Pantai, Padang Lamun dan Terumbu Karang.
Semua keindahan ini mempesona bumi Cenderawasih. Tak ada duanya. Keindahan itu diperuntukan untuk generasi Papua kelak. Itu pun jika masih ada. (Dominggus A Mampioper)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *