Jangan Melihat Pariwisata Sebagai Sebuah Proyek

 
JUBI—Selama pengelolaan pariwisata di Papua masih dilihat sebagai sebuah proyek, tentu sangat sulit dikembangkan untuk peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat.

Pariwisata di Papua selayaknya dijauhkan dari keinginan meraup untung banyak. Bagi Andre Liem, Koordinator Papua Guide Tour kepada Jubi di Jayapura, pekan kemarin, jika pendekatan pariwisata dilakukan dengan keinginan mencari “proyek”, tentu target yang ingin dicapai akan sangat sulit. “Agak sulit mencapai target yang ingin dicapai,” ujarnya. Dia mencontohkan kegiatan Festival Danau Sentani yang telah dua kali digelar di Jayapura. Menurutnya, minimal harus bertujuan untuk memberdayakan masyarakat agar mereka bisa mandiri. Perlu pula dilakukan studi banding antar masyarakat adat agar mereka bisa saling bertukar pikiran dan membagi pengalaman. Bukan menjadikannya sebagai proyek semata. “Jika masyarakat banyak belajar tentunya akan memberikan nilai tambah bagi mereka untuk saling melengkapi,” ujar Andre Liem. Hal ini sangat penting seperti pengalaman Suku Kamoro yang pernah melakukan studi banding saat Pesta Budaya Asmat digelar di Agats beberapa waktu lalu. “Waktu itu Dr. Karl Muller bersama masyarakat Kamoro belajar proses Festival Budaya Asmat. Mereka belajar bagaimana proses pelelangan patung-patung mulai dari tingkat kampung,” ujar Liem.
Festival Budaya Sentani hanya merupakan bagian kecil dari sektor pariwisata di Papua. Di Boven Digoel, ternyata ada juga wisata petualang di Distrik Yaniruma. Disana, turis bisa melihat permukiman warga suku pedalaman Koroway Kombay yang  masih tinggal diatas rumah pohon di hutan tropis. Hanya sayangnya, untuk menuju kesana, sudah tidak mungkin lagi. Pasalnya, lapangan terbang perintis di Yaniruma telah rusak. Hubungan dengan masyarakat di sana juga terputus sejak beberapa bulan terakhir. Lapangan terbang perintis ini merupakan pintu gerbang bagi masyarakat Koroway, Kombay dan Nambiaha. “Fungsi lapangan terbang perintis ini penting untuk membantu masyarakat dalam suplai kebutuhan hidup termasuk obat-obatan,” ujarnya.
Kawasan ini mulai dikenal sejak 1995 saat journalist George Steinmetz menulis artikelnya. Artikel yang berisikan pula gambar-gambar tentang “Irian Jaya’s People of the trees,” di Majalah The National Geographic itu, secara tidak langsung, berdampak pada masyarakat dunia. Setelah beberapa waktu, turis mancanegara pun berhamburan ke kawasan Koroway Kombay. Mereka ingin melihat rumah pohon. Koroway Kombay akhirnya menjadi tujuan wisata paling digemari dalam tour operator luar negeri dan juga Indonesia. Menurut Andre Liem, para operator tour menggabungkan jalur Baliem valley, Koroway, Kombay dan Asmat. Program ini menjadi highlight selama beberapa waktu karena terdapat kemudahan dengan mencharter pesawat milik MAF dan AMA. Namun itu hanya sebentar. Kini tidak lagi karena rusaknya lapter.
Selain Boven Digoel, Kepulauan Padaido di Distrik Padaido, Kabupaten Biak Numfor juga memiliki aneka ragam wisata. Ada sekitar 24 pulau wisata disana. Kawasan ini terbagi dalam dua wilayah, Padaido Atas dan Padaido Bawah. Di situ terdapat 17 pulau yang masih sangat bagus kondisi terumbu karangnya dan layak untuk dijadikan destinasi penyelaman (Diving Destination) yang sangat menawan. Banyak ikan Baraccuda disana. Antara lain di Pulau Mansurbabo. Pulau ini dapat ditempuh dalam waktu sepuluh menit dari Pulau Wundi.
Menanggapi beragam potensi wisata di Papua yang belum dikelola secara maksimal, Kepala Seksi Analisa Pasar, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Papua, M. Korwa kepada Jubi menjelaskan, kurangnya pengelolaan dan promosi disebabkan oleh kondisi geografi suatu wilayah yang sulit dijangkau. Pemerintah Provinsi Papua sendiri, tambahnya, selama ini telah gencar memberikan promosi tentang tempat wisata di Papua, tetapi hanya terbatas pada obyek wisata yang sudah cukup dikenal, seperti Festival Lembah Baliem, Danau Sentani, dan pendakian puncak Gunung Carstenz. Pemprov Papua sendiri sudah punya rumah promosi Papua di luar negeri, seperti di Frankfurt Jerman dan di China, namun kata dia, belum cukup. Baginya, yang harus dibenahi di Papua sebelum melakukan promosi obyek wisata adalah membangun sarana dan prasarana berupa jalan maupun tempat penginapan di areal wisata yang akan dipromosikan. “Tidak kalah pentingnya adalah bagaimana membina sumber daya manusia (SDM) masyarakat di sekitar tempat wisata agar menerima para wisatawan.” Korwa juga mengatakan promosi semua pihak sangat penting guna memasarkan semua obyek wisata di Papua yang belum dikenal. “Hal ini bukan saja menjadi tugas pemerintah tapi semua pihak untuk mengenalkan potensi Papua ke dunia luar,” ujar Korwa.

Keuntungan Pariwisata
Selain daerah lain di Indonesia, di Papua, potensi pariwisata masih menjadi andalan utama. Potensi ini telah memberi banyak sumbangsih dalam Visit Indonesia Year (VIY) 2008. Saat itu, secara keseluruhan, seperti dikatakan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Jero Wacik, VIY 2008 telah menyumbang devisa dalam negeri sebesar Rp 187 triliun. Untuk wisata domestik saja negara berhasil mendapat devisa sebesar Rp 107 triliun. Berbeda dengan VIY 2007 yang mencapai Rp 80 triliun.
Potensi andalan di Papua memang beraneka. Misalnya di Biak. Disana, Yayasan Rumsram mengembangkan ekowisata laut di Pulau Dabi bersama masyarakat setempat. Para turis menikmati udara dan laut serta pantai yang bersih. Masyarakat setempat juga menyiapkan sarana dan prasarana berupa home stay atau penginapan sederhana yang memadai. Mulai dari kamar yang bersih hingga mencuci pakaian bagi para turis. Masyarakat juga menyediakan kuliner produksi di kampung termasuk makanan lain sesuai selera turis. “Para turis dari Jepang sudah beberapa kali berkunjung ke Pulau Dabi Kepulauan Padaido di Biak,” ujar Deki Rumaropen, Direktur YPMD, Papua. Minimal dengan kunjungan itu, lanjutnya, para turis bisa membagikan pengalaman mereka dan juga mengingatkan masyarakat agar terus menjaga alam lingkungannya.
Bukan di Biak saja, masyarakat di Kampung Tablanusu, Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura juga memiliki budaya Tiyatiki. Yakni melarang warga untuk menangkap ikan pada lokasi tertentu selama setahun. Nanti ketika panen ikan berlangsung atau upacara Tiyatiki berlangsung, para turis bisa menyaksikannya. Beberapa turis asal Jepang sudah berkali kali mengunjungi Kampung Tablasufa dan ikut menyaksikan secara langsung upacara Tiyatiki ini.
Pada Juli 2009, pernah sekali, rombongan turis asal Jepang, rata-rata mahasiswa dan guru datang ke Kampung Tablanusu untuk menikmati alam bawah laut dan pantai di sana. “Mereka ini sering berkunjung ke sana”. Jadi masyarakat juga ikut belajar bagaimana budaya orang lain dan memberikan pengetahuan lokal bagi para turis. Yang terpenting dalam ekowisata adalah bagaimana unsur advokasi atau kampanye bisa langsung dilakukan bagi mereka.
Deki Rumaropen menambahkan, konsep pengembangan ekowisata sangat penting karena terkait erat dengan kehidupan nyata masyarakat setempat dalam mengelola alam lingkungan mereka. Pasalnya konsep ekowisata tidak terlalu muluk dan hanya mengembangkan potensi alam serta budaya masyarakat agar tetap lestari dan terjaga dari generasi ke generasi. Dia menambahkan, pengalaman masyarakat di Pulau Dabi Kabupaten Biak Numfor bisa menjadi gambaran bagaimana memanfaatkan langsung potensi kebudayaan dan alam yang mereka miliki. Karena itu hendaknya studi-studi mendalam tentang perilaku masyarakat selalu secara rutin dilakukan agar bisa mengetahui kemampuan dan keinginan mereka.
“Selama masyarakat masih tidak merasakan manfaat langsung dari potensi alam yang dimiliki. Tentunya ini akan memaksa mereka melakukan tindakan sesaat yang justru akan merugikan mereka sendiri,” kata Rumaropen. (Dominggus A Mampioper)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *