Kisah Sang Juru Parkir

 
JUBI—Sambil memegang peluit, tangannya digerakan mengatur keluar masuk mobil disebuah toko di Abepura, Jayapura. Ia tak malu meski orang banyak memperhatikannya.

Malam itu, seperti biasanya, lelaki berkulit legam itu asyik mengatur lalulintas kendaraan. Ada mobil yang masuk, juga ada yang keluar. Tak terkecuali kendaraan roda dua. Tangan kirinya menggenggam segepok karcis parkir. Sedang tangan kanannya peluit dimain-mainkan. Sesekali, lelaki bertampang lembut itu jedah dipojok toko. Saat itu, ia bisa merokok dan sedikit melepas lelah. Dalam semalam, puluhan kendaraan diatur pria bertubuh kekar itu.
Namanya Nikolas Syabor. Penampilannya sederhana. Bila sedang bertugas, rompi kuning menemaninya. Dia akrab dipanggil Niko. Saban hari, pria berusia 35 tahun ini mangkal didepan Agro Segar. Sebuah Supermarket di bilangan Abepura, Jayapura, Papua. Sebagai juru parkir, Niko tak malu. Ia bekerja pada malam hari. “Kadang-kadang ada yang kasih uang lebih. Ya saya terima saja,” ceplosnya. Saat ditemui Jubi, Niko sementara mengatur sejumlah kendaraan roda empat. Setelah keluar dari area parkir, dia menerima recehan dan mobil itu kemudian melaju. Tarif parkir bervariasi. Untuk kendaraan roda empat, Rp 1.000. Sedang kendaraan roda dua, Rp. 500.
Tak seperti juru parkir lainnya, lelaki asal Pantai Timur, Sarmi itu tak banyak mengeluh. Ia bekerja dengan sejumlah rekannya. Mereka membagi jadwal jaga. Ada yang siang, ada yang sore. Niko kebagian jadwal malam. Ia bertugas hingga jam tutup toko. Sekitar 22.00 WIT. Meski agak merepotkan, namun pekerjaan itu digelutinya tanpa pernah mau menyerah. Pendapatannya permalam bisa mencapai ratusan ribu rupiah. Uang itu digunakan untuk membiayai istri dan dua anaknya.
Di Jayapura, jumlah tukang parkir berkisar hingga ratusan orang. Mereka menggunakan karcis parkir. Walaupun begitu, ada juga beberapa rekannya yang kerap lalai tak memakai karcis. Akibatnya, mereka sering mendapat umpatan dari pemilik kendaraan. Dibeberapa wilayah, ada juga juru parkir yang memegang tongkat pengatur lalulintas. Mereka berjaga bak polisi yang mengatur kendaraan. Sayangnya, dari banyak temannya, ternyata ada juga yang bersikap tak terpuji. Mereka menjaga kendaraan dalam keadaan mabuk. Pernah sekali waktu, rekannya ditahan polisi karena mabuk. Pemuda yang ditahan itu seharian bekerja sebagai juru parkir di depan pertokoan Saga Mall Abepura. Inisialnya NW (25). NW diamankan pihak Kepolisian dari Polsekta Abepura, karena membuat onar di warung penjualan nasi kuning samping toko Sumber Makmur, Lingkaran Abepura. Kejadian itu berawal ketika NW yang mabuk dan masuk ke warung untuk makan. Namun belum lagi makan, pria itu sudah tertidur di atas meja makan. Karena takut, pemilik warung akhirnya melaporkannya ke Polsekta Abepura. Petugas pun datang dan mengamankan NW.
“Priiiiittt”, peluit panjang kembali ditiupnya. Tangannya sesaat melambai-lambai menghentikan kendaraan lain yang hendak melewati. Sebuah Avanza hitam keluar dari Agro Segar. Ia kembali menerima recehan seribu rupiah. “Saya sudah kerja seperti ini sejak tahun 2004,” ujarnya. Ada begitu banyak hambatan yang telah ditemui Niko. Kadang kendaraan yang keluar area parkir tak membayarnya. Ada juga motor yang lari ketika hendak ditagih. “Semua itu sudah saya rasa, tapi tidak apa-apa”.
Sebagai juru parkir, tidak serta merta Niko hanya duduk dan menjaga kendaraan. Dia juga harus bertanggungjawab atas hilangnya kendaraan. Tugas yang maha berat. Dilain sisi, dia juga harus bertarung dengan bahaya. terkadang saat hendak mengatur sebuah kendaraan yang keluar dari area toko, Niko diserempet kendaraan lain. Pernah sekali waktu dia nyaris ditabrak. Dia sempat shock saat itu. Niko juga selalu mengutamakan kedisiplinan dan loyalitas. Ketika teman lainnya datang telat, Niko biasanya lebih awal. Itu dilakukan sebagai bukti, untuk menggapai sesuatu, perlu harus dengan kerja keras. Tidak sekedar main-main. Dia mau menunjukan kepada rekannya, dengan bekerja keras dan disiplin, kelak pasti akan ada hasil yang memuaskan. “Saya bekerja keras karena saya punya mimpi, saya hanya ingin anak saya dapat sekolah dengan baik,” ujarnya.
Dengan kedisiplinannya itu, Niko menjadi panutan. Dia juga disegani. Ketika ada rekannya yang disepelekan pengemudi, Niko biasanya akan membela.

Dibutuhkan
Juru parkir bukan pekerjaan gampangan. Butuh kelihaian khusus. Niko juga demikian. Dia punya keahlian yang tak dimiliki orang lain. Pekerjaan ini sangat mulia. Jika saja tidak ada Niko dan teman-temannya, mungkin saja akan ada banyak kecelakaan lalulintas. Niko telah memberi jasa yang teramat besar. Di membantu polisi mengatur kelancaran berkendara. “Saya rasa biasa saja, tidak ada yang istimewa,” ujarnya.
Meski telah memberi banyak jasa, tapi Niko tak pernah mau meminta banyak. Dia hanya punya satu harapan. Dia ingin jadi PNS. “Saya hanya ingin suatu saat pemerintah bisa mengangkat kami jadi PNS, itu saja,” ungkapnya. Keinginan Niko ternyata sejalan dengan sejumlah rekannya. Mereka juga ingin memiliki pekerjaan tetap. Tidak terkena panas dan hujan, juga tidak harus bermandi peluh. Mereka hanya ingin bisa seperti orang lain yang bekerja didalam ruangan. Paling kurang dengan sebuah pendingin. “Kitong ini mau pemerintah bisa bantu untuk menjadi pegawai honorer di kantor Dispenda Kota Jayapura,” tuturnya.
Sebuah mobil hitam masuk. “Ya…ya…ambil kanan”. Diarahkan mobil tersebut tepat bersebelahan dengan parkiran lain. Temannya yang lain, hanya melihat. Dia juga mengangguk-anggukan kepala. Entah apa maksudnya. “Trada, cuman senang saja karena ada mobil masuk, itu namanya ada uang masuk,” cetusnya sembari tersenyum. Niko akhirnya harus kembali bekerja. Dia punya harapan terakhir sebelum saya pergi. “Mudah-mudahan anak-anak muda bisa sekolah dengan baik supaya bisa dapat pekerjaan yang baik juga. Ini tanah kita. Kita yang harus bekerja keras, bukan yang lain,” ujarnya mengakhiri obrolan. (Ronald Manufandu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *