‘McDonaldlisasi’ Papua

 

 

Oleh : Lamadi de Lamato (*)

 

JUBI — Kemajuan dan pesatnya pertumbuhan ekonomi yang berlangsung di Provinsi Papua termasuk sangat cepat. Bagi siapapun, pertumbuhan ekonomi yang demikian cepat itu patut disyukuri dan tentu merupakan sebuah prestasi yang perlu kita banggakan.

Kalau dihitung-hitung, hanya dalam waktu 10 tahun wajah pembangunan yang tadinya penuh dengan semak-semak dan pohon sagu serta kolam-kolam kangkung berubah menjadi kawasan yang sangat mahal.  Tanah yang tadinya tak berharga alias hanya “ditukar” dengan sedikit minuman keras (Miras) dan uang seadanya, kini tanah-tanah murah itu telah berharga selangit.
Banyak cerita mengenai perubahan cepat tersebut di masyarakat, menjual tanah dengan harga murah lalu uangnya hanya dipakai sebagai kebutuhan konsumtif jangka pendek seperti membeli mobil Avanza, jalan-jalan ala orang mendapat undian. Begitu semuanya ludes, maka bingunglah keluarga tadi. Alhasil, tidak jarang kita menemukan banyak orang asli yang kini hidup ngekost di negeri sendiri.
Pertanyaannya, apa yang salah dari kemajuan diatas? Bukankah tanah ini memang menginginkan yang namanya percepatan pembangunan sebagai prasyarat untuk mengejar ketertinggalannya dengan daerah-daerah lain yang sudah begitu lama di dengung-dengungkan oleh mereka yang pro pada pembangunan?

Kenyataan diatas menunjukan bahwa Papua kini telah berbeda dengan usia-usia pembangunan yang silam. Identitas koteka yang tanpa busana telah hilang, dan kini telah berganti dengan modernitas yang agak nyeleneh atau tidak pantas. Maksudnya, banyak kaum perempuan yang memakai pakaian ala bikini produksi budaya Pop. Konon, budaya tidak pantas dengan memakai rok mini dan pakaian ketat inipun bisa ditemukan ketika saat mereka beribadah di gereja.
Bagi para pakar, kemajuan dimanapun dimuka bumi ini, pasti akan bersinggungan dengan ekspansi-ekspansi idiologi Mc Donaldlisasi yang berbentuk gaya pakaian, selera makan, cara berpikir dan sebagainya. Hampir bisa dipastikan semua orang dimuka bumi ini tidak bisa menolak budaya tersebut. Banyak sekali yang sudah menjadi korban budaya tersebut, dan hanya sedikit yang bisa menyikapi budaya itu dengan sebuah cara yang jitu dan patut dicontoh seperti cara hidup komunitas Bruderhof.
Bruderhof  adalah sebuah komunitas keagamaan (Kristen) yang eksis bahkan maju dalam persaingan globalisasi. Komunitas ini berpegang teguh pada nilai-nilai etis-moral yang kelihatannya agak ekstrim karena kaum perempuannya memakai tudung untuk menjaga tata susila. Dan penghormatan mereka terhadap kaum laki-laki juga mereka pegang teguh. Mereka menolak homoseksual, perceraian, mencampakan hak milik pribadi dengan membesarkan anak-anak mereka secara kolektif.  Komunitas ini sudah ada sejak tahun 1920, dan saat ini mereka berada dibeberapa tempat seperti di Inggris, Amerika Latin dan juga Amerika Serikat.
Komunitas ini memegang nilai-nilai hidup mereka dengan teguh dengan cara yang berbeda. Jika tadinya mereka menolak radio, internet, televisi, facsmile dari komunitas mereka, maka sekarang tidak lagi. Alasannya, alat-alat diatas  adalah sarana yang dapat digunakan untuk mengembangkan usaha komunitas mereka yang bersifat domestik alat-alat rumah tangga yang jangkauannya terbatas menjadi lebih luas lagi. Mereka mengerjakan mainan anak-anak dengan produksi yang terbatas, dengan tekhnologi diatas mereka mampu menciptakan pangsa pasar yang luas dan memakmurkan komunitas ini. Singkatnya, Burdehof menginzinkan tekhnologi modern yang identik dengan globalisasi sepanjang itu dipakai untuk kerja.
Bruderhof menolak menonton film-film Hollywood yang banyak meracuni pikiran dan moral mereka, tapi tatkala bekerjasama dengan para bintang-bintang Holywood mereka sangat membuka diri. Sharon Stone dan Tom Cruise yang nota bene bintang Hollywood dan komunitas Burderhof bisa bekerjasama dalam penyewaan pesawat Jet kepada dua selebriti dunia tersebut. Burderhof sebagai komunitas makmur pemilik pesawat Jet, sementara Sharon Stone dan Tom Cruise sebagai penyewanya. (Tantangan dan Janji Globalisasi ; Masa Depan Sempurna, 19-21).
Nilai apa yang dapat kita petik dari cerita diatas untuk komunitas Papua yang sejak beberapa dekade ini telah bersinggungan dengan globalisasi alias MC Donaldlisasi dalam berbagai segi kehidupan?  Sebelum menjawabnya, terlebih dahulu kita amati dulu fenomena disekeliling kita sebelum nantinya kita benar-benar menjadi negeri yang menelan bulat-bulat globalisasi tanpa menyaringnya (reserve).
Mall-mall, pasar swalayan, salon, gaya pakaian dan lain-lain telah ikut merubah banyak hal yang bisa kita saksikan di tanah ini. Mereka yang memakai koteka dianggap kuno dan terbelakang, sementara yang modern adalah mereka yang rajin ke salon untuk memutihkan kulit, meluruskan rambut alias rebonding semakin menjamur dimana-mana. Tarian adat pelan tapi pasti  sudah dianggap kuno dan kini mulai tergantikan dengan fashion show yang lebih pop dan modern. Kekerabatan yang lebih makrokosmos (alam dan manusia) yang disakralkan dalam adat istiadat, telah berganti seiring dengan gaya hidup  bebas dalam berbagai eksploitasi kehidupan yang bernama “mengejar kenikmatan duniawi yang tidak terbendung”.
Contoh-contoh tentang deviasi makrokosmos itu bisa dilihat dari angka kriminal yang meningkat, AIDS yang walaupun sudah dibendung dengan berbagai program tapi peningkatannya nyaris tidak terbendung pula. Tentu banyak sekali yang “rusak” dan harus diperbaiki dari nilai-nilai yang salah kita adopsi dalam membangun dengan sesungguhnya selama kita bersinggungan dengan arus global yang meracuni diatas.
Lalu apa yang harus kita lakukan dalam mempertahankan dan menemukan kembali nilai-nilai yang tahan banting terhadap pengaruh negatif dari MC Donaldlisasi yang sudah meracuni gaya hidup, cara berpikir generasi Papua beberapa dekade ini? Pertama, restorasi model pendidikan dari tingkat dasar hingga tingkat tertinggi (universitas) melalui pendidikan dengan muatan lokal dan kritis. Filosof Paolo Freira dari Amerika Latin percaya hanya dengan meninggalkan model pendidikan gaya bank, peradaban sebuah generasi bisa dibentuk dan disadarkan dari cara berpikir monopolistis yang dibentuk kaum penjajah selama ini.
Kedua, restorasi pendidikan harus dibarengi dengan pengkondisian instrumen-instrumen vital pemerintahan yang kokoh dan konsisten dalam menyokong nilai-nilai perbaikan dimasyarakat seperti komunitas Burderhof, yang mengawinkan nilai-nilai etis-moral (lokal) dengan modernitas yang saling menyokong, bukan menafikan apalagi yang menghegemoni. Menelan bulat-bulat budaya impor yang tanpa filter budaya lokal (local genius), jelas akan membuat apa yang kita anggap maju, modern tadi tidak lebih seperti kita sedang menggali  pelan-pelan kuburan bagi kematian peradaban kita sendiri.
Sebelum kita tergerus dan akhirnya kehilangan identitas dalam kubangan yang lebih parah, sebaiknya dari sekarang kita mulai menggiatkan dan membangun kerangka nilai-nilai lokal yang berasal dari tradisi yang bisa menyadarkan generasi “X Papua”. Istilah X dialamatkan pada mereka yang lahir dalam kemewahan Otsus alias generasi 1970 hingga 1990 –an yang kini telah berusia  antara 30 hingga 40 tahun. Mereka ini bisa sangat mungkin menjadi korban dari ekspansi gaya hidup, gaya berpakaian dan lain-lain yang ditularkan budaya Pop dalam berbagai segmen kehidupan secara masif, bila kita tidak menyegerakan perubahan itu dengan menemukan kembali nilai-nilai lokal yang kuat dalam menyelamatkan generasi Papua sekarang dan akan datang. Semoga!

(*) Direktur Lembaga Analisa Kebijakan Daerah – La-Keda Institute, Papua

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *