Menyingkap Penembakan Mile 53 Timika

 
JUBI—Peristiwa berdarah kembali mewarnai Timika, Papua. Kali ini yang jadi korban adalah Warga Negara Asing, Australia. Sepertinya ini adalah pesan buat capres terpilih di Indonesia.

Timika memang tepat diakronimkan menjadi “Tiap Minggu Kacau”. Bukan Timika jika tidak ada kacau. Bukan Timika juga jika tidak ada darah mengalir. Dan itu memang terbukti. Darah kembali mengalir pasca pemilihan presiden 8 Juli kemarin. Hanya beda tiga hari pasca pilpres. Dosen komunikasi Politik Universitas Hasanuddin, Hasrullah, berpendapat, kian memanasnya situasi keamanan di Papua tiga hari terakhir pasca pemilu presiden merupakan pesan bagi presiden terpilih Susilo Bambang Yudhoyono untuk menegakkan keadilan politik dan ekonomi bagi Papua. “Penembakan tiga hari berturut-turut di kawasan pertambangan PT Freeport, Tembagapura, mengindikasikan bahwa pelaku ingin mencari-cari perhatian dari presiden terpilih, bahwa Indonesia tidaklah terlalu aman bagi aset perusahaan asing,” ujar Hasrullah seperti dimuat sebuah harian ternama di Indonesia.
Hasrullah mengingatkan, masalah Papua tak bisa ditangani dengan sekadar pidato. Harus ada langkah konkret segera dari Presiden SBY. “Ini juga demi menyelamatkan citra Indonesia di mata internasioal. Apalagi, ada indikasi, pelakunya selalu mengincar aset kapitalisme asing sebagai incaran demi mencuri perhatian dunia internasional,” paparnya.
Hasrullah menilai, keadilan politik yang perlu ditegakkan SBY adalah mengakomodasi keterwakilan warga Papua di pentas politik nasional. Adapun keadilan ekonomi adalah memperkecil kesenjangan infrastruktur antara Papua dan kawasan lainnya, terutama Pulau Jawa.
Penembakan yang terjadi tiga hari lalu, Sabtu (11/7) di Timika tidak hanya membuat heboh Papua. Tapi juga Indonesia. Uniknya, setelah warga Indonesia tewas dalam sebuah penembakan beberapa tahun silam, kini menyusul seorang warga Negara asing. Belakangan, tidak hanya warga sipil, seorang anggota polisi juga harus meregang nyawa karena dihadang kelompok bersenjata. Warga asing yang tewas dalam insiden berdarah itu adalah Drew Nicholas Grant. Drew tewas setelah sebelumnya diterjang peluru tajam yang dihempaskan dari sebuah bukit tak jauh dari lokasi kejadian. Kasus penembakan itu terjadi di areal tambang milik PT Freeport Indonesia di lokasi Mile 53 Tembagapura Mimika. Pihak polisi menemukan tiga buah selongsong peluru berjenis CJ 564 sebagai barang bukti. Sebelumnya insiden terjadi saat Grant sedang menumpang kendaraan dengan seri LWB 012587 yang dikemudikan Lukan Jon Biggs. Grant (38), tidak sendiri. Ada juga penumpang lain warga Indonesia, Lindan Madandan dan Maju Panjaitan. Mereka berempat hendak menuju ke Kuala Kencana bermain golf, namun naas dalam perjalanan peluru tak dikenal merembes masuk menewaskan Grant. Ia tewas di tempat kejadian. Korban sehari-harinya bertugas di Departemen Expert Munical Construction, PT FreePort. Dalam insiden itu, Drew tertembak pada bagian dada dan leher.
Plh Kabid Humas Polda Papua AKBP Nurhabri mengatakan, pasca penembakan, polisi langsung melakukan olah Tempat Kejadian Perkara di Mile 53 Tembagapura. Olah TKP dipimpin langsung Kapolda Papua Irjen Pol Bagus Ekodanto. “Sejumlah barang bukti antara lain slongsong peluru sedang dikumpulkan dari lokasi,” kata dia. Ekodanto sendiri kepada pers mengatakan, belum menemukan titik terang soal pelaku penembakan. Namun yang jelas Polisi telah memintai keterangan kepada delapan saksi terkait kasus tersebut. Sementara itu, Mobil Freeport LWB 012578 yang  ditembaki telah diamankan untuk dijadikan barang bukti.
Berdasarkan hasil otopsi, pihak Mabes Polri memastikan jenis senjata yang digunakan untuk menembak Drew Nicholas Grant Lakis di Mile 53 Timika, adalah pistol laras panjang dengan kaliber 5,5. “Apakah kaliber itu milik umum, milik polisi, atau militer, itu yang masih kita cek,” kata Kepala Divisi Humas Polri Irjen Nanan Soekarna di Jakarta, Senin kemarin. Sampai saat ini, Mabes Polri bekerja sama dengan Polda Papua terus menyelidiki motif penembakan tersebut.
Dalam peristiwa lain, pasca penyerangan sabtu, 11 Juli, Ahad kemarin peristiwa berdarah kembali terjadi di Timika. Hanya beda satu hari dengan penembakan Grant. Kali ini penyerangan menimpa aparat keamanan Densus 88 Mabes Polri dan petugas keamanan internal PT Freeport Indonesia (PTFI) di Mile-51 Tembagapura, Mimika. Pihak kepolisian sendiri tidak menemukan luka tembak di tubuh Bripda Marson, anggota Polda Papua yang ditemukan tewas di jurang dekat area pertambangan Freeport di Tembagapura. Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Nanan Soekarna menjelaskan, korban tewas akibat melompat dari pintu mobil sebelah kiri dan jatuh ke jurang. “Bripda Marson ikut dalam rombongan pegawai Freeport, mobil yang ditumpanginya juga ditembaki orang tak dikenal, dua orang luka, satu orang tewas. Sedangkan Bripda Marson berhasil melompat, jenazahnya ditemukan pada jurang dengan kedalaman 50 meter,” ujar Nanan.
Korban berhasil ditemukan melalui tracking HP, pukul 12.15 WIT. Lebih jauh Nanan menerangkan, pihak kepolisian juga masih terus melakukan penyelidikan mengenai dugaan keterlibatan gerakan Papua Merdeka. “Itu sedang diselidiki, saya kira semuanya harus buka mengenai keterlibatan person to person atau kelompok. Semuanya harus diungkap,” tegas Nanan. Kasus penyerangan yang dilakukan orang tak dikenal di kawasan operasional PT Freeport itu sudah menewaskan tiga orang, yakni Drew Nicholas Grant Lakis, berkebangsaan Australia, Markus Rafi Allo dan Bripda Marson.
Menyusul penyerangan terhadap aparat keamanan Densus 88 Mabes Polri, aparat kepolisian setempat langsung melakukan razia senjata tajam yang dibawa bepergian oleh warga setempat. Razia senjata tersebut digelar aparat keamanan gabungan lingkup Polres Mimika. Razia dilakukan antara lain di kawasan Kampung Kwamki Lama yang dipimpin langsung Kapolsek Mimika Baru AKP Langgia.
Akibat penembakan itu, petugas keamanan PTFI, Markus Rante Allo, meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif di Klinik Kuala Kencana, Timika. Markus Rante Allo terkena tembakan di bagian punggung dan akhirnya meninggal sekitar pukul 12.00 WIT di Klinik Kesehatan Kuala Kencana milik PTFI. Adapun korban lainnya adalah Edy Jawaro, tertembak di bagian pipi, dan Pieter Bunga tertembak di kaki. Sementara itu, dua anggota Densus 88 Mabes Polri, Iptu Ade Gunawan tertembak di bagian kaki, sedangkan AKP Anggung Tjahyono mengalami cedera luka pada jari tangan. “Hingga kini, polisi belum dapat mengidentifikasi pelaku penembakan, baik terhadap Drew Nicholas Grant, maupun tiga petugas keamanan intern PTFI dan dua anggota Densus 88 Mabes Polri itu,” katanya
Atas Insiden penembakan tersebut, pengamat militer LIPI Jaleswari Pramowardhani mengatakan, sebagai suatu hal yang memiliki kemungkinan variabel luas, masyarakat tidak bisa serta merta mereduksi kasus tersebut apakah ada kaitannya dengan OPM atau hanya sekadar embel-embel jelang pengumuman hasil Pilpres 2009. Dia menjelaskan, insiden yang terjadi untuk ke sekian kalinya itu menjadi pekerjaan rumah yang patut diselesaikan pemerintah, khususnya dalam menjaga stabilitas keamanan di Papua. “Freeport itukan sebagai objek vital nasional, sehingga keamanannya perlu diperhatikan. Ini tanggung jawab dari pihak kepolisian, kalau perlu bisa juga minta bantuan dari TNI,” paparnya. Jaleswari mengingatkan, pemerintah perlu berhati-hati dalam melihat persoalan yang satu ini, terutama menjelang pengumuman hasil pilpres. “Tidak bisa menyimpulkan sesuatu, sebelum fakta-fakta pendukungnya jelas. Semoga saja ini tidak ada kaitannya dengan pilpres. Dan, saya harap siapapun pelakunya dapat segera ditangkap,” pungkasnya.
Akhirnya, tanpa mau menduga, peristiwa berdarah ini telah membuat noda bagi Pertiwi. Dalam kasus Wamang di Mil 63 Timika beberapa tahun silam, ada dikenal istilah “Satu Piring Dua Sendok”. Yakni ada sejumlah “pelaku” yang memakan korban yang sama. Meskipun takkan menyingkap takbir, tapi menjadi catatan yang penting untuk pemerintahan mendatang. (Dominggus A Mampioper/Jerry Omona/Dari Berbagai Sumber)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *