Merajut Wisata Yang Rusak

 

 

Terpuruknya Sektor Pariwisata di Papua

 

JUBI — Setelah pendidikan dan kesehatan di Papua, sektor pariwisata kini menduduki peringkat ketiga semakin terpuruk dan “terdegradasi”. Didalam sepakbola, sektor ini mungkin lebih tepat berada dalam divisi I.

Objek wisata di Papua telah terkenal hingga ke penjuru bumi. Mulai dari wisata alamnya yang indah, sejarahnya yang berkesan, budayanya yang khas dengan pekikan suara merdu, religiusnya yang mempesona serta kulinernya yang lezat. Selain itu, ternyata masih ada juga wisata khusus, seperti kerajinan, arsitektur khas dan banyak lagi. Wisata olahraga daerah dan belanja juga semakin menambah pesona kemewahan sektor ini. Didalam wisata budaya, kita mengenal juga adanya kehidupan primitif.  Disini orang bisa menemukan masyarakat yang masih hidup alami. Aris Sudibyo, pemimpin koor yang meraih medali emas di Olimpiade Paduan Suara Internasional di Australia musim panas 2008 mengatakan, “mereka masih pakai koteka, tidur di Honai dengan pakaian seadanya.” Alam Papua yang luar biasa memang bagaikan surga.

Selain alam, budaya dan suara merdu, bakat menyanyi warga Papua ternyata bisa juga jadi komoditi wisata. “Itu salah satu kehebatan orang Papua. Suara mereka itu memang diberikan sejak lahir, naturally beautiful (indah secara alami, red)”. Sama seperti orang Afrika, tambah pemimpin paduan suara Whaku Bim ini, orang Papua lahir dengan rythme dalam dirinya. Menurut dia, bakat mereka bisa berkembang dengan cepat. “Contohnya Whaku Bim ini baru berlatih enam bulan, tapi di dalam Olimpiade Paduan Suara Dunia berhasil meraih medali emas. Itu artinya potensi seninya sangat tinggi,” ujarnya.
Namun sayangnya, keindahan itu tak selalu sejalan dengan grafik keterpurukan yang menimpanya. Dalam budaya karya seni asli Papua, ternyata setelah beberapa dekade berlangsung, kepunahan nyaris menghampirinya. Kekhawatiran itu bisa menjadi kenyataan karena hingga saat ini terkesan tidak pernah ada perhatian pemerintah untuk memberikan perlindungan hukum. Di sisi lain, Peraturan Daerah Khusus (Perdasus) Papua belum mengatur juga tentang usaha perlindungan karya-karya seni dan budaya masyarakat Papua.
Pengawas Kebudayaan dan Kesenian Papua, Fhilip Ramandey, di Biak, mengatakan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua bersama DPR Papua harus segera mengesahkan Peraturan Perlindungan Karya Seni Budaya Papua dan Perdasus sebagai bentuk proteksi dalam menjaga keaslian budaya Papua. “Ketika Belanda menguasai Biak, telah ada pengakuan perlindungan budaya asli Papua. Tapi, sekarang tidak ada peraturan daerah yang melindungi karya seni di Papua,” kata Ramandey. Ia mengatakan, pembentukan Perdasus dan Perdasi Papua untuk perlindungan karya seniman di Papua sangat mendesak disahkan oleh pemerintah dan DPR Papua. “Jangan sampai terjadi negara lain mengklaim seni budaya masyarakat Papua, baru kita pusing memikirkan usaha perlindungan karya seni dan budaya masyarakat Papua. Saat ini banyak karya seni dan budaya Papua mengalir ke negara-negara asing seperti Australia, Papua Nugini, serta Selandia Baru,” kata Ramandey.
Penyiapan Perdasus dan Perdasi Perlindungan Budaya Asli Papua, menurut Ramandey, merupakan upaya masyarakat Papua dalam menjaga keaslian budaya Papua agar tak tergeser. Misalnya yang terjadi di Genyem Kabupaten Jayapura. Disana, warga asli Papua telah mengubah pola makan Papeda dengan tahu. Bahkan, ketika digelar Festival Danau Sentani di Jayapura, beberapa waktu lalu, terlihat pelaku kesenian dan gelar budaya warga Papua adalah orang-orang tua yang sudah uzur usianya. “Itu memprihatinkan karena membuktikan tidak adanya regenerasi. Kenyataan itu bisa membahayakan kalau anak-anak muda Papua sekarang juga tidak diperkenalkan dengan beragam bentuk seni dan budaya Papua”. Menurut Ramandey, patung lukisan yang dijual di kawasan sentra Pasar Hamadi yang dulu dihasilkan masyarakat Sentani, Kabupaten Jayapura, kini telah dapat dibuat pengrajin patung dari Makassar. Juga tifa, genderang khas Biak, pada awalnya dibuat dua tempat tabuhnya. Tetapi, saat ini tinggal satu tempat. “Karya seni asli Papua jika tidak dilindungi dari sekarang, beberapa tahun ke depan akan musnah serta tidak dikenali lagi oleh generasi muda Papua, Karena itu, Perdasus dan Perdasi Papua sangat tepat menjaga keaslian budaya Papua,” kata Ramandey.

Wisata Selam
Selain wisata budaya, wisata bahari juga banyak terdapat di Papua. Misalnya di Pulau Karang, Biak. Sayangnya, dari 85 lokasi wisata selam, 40 diantaranya telah rusak akibat pengeboman ikan oleh para nelayan. Di tempat ini terdapat berbagai jenis terumbu karang dan sejumlah biota laut yang sangat indah. Kunjungan wisatawan ke wilayah ini rata-rata 3.000 turis asing dan domestik per tahun. Jumlah ini termasuk sangat besar dibanding dengan obyek wisata di daerah lain di Papua. Para wisatawan menetap di Biak Numfor antara dua hingga tiga pekan, kemudian bergeser ke daerah lain di Papua seperti Wamena, Asmat, dan Jayapura.
Bupati Biak Numfor, Yusuf Maryen bahkan pernah mengatakan, kegiatan para nelayan dari luar Papua ini tidak dapat ditoleransi lagi. Mereka menggunakan Potasium dan bahan peledak lain. “Sangat disayangkan, pengeboman itu justru terjadi di lokasi wisata selam yang selama ini sebagai obyek wisata, dan menjadi perhatian pemerintah daerah setempat,” ungkap Maryen. Selain bahari, Biak Numfor juga menyimpan obyek wisata sejarah seperti peninggalan Perang Dunia II berupa senjata (pistol) tentara Jepang, goa untuk persembunyian tentara Jepang, bom-bom tua, baju loreng, granat, dan sejumlah peralatan perang lainnya.
Mantan Staf  World Wild Fund (WWF) Bioregion Sahul-Papua, Lindon Pangkali menyatakan, kerusakan terumbu karang tidak hanya terjadi di Biak Numfor, tetapi juga di Kepulauan Raja Ampat, Kabupaten Raja Ampat. Proses pengrusakan terumbu karang di daerah itu terjadi sejak tahun 1990-an. Dan kini sudah sangat memprihatinkan.
Sejumlah terumbu karang beserta biota laut lain hancur akibat bom ikan. Biasanya para nelayan asal Buton menggunakan potasium (racun) untuk menangkap ikan di sekitar perairan Raja Ampat. “Sekitar 40 persen terumbu karang di daerah itu mengalami rusak berat, dan untuk memulihkan dibutuhkan waktu sampai 10 tahun lagi. Daerah ini merupakan kumpulan pulau-pulau dengan keanekaragaman hayati sangat unik baik di dasar laut maupun di darat,” papar Lindon.
Kepulauan Raja Ampat terdiri dari beberapa gugusan pulau besar di antaranya Pulau Waigeo, Salawati, Batanta, Misool, dan Pulau Kafiau. Gugusan pulau kecil di antaranya Gam, Gaag, Kawe, Sayang, Ayau, dan Pulau Asia. Tahun 2002, di daerah ini telah teridentifikasi 450 jenis terumbu karang. Itu berarti setengah dari jenis karang di dunia terdapat di Raja Ampat. Terdapat 950 jenis ikan karang, dan 650 jenis moluska. Ditemukan pula tujuh jenis terumbu karang baru dan tiga jenis ikan baru. Selain Raja Ampat, kawasan lain yang dijadikan referensi terumbu karang adalah Kepulauan Palau. Republik Palau selama ini digunakan sebagai tolok ukur dunia untuk mempelajari terumbu karang. Sejumlah ahli terumbu karang, ikan karang, dan ahli kelautan yang telah melakukan penelitian di perairan Raja Ampat, mengusulkan agar wilayah ini dipromosikan sebagai situs warisan dunia karena daerah ini merupakan “surga” bagi kehidupan laut.

Merajut Kembali
Pembangunan kepariwisataan di Papua memang tidak berjalan mulus. “Kondisi inilah yang membuat pembangunan sektor pariwisata di provinsi tertimur Nusantara ini belum berkembang sesuai yang diharapkan,” kata Mantan Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Papua, Elly Weror, dalam sebuah kesempatan. Ia menghimbau masyarakat Papua yang memiliki hak ulayat di lokasi-lokasi obyek wisata agar ikut menunjang pembangunan pariwisata sehingga bisa berkembang seperti daerah-daerah lainnya di luar Papua “Dinas Pariwisata ingin membantu masyarakat dengan menata lokasi obyek wisata, sedangkan pengelolaanya tetap diserahkan sepenuhnya kepada masyarakat setempat,” kata Weror. (Jerry Omona/Dari Berbagai Sumber)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *