Peredaran Ganja di Papua Memprihatinkan

 
JUBI — Setelah curanmor dan trafficking, peredaran Ganja di Papua kini masuk dalam tingkat memprihatinkan. Ironisnya, perdagangan tersebut melibatkan pula anak-anak.

Peredaran narkoba di Papua semakin memprihatinkan. Dalam beberapa kasus, kerap anak-anak juga dijadikan sebagai kurir ganja. Tak pelak, hal ini menimbulkan kecaman dari sejumlah tokoh. Salah satunya mantan pemimpin umat Katolik Paroki Waris, Kabupaten Keerom, Papua, wilayah yang berbatasan langsung dengan PNG, Pastor John Jonga Pr di Jayapura. Dalam sebuah kesempatan, John Jonga yang kini telah ditempatkan di Arso, secara tegas mengatakan, peredaran ganja di wilayah tapal batas Republik Indonesia (RI) dengan Papua Nugini (PNG) yang semakin marak telah menjadi ancaman serius bagi kaum muda dan remaja di wilayah ini. “Berdasarkan informasi dari masyarakat di tapal batas Distrik Waris, terdapat kebun ganja yang luas dan subur di wilayah perbatasan PNG. Begitu pula penyelundupan ganja dari negara tetangga itu ke wilayah Provinsi Papua melalui Distrik Waris dan distrik-distrik perbatasan lainnya semakin hari semakin marak. Hal ini menjadi ancaman serius bagi perkembangan masyarakat perbatasan RI,” katanya.
Upaya penyelundupan ganja dari PNG memang bukan rahasia baru. Seperti John Jonga, Bupati Keerom, Drs. Celcius Watae, pernah dalam sebuah pertemuan JBC RI- PNG di Jakarta beberapa tahun silam, menegaskan, persoalan penyeludupan di wilayah tapal batas memang sangat serius. Selain penyelundupan ganja juga Marijuana dan minum keras beralkohol tinggi. “Kami berharap ada dukungan dana yang memadai dari Pemerintah Pusat melalui APBN agar pembangunan wilayah tapal batas RI-PNG semakin cepat dilaksanakan sesuai harapan masyarakat di wilayah ini,” katanya.
Meningkatnya peredaran ganja di Papua khususnya di Jayapura juga diakui oleh Kapolresta Jayapura, AKBP Roberth Djoneso, SH. “Ada 15 kasus tindak pidana narkoba yang kami tangani selama periode Januari-April 2009,” ungkap Roberth Djoenso seperti dimuat sebuah harian ternama di Papua. Dikatakan, dari 15 kasus narkoba tersebut, 3 diantaranya adalah narkotika, 8 kasus psikotropika dan 4 kasus zat lainnya. Dari 15 kasus yang ditangani, Kapolresta mengungkapkan, melibatkan 15 orang pelaku. Seorang diantaranya warga Negara PNG.
Selain berhasil membekuk para pelaku, Kapolresta mengatakan, barang bukti yang berhasil disita, diantaranya ganja seberat 0,868 gram, sabu-sabu 0,058 gram, 23 butir ekstasi dan 4 butir psikotropika golongan IV. “Dalam kasus narkoba kami tidak pandang bulu dan tetap menindak tegas pelaku tidak terkecuali terhadap oknum polisi atau pejabat daerah,” tegasnya. Menyinggung mengenai jalur peredaran narkoba di Kota Jayapura, Kapolresta mengungkapkan, dari hasil penyelidikan yang dilakukan, untuk psikotropika seperti sabu-sabu para pelaku biasanya mendatangkan dari Makassar. Sedangkan untuk ekstasi, menurutnya biasanya dipasok dari Manado. “Kalau ganja dari kasus yang kami tangani selama ini kebanyakan dipasok dari PNG,” jelasnya. Untuk peredaran atau jaringan sabu-sabu ini, Kapolresta mengaku sulit diendus. Sebab jaringan mereka cukup rapi dalam memainkan bisnis haram ini. Disamping itu, bandarnya, menurut Kapolresta juga belum tertangkap. “Transaksinya cukup tertutup dan diduga ada keterlibatan oknum polisi seperti yang terjadi saat penggerebekan di Hotel Delima pada awal tahun ini,” tambahnya.
Dari kasus narkoba yang ditangani, Kapolresta mengungkapkan, telah menangkap 2 orang yang diduga sebagai bandar ekstasi. Bahkan kedua Bandar tersebut telah divonis 6 tahun penjara. “Untuk ganja, dua orang Bandar telah berhasil kami tangkap dengan barang bukti sekitar 500 gram,” ungkapnya. Peredaran ganja sendiri, diakui cukup memprihatinkan. Sebab sasarannya sudah hampir semua lapisan masyarakat, termasuk pelajar SMP yang baru-baru ini tertangkap. Kapolresta mengungkapkan, untuk mendapatkan daun ganja sangat mudah dan cukup murah. Dimana hanya dengan Rp 50 ribu, bisa diperoleh 1 paket ganja. Paket berbentuk 1 korek api Agogo itu dapat dihisap beramai-ramai sebanyak 5 linting. “Ganja ini, sebenarnya paling parah dampaknya, karena menyerang syaraf otak”.
Untuk itu, pihaknya berupaya melakukan pencegahan dan memutus mata rantai peredaran narkoba di wilayah hukum Polresta Jayapura, melalui razia rutin, penyuluhan dengan melibatkan BNP dan LSM seperti Granat dan instansi terkait lainnya.
“Hanya saja, dukungan masyarakat sangat diperlukan untuk menjaga lingkungannya bebas dari narkoba. Termasuk kepada orangtua untuk mengawasi dan mendidik anak-anaknya agar tidak terjerumus dalam narkoba,” imbuhnya.

Menggiurkan
Perdagangan ganja di Papua memang menggiurkan. Pemasoknya terutama warga PNG. Mereka kadang menukarnya dengan pakaian, bahan makanan atau handphone. Contoh pelaku pengedar ganja yang ditangkap misalnya, Alberth Timo (24) warga PNG. Timo ditangkap Tim Opsnal Direktorat Narkoba Polda Papua karena kedapatan membawa daun ganja kering di depan Hotel Relat Indah, Jayapura, beberapa waktu lalu. Alberth Timo dijerat penyidik Ditreskrim Polda Papua dengan pasal 82 ayat 1 huruf a, pasal 78 ayat 1 huruf a dan pasal 85 ayat 1 Undang-Undang No 22 Tahun 1997 tentang Narkotika dengan ancaman pidana minimal 4 tahun penjara dan maksimal 15 tahun.
Pelaksana harian Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Papua, AKBP Nurhabri didampingi Kasat II Idik Ditnarkoba, Kompol Jidin Siagian SH, MH, mengatakan untuk kepentingan penyidikan lebih lanjut, tersangka dikenai penahanan. Dalam menangani kasus ganja yang melibatkan warga PNG, penyidik menurut Nurhabri memfokuskan penyidikan untuk mengungkap jaringan peredaran ganja tersebut. “Saat ini, kami mulai fokus untuk mengembangkan jaringan peredaran ganja yang melibatan warga PNG tersebut,” kata Nurhabri. Selain itu, katanya, polisi juga masih melakukan pengejaran terhadap AA yang telah masuk dalam Daftar Pencarian Orang atau DPO. AA menjadi buronan polisi, karena dari pengakuan tersangka, ganja tersebut dibeli dari AA.
Dalam kasus lain, pernah suatu ketika, polisi di Pos Wutung, perbatasan Kabupaten Jayapura dengan Vanimo, PNG, berhasil menangkap dua pemuda, seorang berinisial Yag (21) asal PNG dan rekannya Yar (21) WNI yang terbukti membawa 800 gram ganja. Pemuda Yar, warga kampung Argapura Pantai, Jayapura berprofesi sebagai tukang ojek.
Ditempat berbeda, Polsekta KP3 Laut Jayapura juga kembali menciduk dua warga PNG berinisial CP (28) dan AJ (40) di dekat Bar Holywood, Jayapura. Kedua WNA itu diduga sedang berupaya mengedarkan ganja di Jayapura. Dari tangan mereka, polisi berhasil menyita ganja kering sebanyak 2,65 Kg yang terbungkus dalam dua kantong. Kantong pertama berisi dua kilogram ganja dan kantong lainnya berisi 650 gram ganja. Pembawa ganja masuk ke Jayapura, kebanyakan menempuh “jalan tikus”, kemudian melintasi hutan di wilayah Distrik Muara Tami, Jayapura.
Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Prof. Dr. Umar Anggara Jenie, MSC berpendapat, wilayah perbatasan merupakan daerah yang banyak menyimpan potensi, kesempatan dan tantangan tersendiri. Karena itu jika hal ini tidak ditangani secara baik maka dapat mendatangkan permasalahan yang tidak kecil. “Salah satu potensi permasalahan wilayah perbatasan antar negara adalah wilayah ini potensial untuk melakukan penyelundupan dan merugikan negara dalam jumlah besar. Tidak jarang, daerah perbatasan menjadi ajang konflik antara penduduk yang berbeda kewarganegaraannya karena tujuan-tujuan tertentu,” katanya. Menurut Umar, permasalahan perbatasan antar negara yang begitu kompleks, tidak dapat diatasi secara parsial tetapi memerlukan penanganan yang serentak dan menyeluruh. (Jerry Omona/Dari Berbagai Sumber)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *