Warga Pribumi di Asiki : Tersudut Dalam Gelimangan Kekayaan

 
JUBI — Asiki di Boven Digoel, Papua memiliki nilai kekayaan alam yang tinggi. Sayangnya, tidak semuanya dapat dinikmati para pemilik tanah.

Siang itu, pertengahan tahun kemarin, di lokasi perusahan PT. Korindo Grup, Pasar Prabu Alaska di Asiki, Boven Digoel, Papua, Emiliana Omba dan sejumlah ibu lain tengah sibuk mengangkat pasir dari tempat galian ke atas truk pengangkut. Pasir itu dijual Rp. 1000/kg. Mereka begitu bersemangat mengangkat karung-karung pasir ke dalam truk yang sedang berhenti. Sinar matahari terasa menyengat. Sesekali Emiliana harus mengusap peluh dengan tangannya. Setelah truk itu pergi membawa pasir, Emiliana kemudian berlalu ke tendanya.
Emiliana hanyalah bagian kecil dari banyaknya perempuan lain di Asiki yang menumpuhkan hidupnya dengan mengangkat pasir. Mereka bekerja paruh waktu. Itu dikerjakan karena mereka tidak bisa mengakses pekerjaan lain ke dalam perusahan PT. Korindo Grup, perusahaan patungan antara Korea dan Indonesia. Ada banyak faktor yang mempengaruhinya. Diantaranya, tingkat pendidikan yang rendah. Menurut staf SKP-KAM (Sekretariat Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Agung Merauke), Wenda Maria Tokomonowir, kenyataan ini memperlihatkan adanya pergeseran peran yang telah dan sedang terjadi terhadap perempuan Papua. “Akibat dari tingkat pendidikan yang rendah, pada umumnya perempuaan Papua mengalami suatu pergeseran peran dan tidak mampu bekerja sebagai staf di perusahaan PT. Korindo Grup,” ujarnya.
Pengalaman serupa juga dialami  Ibu Maria, seorang buruh di Perkebunan Kelapa Sawit PT. Tunas Sawa Erma, Asiki, Boven Digoel, Papua. Setiap pagi, pukul 04.00 WIT, Maria  bangun dan menyiapkan makanan untuk suami dan kedua anaknya. Pukul 05.30,  dia juga sudah harus berada dilokasi perkebunan kelapa sawit untuk memanen buah sawit. Ia bekerja hingga petang. Rutinitas ini berlangsung setiap hari.
Dalam artikelnya, Juni 2009, Wensi Fatubun, Promotor Justice, peace and Integration Creation (JPIC) MSC Indonesia, menyebutkan, rutinitas ini telah berlangsung semenjak era 1980 an. Saat itu, masyarakat di Asiki digoyang dengan beragam situasi. Terutama oleh masuknya perusahaan dalam tanah ulayat mereka. Warga kampung di Asiki, dalam beberapa masa, juga digoncang dengan adanya perburuan kayu keras di hutan Papua. Mol. Jenis kayu tropis ini terdapat diwilayah selatan Papua. Digunakan untuk bangunan. Perburuan Mol dimulai sejak tahun 1980. Warga mengejarnya sampai ke dalam hutan terjauh. Mereka meninggalkan kampung hingga berbulan-bulan. Terdiri dari pria dewasa dan membawa alat berat. Aktivitas ini semakin mempengaruhi pergeseran nilai budaya. Terutama sosial dan ekonomi warga. Mereka menjadi sangat tergantung dengan Mol. Mol dijual dengan harga sangat tinggi. Akibat perburuan Mol, kampung menjadi tak terawat. Kotor dan kumuh. Sekolah juga demikian. Gereja bahkan kosong saat ibadah mingguan digelar. “Ini paling buruk,” cetus Wensi.
Goncangan lain yang juga mempengaruhi perubahan aktivitas penduduk di Asiki adalah pengungsian besar-besaran ribuan warga ke Papua New Guinea (PNG) dalam tahun 1984. Saat itu, 14 Mei, akibat sebuah peristiwa politik, antara Organisasi Papua Merdeka (OPM) dan pemerintahan Indonesia, lebih dari 10.000 orang angkat kaki dari tanah milik mereka. Peristiwa ini dibarengi dengan frustrasi akibat perlakuan pengusaha, tender pembangunan dan urusan pembayaran proyek yang tidak benar. Misalnya di Waropko dan Mindiptana. “Peristiwa-peristiwa ini yang sesungguhnya telah  menghancurkan kehidupan ekonomi, sosial dan budaya masyarakat adat,” sebut Wensi.
Peristiwa Muyu, 14 Mei waktu itu, bukan hanya masalah politik. Ada campuran pikiran dan gerakan cargo cult. Cargo cult adalah gerakan pembebasan yang berhubungan dengan keagamaan terutama agama suku. Ini sejalan dengan gerakan-gerakan pembebasan yang dilakukan oleh OPM. Gerakan kebatinan ini terjadi semenjak 1861 di Biak, Papua. Merupakan gerakan tertua di Irian Jaya saat itu. Gerakan Kargo mempengaruhi pemikiran orang Muyu, di Asiki. Mereka berpendapat kelak setelah dari PNG, mereka akan memperoleh kemerdekaan, hidup bahagia, kaya, dan bebas. Saat itu, gerakan lain yang bermunculan adalah, sigo-sigo, sebuah gerakan tradisional dari warga setempat, biasanya berbentuk ritual khusus yang dilakukan dihutan.
Menurut Pastor Cornelis J.J. de Rooij, MSC, gerakan cargo cult disebabkan karena arah hidup sosial ekonomi mereka (masyarakat adat) telah hilang akibat perburuan kayu yang tidak memberi harapan. “Hal ini terjadi karena tidak ada pendampingan dan penyadaran langsung ke masyarakat”.

Pembangunan di Asiki
Setelah gerakan Kargo, perubahan masyarakat di Asiki dalam banyak hal dipengaruhi pula oleh dibukanya daerah pedalaman dari isolasinya dengan membangun jalan Trans Irian. Pembukaan jalan ini sebenarnya merupakan suatu kemajuan besar. Tapi bagi orang Asli Papua yang bermukim disepanjang jalan itu, ternyata tidak. “Mereka tidak memperoleh apa-apa dari pembukaan jalan itu,” ujar Wensi.
Beriringan dengan pembangunan infrastruktur, sekitar tahun 1993, perusahaan besar dengan HPH-nya, PT Korindo Grup, masuk ke Boven Digoel (dulunya masih berada dalam wilayah Merauke). Pabrik Plywood pun dibuka pada Mei 1996. “Waktu buka HPH ada forum terbuka antara pemerintah, institusi terkait dan masyarakat setempat. Saya bertanya kepada tim yang datang dari Merauke, apakah siap membimbing dan menyadarkan orang asli Papua yang masih hidup sebagai peramu untuk nanti bisa ikut perkembangan seperti ini?, Ketua tim dari Merauke enak saja menjawab, itu tugas pastor-pastor to,” kisah Pastor Cornelis J.J. de Rooij, MSC.  
Selang beberapa tahun setelahnya, 1998, di Asiki dibuka juga lahan kelapa sawit. Pengembangnya PT Korindo Group. Luasnya 19.000 ha.  Di tahun 2004 hingga 2005, di Getentiri, sebuah wilayah distrik di Boven Digoel, dibuka lagi seluas 20.000 ha lahan sawit. Terdapat pula pabrik pengolahan kayu log di daerah itu yang juga milik PT Korindo. Bahkan, sejumlah kayu olahan yang diekspor dari daerah itu merupakan hasil olahan PT Korindo Group. Di Asiki terdapat pula pabrik pengolahan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO). Sekitar 12.000 penduduk setempat dipercaya merawat lahan tersebut. Produksi sawit rata-rata 150.000 ton per tahun tandan buah segar. Untuk mengelola usaha perkebunan tersebut, PT Korindo mempekerjakan sekitar 5.000 orang terdiri dari warga dari luar dan penduduk asli. Kini, PT Korindo sedang mengembangkan tanaman Pinus pada areal sekitar 100.000 hektar. Pohon Pinus sangat penting sebagai bahan baku pabrik kertas. Potensi hasil hutan di daerah ini memang sangat tinggi. PT Korindo telah beroperasi di daerah ini sekitar 12 tahun. Selain melakukan penebangan kayu, juga memiliki pabrik pulp, sawmill (penggergajian) yang hasilnya diekspor ke luar negeri.
Namun, dibalik usaha HPH tersebut, ternyata terdapat sejumlah persoalan yang mengundang ketidakpuasan warga. Misalnya, terjadi kasus penyanderaan terhadap karyawan PT Korindo oleh OPM pada tahun 2001 sebagai bentuk tuntutan atas hak ulayat warga setempat yang belum dilunasi oleh pihak PT Korindo. Daerah ini memang dikenal sebagai pusat operasi OPM. Mereka selalu berpindah-pindah tempat. Kadang ke PNG (Papua New Guinea) dengan melewati Sungai Fly saat dikejar oleh aparat keamanan. “Kalau Papua mau maju, memang perlu ada investor. Tetapi perhatikan juga hak dan keselamatan manusia Papua,” kata Pastor Cornelis J.J. de Rooij, MSC.
Asiki kini memang nampak jauh berbeda. Jika dulu terlihat hutan hijau membentang sejauh mata memandang, kini tidak lagi. Sawit telah menguasainya. Warganya juga masih tetap mengangkut pasir. Entah sampai kapan? (Jerry Omona)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *