Waria dan HIV AIDS

 
JUBI — Hanya demi sesuap nasi, mereka menghalalkan takdirnya sebagai penjaja seks. Tak pelak, beberapa diantaranya tertular HIV/AIDS dan meninggal.

Wajahnya dimake up dengan riasan menor. Lipstiknya saja sangat tebal. Pakaiannya juga dibuat mini. Namanya Gladies. Jalannya lenggak lenggok. Gladies sebelum bekerja disalon miliknya di Merauke, melakoni profesi sebagai waria jalanan. Kekasihnya sih katanya seorang dokter. Asalnya dari Ambon. Usianya masih muda, 24 tahun. Gladies menyukai profesi terdahulunya itu karena disitu dia bisa mendapat banyak uang. Sehari-harinya setelah matahari terbenam, dia memulai berbenah dan merias diri layaknya wanita kebanyakan. Setelah selesai, dia pun beranjak ke beberapa titik tersembunyi. Tidak banyak warga yang tahu tentang waria jalanan itu. “Kita itu kerja sekarang di salon. Kalau dulu memang kerja dijalanan. Tapi saya tahu itu tidak baik. Karena teman-teman juga sudah banyak yang kena penyakit jadi kita kerja sekarang tidak begitu lagi,” ujarnya
Gladis merupakan salah seorang waria jalanan yang pernah ditolak keluarganya. Karena frustasi, akhirnya dia mulai bepergian jauh. Dari Ambon hingga ke Papua. Akhirnya menetap di Merauke sejak 2 tahun lalu. Setibanya di Merauke, dirinya belum bisa mendapat pekerjaan. Mulailah ia bekerja sebagai waria jalanan. Meski tidak seperti Pekerja Seks Komersial lainnya. Namun dirinya bisa memperoleh uang yang sangat banyak. Selang beberapa waktu, setelah mengetahui ada beberapa temanya yang telah terjangkiti HIV/AIDS, disitulah ia mulai berhenti sebagai waria jalanan.
Di Jayapura seperti dimuat sebuah harian ternama, waria disini juga ada yang berprofesi sebagai penjaja seks jalanan. Seorang diantara mereka, Henny Iswayudi misalnya, juga menjajakan dirinya untuk mendapatkan uang. Ia merupakan waria yang disegani teman-temannya. Tak pelak, dalam pertemuan Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) setanah Papua beberapa tahun lalu yang difasilitasi Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Papua, Henny terpilih menjadi ketua. “Dulu yang mangkal di sini ada 19 orang, sudah meninggal 11 karena positif HIV,” kata Henny tentang nasib kawan-kawannya. Menurut dia, 90 persen waria di Papua sudah positif  HIV. Merekapun selalu menjelaskan kondisi itu kepada pelanggan dan menyarankan agar menggunakan kondom saat berhubungan seks. “Tapi banyak yang tidak mau pakai kondom. Sudah dijelaskan nanti bisa mati karena AIDS… eh, malah bilang: tak usahlah pakai kondom, sudah biar kita mati sama-sama,” tutur Henny.
Henny dan teman-temannya adalah sekumpulan orang yang hidup pada situasi terdesak. Karena tidak memiliki pekerjaan, mereka terpaksa menjadi pekerja seks komersial (PSK) untuk melanjutkan hidup. “Sebenarnya kami sangat ingin punya tempat untuk berkumpul dan berusaha. Di sana nanti kami bisa berbagi keterampilan salon, membuat kue, sehingga kami tidak perlu ke jalanan lagi,” begitu keinginan Henny. Padahal, jika mereka tidak lagi berpraktik, tentunya penularan HIV bisa diminimalisasi.
Penularan HIV AIDS di Papua terjadi akibat hubungan seks beresiko tinggi. Jika di Jakarta angka pengidap HIV/AIDS terbanyak adalah mereka yang menggunakan jarum suntik narkoba, di Papua sebaliknya. Tanpa kondom. Karena itu, pemerintah dan KPA Provinsi Papua sangat gencar mengampanyekan pemakaian kondom, baik melalui baliho, poster, maupun iklan di radio. Bahkan, iklan gambar pemain sepak bola Persipura yang dibawahnya bertuliskan “Kitorang Semua Pakai Kondom” dipasang di tempat-tempat strategis, termasuk di Bandar Udara Sentani, Jayapura. Dalam sebuah kesempatan, saat KPA Provinsi Papua mengampanyekan hidup “aman”, Pendeta Canon Gideon Byamugisha dari Uganda (Afrika Timur) datang ke tanah Papua atas undangan World Vision Indonesia justru mengampanyekan hidup “benar”. Dalam berbagai pertemuan baik dengan para tokoh agama, mahasiswa, pejabat eselon II-IV, kalangan pengusaha, DPRD, LSM, maupun dalam ibadah Oikumene, Canon Gideon Byamugisha selalu mengingatkan bahaya HIV dan cara menghindari serta mencegahnya, yakni setia kepada pasangan hidup (baik suami atau istri). Canon Gideon Byamugisha, pengidap  HIV positif ini memberikan pemahaman bagi mereka dengan HIV/AIDS untuk tidak perlu rendah diri atau malu karena nantinya justru tidak akan mendapatkan pertolongan yang tepat. Byamugisha menduga ia positif karena selama hidupnya pernah mendapatkan empat kantong transfusi darah dan 350 kali suntikan malaria.
“Mungkin karena itu saya positif. Tetapi, saya memutuskan untuk memecahkan kebisuan ini dan menyebarluaskan informasi agar HIV dapat dicegah,” katanya. Pemaparan Canon Gideon Byamugisha kepada para pejabat eselon II-IV, 11 Mei beberapa tahun silam, di Gedung Sasana Krida Kantor Gubernur Papua di Jalan Soa Siu Dok 2 Jayapura ternyata tak sejalan dengan kehidupan malam di kota ini. Malam harinya, di Dok 2, justru menjadi tempat rendezvous anak-anak muda Papua yang bisa jadi berujung pada seks bebas. Tidak hanya itu, di lingkaran Abe, pusat kota distrik Abepura, di mana banyak terdapat perguruan tinggi dan sekolah, dengan mudah kita bisa temui remaja putri yang bisa diajak berkencan oleh siapa saja.
“Pokoknya, kalau ada cewek pakai baju adik atau baju miskin dan bawa handphone, dia pasti bisa diajak. Apalagi kalau membawa mobil, cewek itu akan langsung naik mobil,” tutur Arnold, warga Jayapura. Dalam pergaulan di Jayapura, baju adik yang dimaksud adalah baju ketat, sedangkan baju miskin adalah baju mini tank top tanpa lengan. Meski tidak semua perempuan muda bisa diajak berkencan, ciri-ciri fisik dan pakaian seperti itulah sebagai penanda perempuan bisa diajak “Jalan”. (Jerry Omona)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *