70 % Warga Asli Papua Teridap HIV/AIDS

 
Tidak ada kata lain untuk melukiskan dasyatnya kematian karena HIV/AIDS. Tidak juga bagi orang Jawa. Di Papua, orang asli harus menelan ludah karena HIV/AIDS telah membabat begitu banyak nyawa. Sungguh menyedihkan. “
 
Dalam 16 tahun sejak 1992, sudah sebanyak 70 % orang Papua terkena HIV/AIDS,” ujar Herman Saud, mantan Ketua Synode GKI dalam bedah buku “HIV/AIDS dan Sirkumisi (Sunat) Dalam Pandangan Alkitab”, belum lama ini di Jayapura. Pernyataan Saud didasarkan pada catatan Dinas Kesehatan Provinsi Papua yang menghimpun 4.548 kasus akibat HIV/AIDS. Terdiri dari 2.375 HIV dan 2.173 AIDS. Ini tentu sangat mencemaskan. “Kalau kita menggunakan analog dengan menggunakan fenomena gunung es, berarti semua orang Papua sudah menderita HIV/AIDS,” ujarnya. Dia meyakini, jika dalam sepuluh tahun ke depan tidak ada upaya serius untuk penanganannya, maka orang Papua bisa habis karena menderita HIV/AIDS.
Persoalan HIV/AIDS juga diamini DR. Benny Giay. Baginya, jika berbicara masalah HIV/AIDS di tanah Papua, diperlukan adanya kesamaan persepsi. Paling tidak arif dan tidak sepihak. “Jadi harus dipahami tentang persepsi Papua yang jelas,” tegasnya. Semua pihak kata dia, harus melihat persoalan ini sangat penting.
Menurutnya, HIV/AIDS timbul akibat interaksi sosial yang tidak sehat. Kontak sosial itu mengakibatkan, sejumlah orang dalam suatu suku tewas. Misalnya orang Marind di Merauke. Mereka menjadi lalai atas sebuah peradaban dan akhirnya menjalaninya tanpa lagi mau mengikuti aturan adat yang baik. Mereka bergaul dengan banyak orang, mematuhi pedoman baru dalam peradaban dan kemudian terperosok. “Mereka banyak yang mati dan nyaris punah,” ujarnya.
Interaksi sosial orang Marind di Merauke berawal dari masuknya pemburu asal Darwin, Australia. Mereka mencari dan berburu burung Cenderawasih. Mereka juga membawa sebuah pergaulan bebas. Dengan masuknya peradaban bebas pada 1913, beragam penyakit ganas juga mulai bermunculan. Penyakit ganas menyerang orang Marind hingga menimbulkan banyak kematian. Pada 1914, seorang dokter, Sitanala tiba di Merauke untuk mengobati masyarakat yang terkena penyakit aneh tersebut. Penyakit itu diketahui kemudian pada 1921 sebagai penyakit kelamin. Untuk mengatasi dampak yang lebih luas, diambil kebijakan agar warga Suku Marind yang sehat dipisahkan dari mereka yang menderita penyakit kelamin. Sebanyak 22 KK orang Marind yang sehat ditempatkan di Kampung Teladan yang dibangun pada 1917. Beberapa waktu kemudian, ditambah lagi sebanyak 80 KK. Sehingga totalnya menjadi 100 KK. Diperkirakan waktu itu sebanyak 40 % penyakit kelamin membunuh warga Marind. Sisa yang hidup hanya 60 % saja.
Penyakit aneh dan mematikan berikutnya adalah HIV/AIDS. Masuk pada 1992. Pengidap awal virus HIV/AIDS ditemukan pada nelayan asal Thailand. Meski sebenarnya masih  ada kontroversi pendapat apakah benar nelayan Thailand atau sebenarnya sudah ada sebelum 1992. Namun demikian, menjadi jelas, akibat kontak sosial antar budaya masyarakat yang buruk, penyakit mematikan bermunculan juga dengan marak.

Sunat
Masih dari bedah Buku tentang Sirkumisi yang diterbitkan KPAD Provinsi Papua, Dr. Samuel Baso, ahli penyakit dalam, Koordinator VCT (Voluntary and Counseling Testing) RSUD Dok II Jayapura menegaskan, sunat sangat berhasil mengurangi menularnya penyakit HIV/AIDS sebesar 60 %. Meski hal tersebut bukan berarti pada saat senggama tidak menggunakan kondom. Kondom tetap digunakan sebagai pengaman.
Sunat pria adalah operasi pemotongan bagian kulit kulup dari penis. Hal ini biasanya dilakukan segera setelah kelahiran atau selama masa puber sebagai suatu upacara perkembangan usia anak. Sunat secara medis bagi pencengahan HIV merupakan suatu strategi substansial untuk menurunkan resiko pria terjangkit HIV. Istilah sunat medis pria digunakan untuk membedakan praktek sunat yang dilakukan oleh petugas kesehatan terlatih, profesional dan sunat secara tradisional sebagaimana dipraktekan di dalam upacara adat. Tiga uji coba besar dengan menjangkau sekitar 10.000 laki-laki heteroseksual di Kenya, Afrika Selatan dan Uganda telah menunjukan, pria dewasa yang disunat memiliki 50% tingkat infeksi HIV lebih rendah dibandingkan dengan pria yang tidak disunat.
Ketiga uji coba tersebut menemukan, sunat medis pria menawarkan dalam kombinasi dengan kondom, konseling penurunan resiko dan  perawatan infeksi menular seksual (IMS) secara signifikan menurunkan resiko pria terinfeksi HIV melalui hubungan seksual hingga 60 %. Data ini konsisten dengan data observasi yang melihat pada beberapa lokasi  di mana sunat  merupakan praktek yang lazim. Studi khusus ini tidak membicarakan kemanjuran dari sunat pria pada hubungan seksual melalui anus atau penularan dari pria ke pria di antara pria bersunat yang HIV positif.  Uji coba ini jelas mengumpulkan beberapa data tentang angka dari perilaku berisiko di antara para relawan. Data tambahannya adalah penggunaan kondom, jumlah pasangan, pengambilan keputusan seksual dan variable lainnya termasuk saat diperkenalkannya sunat pria untuk pencegahan HIV.

Keberhasilan atau Keterpurukan?
Dari prediksi beberapa ahli, sedikitnya 29.000 orang di Provinsi Papua telah teridap virus HIV/AIDS. Ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Papua Constant Karma di Jayapura mengatakan, fenomena penularan dan penyebaran virus HIV/AIDS ini seperti gunung es. Saat ini hanya terlihat permukaannya saja, sedangkan di bagian dasar justru lebih besar dan tidak tampak. Data triwulan Dinas Kesehatan Papua mengenai perkembangan jumlah pengidap HIV/AIDS di Provinsi ini bisa menjadi alasan kekhawatiran Constant. “Data terakhir yang dikeluarkan Dinas Kesehatan Provinsi Papua, tercatat 4.548 orang positif mengidap, sedangkan yang 29 ribu orang ini kemungkinan disebabkan karena masyarakat yang beresiko terinfeksi HIV enggan memeriksakan diri,” kata Constant.
Menurutnya, permasalahan utama Provinsi Papua adalah bagaimana menyadarkan masyarakat untuk mau memeriksakan diri sehingga bisa diketahui apakah mereka tertular HIV atau tidak. “Masih sedikit sekali orang yang mau berkonsultasi pada konselor KPA dan memeriksakan diri, padahal sebagian besar mereka yang berkonsultasi dan siap melakukan tes pemeriksaan ternyata positif mengidap virus mematikan itu,” katanya.
Kekhwatiran Karma sepertinya tepat. Apalagi dari tahun ke tahun angka tersebut tidak pernah mengalami penurunan. Dalam bagian lain, dengan semakin meningkatnya angka tersebut, sebenarnya merupakan keberhasilan membongkar fenomena gunung es. Namun apakah dengan membongkarnya, kemudian HIV/AIDS bisa dihilangkan?. Sepertinya sulit untuk diterjemahkan.
Di Papua, keberhasilan membongkar gunung es telah Nampak semenjak beberapa tahun lalu melalui berbagai penelitian. Hasil Surveilans Terpadu HIV-Perilaku Tahun 2006 (STHP 2006) atau IBBS (Integrated Bio Behavioral Survey) di Papua menunjukkan prevalensi kasus HIV wilayah tersebut paling tinggi di Indonesia. Siaran pers dari Pusat Komunikasi Publik Departemen Kesehatan, juga menyebutkan, menurut STHP2006 yang dilakukan Departemen Kesehatan, Badan Pusat Statistik (BPS) dan Komisi Penanggulangan AIDS Papua, daerah sebaran kasus HIV di wilayah Papua juga mengalami perluasan.  Pada 31 Maret 2007 misalnya, total kasus AIDS di Papua per 100.000 penduduk adalah 1.122 kasus. 227 diantaranya meninggal dunia. Menurut hasil estimasi, populasi rawan tertular HIV di Papua mencapai 22.220 dan hanya sebagian kecil dari estimasi kasus tersebut ditemukan pada kelompok yang umumnya rawan seperti pengguna napza suntik, Wanita Penjaja Sex (WPS), pelanggan WPS, dan waria.(DAM/Yunus Paelo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *