Mimpi Si Pembersih Sampah

 
JUBI — Ijuk itu masih ditangannya ketika sebuah kendaraan melewati jalan berair. Percikan yang mengenainya tak dihiraukan meski banyak mata memandang.

Sreeet…sreeet…ijuk terikat sebuah tali merah tergenggam erat ditangannya. Sudah belasan meter ijuk cokelat itu menyeret sampah dijalan beraspal. Dikiri kanan, air tergenang memenuhi jalan rusak. Deru kendaraan dengan asap berbau pesing terdengar melaju tiap detik. Beberapa meter didepan, hiruk pikuk pelajar yang hendak ke sekolah bersarang ditelinganya. Tangan kananya memegang sapu lidi. Kirinya alat pengambil sampah. Temannya tiap pagi hanyalah mereka. Ada juga topi usang dan kaos oblong lusuh. Ketika membelakangi saya, sinar mentari pagi menerpa punggungnya. Saya baru tahu jika ada sobekan pada kaos oblong yang dipakainya. Saat itu masih jam enam.
Dikejauhan, seorang wanita renta mendorong gerobak makan. Dipojok sebuah toko, pria lajang bersandar dimotor bututnya. Ojek. Beberapa pelajar mendekatinya. Ojek…jek…saya hanya melihatnya. Menunggu. Beberapa menit berlalu, diapun selesai dengan pekerjaannya. Sampah disepanjang jalan beraspal itu telah bersih. Dia memasukknya dalam karung berserat putih yang dipikulnya. Sampah, rata-rata berbahan plastik, diletakkan didekat sebuah pohon. Sampah itu akan diangkut oleh mobil pengangkut. Tugasnya hanya membersihkan, mengumpulkan dan menaruhnya pada tempat yang telah disediakan. Selanjutnya, pada pukul 06.00 WIT, truk sampah milik Dinas Kebersihan dan Pemakaman Umum Kota Jayapura akan mengangkut dan membuangnya ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Nafri. TPA Nafri beroperasi sejak tahun 1994. Tempat ini adalah sebuah jurang. Sampah dibuang langsung ke jurang tanpa pengolahan. Kalaupun ada, pemisahan dilakukan oleh pemulung. Sisanya di dorong traktor ke dalam jurang, lalu dibakar.  
Ada sekitar 30 truk sampah yang beroperasi di Kota Jayapura. Truck-truck ini mampu bolak balik ke TPA sebanyak tiga hingga empat kali sehari. Produksi sampah warga Kota Jayapura sendiri bisa mencapai 825 hingga 1200 meter kubik sampah. Jika penduduk Kota Jayapura saat ini mencapai 300.000 jiwa maka diperkirakan jumlah sampah yang dihasilkan sebanyak 900.000 kg sampah atau sekitar 900 ton per hari.

Tugas membersihkan sampah telah dila-koni Degei sel-ama tiga tahun. Mim-pinya tak muluk-muluk. Dia hanya ingin jadi pengac-ara. Asalnya dari Paniai. Nama len-gkapnya Yosias Degei (23). Dari upah mem-bersihkan sampah, Rp. 600.000, digunaka-nnya untuk biaya kuliah. Juga untuk merawat Babi peli-haraannya. Baginya, pekerjaan memungut sampah tak banyak memerlukan keahlian. Cukup ber-modalkan sapu dan karung. Tidak semua orang bisa mengerjakan pekerjaan seperti itu. Apalagi dengan harus bangun tiap jam lima pagi dan memegang ijuk dijalan raya. “Saya sudah tiga tahun kerja memungut sampah dan menyapu jalanan,” ujar putra pertama dari Yulius Degey dan almarhumah Kayame ini. Degei hanya berdua dengan adik perempuannya yang sementara bersekolah di SMA Nabire. Kelas tiga. Dia sendiri kuliah disebuah perguruan tinggi di Jayapura. Semester akhir.
Sambil mengusap peluh didahinya, mahasiswa semester VII Sekolah Tinggi Hukum Umel Mandiri Jayapura itu mengaku gembira dengan pekerjaannya. Ayahnya adalah duda selama 44 tahun sepeninggal ibunya. Dia tidak banyak mengeluh. Profesi itu dilakoninya dengan semangat meski harus berpeluh tiap hari. Sepintas, Degei terlihat seperti pria 40an. Ter-nyata tidak. Janggut tebal, perawakan kekar dan w-ajah bergurat ketuaan, me-njadikannya memang na-mpak lebih tua dari usia-nya.
Bekerja seperti Degei tentu mem-butuhkan me-ntal lebih. Bayangkan saja jika tak ada dirinya. Tentu sam-pah akan me-numpuk tiap harinya. Apa-lagi di sep-anjang jalan protokol yang sering dilalui pej-abat yang he-ndak menuju Bandara Sentani. Sa-mpah di Jayapura memang tak men-yamankan tiap orang. Pernah sekali waktu para ahli dari Pemerintah Kerajaan Swedia menjajaki kerjasama dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Jayapura, Papua untuk membangun industri pengolah sampah dan limbah sebagai pengganti bahan bakar minyak (BBM). Kepala Bagian Tata Usaha Dinas Kebersihan dan Pemakaman Kota Jayapura, Philipus Mayor, saat itu menjawab, memang dibutuhkan terutama untuk menjadi biogas dan kelistrikan agar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat di Jayapura. Ia menjelaskan, penjajakan kerjasama itu terkait dengan upaya Pemerintah RI dan Pemerintah Kerajaan Swedia yang telah melakukan kerjasama pada Program “Waste Refinery” untuk mengubah limbah menjadi produk yang bermanfaat dan optimasi konversi limbah menjadi produk berkualitas untuk masyarakat berkelanjutan

Perjuangan
Bagi Degei, hidup itu perjuangan dan harus dijalani dengan penuh semangat. Degei tinggal dan menempati sebuah lahan milik penduduk asli Waena yang telah dibeli orang Jawa di bilangan Bumi Perkemahan (Buper). Di atas lahan itu, dia juga menanam singkong dan sayur-sayuran. “Kalau kakak butuh singkong, nanti bisa kontak saya,” ujar Yosias.
Bujangan asal Suku Mee Kabupaten Paniai ini juga rajin mengumpulkan sampah sisa makanan dan sayuran di wilayah Perumnas I Waena. Sampah ini bukan untuk membuat pupuk kompos tapi diolah sebagai pakan ternak. “Saya ada piara babi empat ekor,” ujarnya. Babi peliharaan itu nanti akan dijual untuk kebutuhan kuliahnya.
Degei dan sampah memang sangat erat. Hari-harinya diisi selain kuliah pada siang harinya, juga dengan mangangkat sampah disekitar kerumunan orang. Pekerjaan memungut sampah baginya bukan sebuah profesi membosankan tapi menarik untuk dinikmati dan digeluti. Memang dalam hati kecilnya terkadang rasa kesal timbul jika melihat jika ada orang yang membuang sampah. “Mau bilang apa, mau marah tidak bisa, yah terima saja,” ujarnya.
Kini, Degei ingin dengan pekerjaan saat ini, kuliahnya bisa secepatnya selesai. Dia ingin mimpinya menjadi pengacara dapat tercapai. Dia juga ingin adiknya dapat kuliah dan bisa juga berhasil. “Minimal saya harus berjuang agar tidak sia-sia belajar di Kota Jayapura ini,” harapnya.
Matahari telah meninggi. Pesona alam pagi di Waena nampak kekuningan. Angin sepoi terasa dingin menggigit. Setelah berbincang, diambilnya ijuk tua miliknya dan kemudian berlalu. Dia melewati sebuah lintasan dan kemudian menghilang. (Dominggus Mampioper)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *