SMK Negeri 3 Jalin Kerjasama Dengan SIMOLEC

JUBI—Salah satu persyaratan untuk menggoalkan status RSBI menjadi SBI, SMK Negeri 3 Merauke belum lama ini melakukan kerjasama dengan SIMOLEC (Southeast Asian Of Education Organization Regional Open Center). SIMOLEC merupakan sebuah lembaga pendidikan yang bergerak di bidang kejuruan.

Kepala SMK Negeri 3 Merauke, Marthen Rummar, S.Pd,MT kepada Jubi (29/8) mengatakan, bentuk kerjasama yang dijalin sesuai MoU, meliputi  kerjasama program school partnership, sea edunet, pendidikan dan pelatihan, magang jarak jauh, game technology, latihan ujian nasional online dan debat Bahasa Inggris online. “Ini adalah keuntungan sekolah RSBI, sehingga kami bisa memiliki jaringan internasional,” tukasnya.
Kendati sejumlah negara menawarkan program pendidikan yang berkompeten, namun menurut Marthen, dirinya membidik New Zealand sebagai tempat penyelenggaraan pendidikan yang baik. Pasalnya, New Zealand menyediakan pendidikan gratis bagi negara manapun yang akan melakukan studi. Bahkan dalam ajang Word Skill Competition yang akan diselenggarakan di Canada, dirinya berencana akan memperluas jaringan kerjasama lagi dengan sejumlah sekolah kejuruan disana. “Menjadikan SMK dengan kualifikasi RSBI memiliki tantangan tersendiri, sehingga harus banyak menjalin kerjasama dengan pihak luar,” tuturnya seraya menambahkan, ke depan akan dilakukan pertukaran guru antar negara.

Belum Dapat Dukungan Dana
Sementara itu, sejak diresmikan pada 2008 menjadi RSBI, hingga kini dana sharring yang seharusnya dikucurkan Pemkab Merauke kepada SMK Negeri 3 untuk memuluskan program RSBI belum juga terjawab. Padahal, pihak sekolah telah menyusun program SBP (School Bussines Plan) yang dirancang untuk lima tahun kedepan dan telah diserahkan pada pihak Pemkab Merauke. “Alasannya belum ada anggaran, sehingga kami usulkan kembali ditahun 2009. Namun hingga kinipun masih belum ada titik cerah lantaran belum ada pelantikan sejumlah pejabat daerah terkait pelaksanaan PP.41, sehingga kami harus bersabar,” ungkap Rummar.  
Dikatakannya, dalam MoU dengan Depdiknas, telah disepakati, Pemkab Merauke harus menyediakan anggaran 25% dari anggaran yang telah disupport pusat kepada SMK Negeri 3. Namun sudah 2 tahun berjalan, nampaknya Pemkab Merauke masih belum dapat menyediakan anggaran. Kendati demikian, Marthen mengatakan akan terus berupaya untuk memperoleh dukungan Pemda Merauke lantaran jika sampai 3 tahun ke depan belum juga ada dukungan dari Pemda, maka status RSBI yang telah disandang SMK Negeri 3 Merauke akan dicabut oleh pemerintah pusat.
Pentingnya respon dari pemerintah daerah, menurut Marthen, dibutuhkan guna menunjang proses-proses RSBI ke depan. Diantaranya, dengan disetujuinya anggaran tersebut, maka SMK Negeri 3 Merauke dapat mengajukan sertifikasi ISO manajemen standar internasional dan mengajukan sejumlah akreditasi program studi kepada Badan Akreditasi Nasional (BAN).”Jadi kemajuan RSBI sebuah sekolah sangat ditentukan oleh pemerintah daerah. Selain bisa mengajukan ISO manajemen standar nasional, kami pun dapat mengajukan peningkatan mutu guru yang mana diwajibkan 30% berpendidikan S2,” jelas Marthen. Dia juga mengatakan, pihaknya kini tengah menjalin kerjasama dengan sejumlah SMK di luar negeri dan berharap pemerintah daerah dapat bersama-sama melakukan studi banding ke sejumlah negara guna melihat perkembangan pendidikan di luar negeri.
Sekali lagi dirinya berharap, agar pemerintah daerah memberikan perhatian bagi RSBI yang telah diberikan kepada Kabupaten Merauke. Sebab dengan diresponnya RSBI oleh pemerintah daerah, maka secara langsung menghapus Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional menjadi Sekolah Bertaraf Internasional. (drie/Merauke)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *