Uskup Timika Kenakan Jubah 24 Frater TOR Papua

JUBI – Dalam sebuah misa kudus di Gereja Kristus Sahabat Kita (KSK) Nabire, Minggu (30/8), Uskup Timika, Mgr. John Philips ‘Gaiyabi’ Saklil, Pr menerimakan jubah kepada 24 orang mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat dan Theologi “Fajar Timur” Abepura-Jayapura. Penjubahan kepada para frater tersebut menandai dimulainya Tahun Orientasi Rohani (TOR) Papua yang dipusatkan di Rumah Bina Susteran AK Wanggar, Nabire.

Dibantu dua imam, Pater Sarto dan Bas Soedibja, SJ, Uskup John menyerahkan jubah dan salib kepada para peserta TOR. Selanjutnya jubah tersebut dikenakan dengan membawa salib, 24 frater mengikrarkan janji dan niat setia. “Dengan ini kalian saya ikat atas nama Bapa, Putra dan Roh Kudus serta disaksikan seluruh umat yang hadir. Pengenaan jubah dan salib menandakan 24 frater ini bersedia mengikuti panggilan Tuhan agar kelak menjadi imam diosesan atau imam keuskupan yang akan melayani umat di paroki-paroki,” tutur Uskup John yang telah diberi mandat para Uskup se-Tanah Papua.
24 Frater TOR tahun ajaran 2009/2010, kata Uskup John, berasal dari Keuskupan Jayapura (7 frater), Keuskupan Timika (7 frater), Keuskupan Agats (8 frater), dan Keuskupan Agung Merauke (2 frater). “Selama satu tahun di Wanggar, mereka akan menggumuli dan mengolah diri sebagai persiapan untuk menegaskan panggilan hidup sebagai calon-calon imam projo di Tanah Papua. Sesudah itu akan kembali lagi ke kampus untuk melanjutkan studi mereka,” jelasnya.
Perayaan ekaristi berlangsung meriah dengan persembahan lagu, tarian dari umat, serta suara merdu dari siswa-siswi SMA YPPK Adhi Luhur Nabire. Koor yang dilantunkan Tim Pesparawi Kabupaten Nabire juga turut menyemarakkan jalannya perayaan ekaristi kudus.
Uskup John dalam kotbahnya mengingatkan kepada 24 frater agar mampu menantang segala godaan dan tantangan yang pada akhirnya akan menghentikan jalan memenuhi panggilan hidup dari Allah sebagai imam. Sudah banyak pegalaman membuktikan, banyak yang menyatakan niat dan janji, tetapi hanya sedikit yang jadi imam. “Saya harap kalian lolos sampai imamat, tidak ada yang gagal di tengah jalan,” pesan Uskup kelahiran Kokonau ini sembari berpesan agar senantiasa berpegang teguh pada janji setianya, tentu juga dibutuhkan dukungan moril dari umat dan sanak keluarga dalam menjawab panggilan Tuhan sebagai seorang imam. (Markus You)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *