Waket Komnas HAM Papua Terancam Denda Ratusan Juta

JUBI— Wakil Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Perwakilan Papua, Matius Murib, beserta istrinya dan  2 anak serta 3 orang kerabatnya yang ditangkap dan ditahan Polisi Papua New Guinea (PNG), Sabtu (30/8) lalu, karena masuk wilayah Negara itu tanpa memiliki dokumen lengkap, terancam didenda ratusan juta rupiah.

“Mereka juga terancam menjalani hukuman kurungan badan,” kata Ketua Komnas HAM Papua, Jules Ongge kepada wartawan di Jayapura, Senin.  Ia menjelaskan pihaknya sendiri telah menyiapkan dana untuk membantu proses pembebasan yang bersangkutan dan keluarganya. “Kami dari Komnas HAM diinstruksikan menyiapkan dana cash sebesar Rp 120-125 juta, untuk bayar denda bagi Matius Murip dan keluarganya. Karena, sesuai dengan peraturan di Negara tersebut, mereka selain di hukum penjara kemungkinan juga didenda,” ujarnya.
Menurut Jules, sesuai dengan keterangan yang diperoleh pihaknya dari Konsulat RI di Vanimo PNG, ada 3 bentuk hukuman yang dikenakan bagi setiap warga asing yang masuk secara illegal yakni, denda saja, bebas atau denda dan menjalani hukuman kurungan. “Denda bagi setiap orangnya sebesar 5000 kina atau Rp 17 juta. Dan menurut rencana, sidang akan dilakukan besok Selasa (1/9),” tuturnya.
Lebih lanjut kata Jules, saat ini pihaknya terus berupaya berkoordinasi dengan instansi terkait seperti Badan Perbatasan, Konsulat PNG di Jayapura serta Komnas HAM pusat dan Departemen Luar Negeri. “Saat itu Matius Murib dan keluarga tidak lagi ditahan di Kantor Polisi Vanimo PNG, namun dititipkan di penampungan Konsulat RI. Harapan kita semoga dalam persidangan nanti mereka bisa dibebaskan tanpa denda,” harapnya.
Sebelumnya dilaporkan, Wakil Ketua Komnas HAM Perwakilan Papua, Matius Murib bersama 6 orang kerabatanya ditangkap Polisi Papua New Guiniea, Sabtu (29/8) sekitar pukul 10.00 WIT di Wutung Perbatasan RI-PNG. Mereka yang ditangkap karena melintas batas antar Negara tanpa memiliki dokumen yang lengkap. Mereka kemudian di giring menuju kota Vanimo PNG untuk menjalani penahanan.
Kronologis tertangkapnya 7 warga Indonesia itu, katanya, bermula ketika mereka masuk PNG melalui perbatasan, lalu menuju Vanimo untuk berekreasi. Ketika melintas di perbatasan, mereka lolos pemeriksaan, karena kebetulan saat itu penjaga perbatasan baik itu Indonesia maupun PNG tidak ada di Pos. Lalu dengan menumpang mobil mereka menuju Vanimo.  Awalnya, mereka lolos dari pantauan Polisi maupun petugas PNG, namun ketika hendak pulang ke Indonesia dan kembali melewati Pos Perbatasan, mereka ditangkap. “Sebenarnya saat itu mereka sudah kembali ke perbatasan, tapi ketika petugas menanyakan dokumen pelintas batas, mereka sama sekali tidak memilikinya sehingga kemudian ditangkap,” jelas Ketua Komnas HAM Papua, Jules Ongge kepada JUBI. (Marcel Kelen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *