Waket Komnas HAM Perwakilan Papua Akhirnya Dibebaskan

JUBI-Wakil Ketua (Waket) Komisi Nasional Hak Asasi manusia (Komnasham) Perwakilan Papua, Matius Murib berserta enam orang kerabatnya yang lain akhirnya dibebaskan pemerintah  negara tetangga Papua New Guinea (PNG), Selasa (01/09).
Sebelumnya dilaporkan Matius Murib bersama keenam orang kerabatnya tersebut memasuki daerah PNG tanpa memiliki dokumen keimigrasian yang lengkap, sehingga ditangkap aparat kepolisian negara satu rumpun dengan Provinsi Papua itu, Sabtu (30/8).
“Saya dan keluarga akhirnya dibebaskan tanpa syarat oleh pemerintah PNG, Selasa, sekitar pukul 09.25 WIT, setelah melalui perundingan yang alot,” kata Matius kepada wartawan di Jayapura, Selasa.
Ia menjelaskan, proses pembebasan terhadap dirinya tidak terlepas dari usaha keras semua pihak termasuk Komnasham Pusat dan perwakilan Papua yang telah melakukan lobi tingkat tinggi dengan semua pihak khususnya pemerintah PNG.
“Padahal hari ini Selasa (1/9), saya dan keluarga dijadwalkan akan menjalani sidang pengadilan di PNG. Tentunya hukuman berat sudah menanti,” ujarnya.
Sesuai dengan aturan yang berlaku di PNG, Matius Murib, beserta istri, dua anak dan tiga kerabatnya terancam didenda ratusan juta rupiah dan menjalani hukuman kurungan badan karena memasuki wilayah PNG tanpa memiliki dokumen resmi lintas batas. Ia menjelaskan pihaknya telah menyiapkan dana untuk membantu proses pembebasan yang bersangkutan bersama keluarganya. Komnas HAM diminta menyiapkan uang tunai sebesar Rp120 juta hingga Rp125 juta, untuk bayar denda atas tindakan  Matius Murip dan keluarganya.Sesuai peraturan di Negara PNG, mereka selain dihukum penjara kemungkinan juga didenda sejumlah uang.
Wakil Ketua Komnas HAM Perwakilan Papua, Matius Murib bersama kerabatanya ditangkap Polisi Papua New Guiniea, Sabtu (29/8) sekitar pukul 10.00 WIT di Wutung, wilayah tapal batas RI-PNG. Mereka ditangkap karena melintas batas antarnegara tanpa memiliki dokumen lintas batas yang lengkap. Mereka kemudian digiring menuju kota Vanimo PNG untuk menjalani proses penahanan, sebelum akhirnya diambil pihak konsulat RI di Vanimo setelah melakukan pembayaran jaminan kepada pihak kepolisian setempat. (Marcel Kelen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *