Hidup Seniman Papua Dalam “Kurungan”

JUBI — Yakobus Degei, seniman asal Papua yang malang melintang dalam dunia seni sejak puluhan tahun lalu, di Jayapura, Jumat, mengatakan, hidup seniman asal Papua hingga kini masih seperti berada dalam “kurungan”.

Pernyataan Degei dikemukakan dalam sebuah pagelaran seni di Jayapura oleh Majelis Rakyat Papua (MRP) memperingati HUT nya yang ke 4. Menurut Degei, ditinjau dari segi kemampuannya, seniman asal Papua memiliki potensi yang jauh lebih baik. Hanya saja, potensi mereka tak pernah dilirik oleh pemerintah Papua. Membantu dan mengembangkannya saja, kata dia, tak pernah.
“Hidup kami ini ibarat dalam kurungan yang hanya mampu memasarkan karya seni jika ada moment-moment tertentu,” keluhya.
Terhadap hasil karya seniman Papua, Degei berpendapat sangat bagus dan memiliki nilai seni tinggi. “Yang kini diperlukan adalah perhatian pemerintah terhadap pengembangan seni di Papua,” cetusnya.
Degei adalah seniman asli Papua yang terkenal dengan karyanya yang begitu indah. Dalam ajang pameran seni menyambut HUT MRP, Degei mempertunjukan karya lukis yang menarik. Lukisannya banyak mendapat pujian dari banyak kalangan di Papua.
Dia memandang, untuk memajukan potensi seni di Papua, haruslah mengikuti apa yang dilakukan diluar, misalnya di Bali. Disana, kata dia, pelaku seni ditempatkan pada sebuah tempat khusus dan dibina secara rutin. Mereka juga memajang karyanya ditempat itu sehingga memudahkan orang membelinya.
Orang Bali adalah seniman-seniman professional. Mereka melukis dan membuat patung yang unik. Di Papua, ukiran patung lebih banyak dikenal berasal dari Asmat. Sebuah wilayah perairan yang menjadi situs warisan dunia.
Degei berharap agar pemerintah bisa membuat sebuah tempat khusus untuk memajang karya seniman Papua. Itu tidak saja membantu seniman memasarkan karyanya, tapi juga sebagai ikon seni di Papua nanti.
“Apa susahnya kalau pemerintah menyiapkan suatu tempat yang dikhususkan bagi karya seni? Ini mungkin perlu dilakukan secepatnya,” harapnya.
Dia mengatakan, dengan adanya tempat itu, sekurangnya telah membantu seniman lebih giat menghasilkan karya gemilang. Tentu saja tidak lagi harus menunggu moment penting dalam memasarkan karyanya. “Yah, kita berharap demikian. Kita juga mau, seni di Papua dapat dikenal hingga luar negeri.” (Yunus Paelo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *