Sooring: Aksi Guru ‘Sate Medan’

JUBI — Wakil Bupati Kabupaten Asmat, F. B. Sooring, di Agats, Rabu, menyatakan aksi guru menuntut tunjangan lebih disebabkan karena minimnya “satemedan” (Sarana, Tenaga, Metoda dan Dana)

Secara teknis, manajeman dan hak guru, kata Sooring memang harus diperhatikan untuk memajukan pendidikan di Asmat.
“Melihat item-item yang terlampir dalam aspirasi guru, memuat masalah “satemedan” yang serius.”
Namun aksi guru mogok ngajar, bagi Sooring sangat merugikan siswa. Baiknya guru menyampaikan aspirasi kepada perwakilannya. Bukan dengan berdemo dan mengakibatkan anak didik terlantar.
“Ini bukan kesempatan untuk saling tawar-menawar, guru juga harus perhatikan siswanya agar tidak terlantar,” kata Sooring.
Sebelumnya, ratusan guru, Senin dan Selasa berunjuk rasa di DPRD dan Kantor Bupati Asmat. Mereka menuntut transparansi ratusan miliar dana tunjangan guru. Termasuk dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) dan DAK (Dana Alokasi Khusus) Periode 2005-2009.
Pertemuan guru dan dewan menghasilkan pembentukan Pansus yang akan menelusuri dugaan penyelewengan. Pansus bekerja mulai 26 November mendatang.
“Kami juga menuntut agar kepala Dinas Dikmudora turun dari jabatan sebelum bulan November berakhir,” tegas Matheus Metemko, Sekretaris II PGRI Kabupaten Asmat dalam demo kemarin. (Willem Bobi/Agats)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *