Pembangunan Kesehatan di Papua Lambat

JUBI — Pembangunan bidang kesehatan di Papua dinilai lambat.

“Masalah kesehatan di Papua termasuk Papua Barat masih lambat dan  memerlukan perhatian khusus,”  Kata Dirjen Kesehatan, Bambang Sardono, di Jayapura, Senin (30/11).
Penyebabnya karena tingginya case rate HIV/AIDS di Provinsi Papua, yakni 72,71 atau 14,8 kali case rate nasional, 4,91 persen.

“Kondisi ini termasuk kategori generalisazed epidemic,” katanya.
Departemen kesehatan, kata dia, telah menginisiasi pelayanan kesehatan bergerak (mobile clinic) ke seluruh kampung-kampung di Tanah Papua.
“Hal ini untuk mendekatkan pelayanan kesehatan pada masyarakat.”
Kedepan, jelasnya, pembangunan kesehatan akan diarahkan pada peningkatan upaya promotif dan preventif, disamping peningkatan akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin.
“76,4 juta penduduk miskin akan berada dalam sistem jaminan kesehatan, termasuk mereka yang berada di Papua,” ujarnya.
Pelayanan diutamakan bersifat early diagnosis dan prompt treatment. “Mencegah lebih baik dan murah dari pada mengobati.”
Bambang berharap dengan adanya Otonomi Khusus, Pemerintah Daerah dapat mengkaji sektor-sektor penting untuk membangun dunia kesehatan di Papua.
“Kebijakan Otsus juga untuk meningkatkan taraf kesehatan masyarakat, jadi jangan ditunda selama masih ada program ini,” pungkasnya. (Eveerth Joumilena)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *