1 Desember, “Hari Ketakutan” Warga Papua

JUBI — Tanggal 1 Desember yang disebut-sebut sebagai hari kemerdekaan Papua, tidak saja menjadi “Hari Waspada” bagi TNI, tapi juga “Hari Ketakutan” bagi rakyat Papua.

Pasalnya, di hari itu, warga Papua selalu dibayang-bayangi TNI dan Polisi yang mengawasi ketat tiap langkah dari mereka.
“Biasanya seminggu sebelum 1 Desember, “mereka” sudah duduk-duduk di depan rumah saya untuk mengawasi saya dari luar. Tahun ini saja yang tidak dilakukan,” tutur Tokoh Perempuan Marind, Theresia Esy Samkakai di kediamannya Kampung Mangga 2, Merauke, Selasa (1/10).
Memaknai “kemerdekaan bangsa Papua”, Mama Esy mengatakan yang terpenting adalah rakyat Papua harus diperlakukan adil dengan suku lainnya di Indonesia.
Jika ditelisik mengenai tuntutan merdeka yang dulu sempat bergelora, menurutnya lebih disebabkan karena rakyat Papua belum memahami sejarah ketika Belanda mendapat Papua.
“Pada waktu itu jika Papua tidak diserahkan ke Indonesia maka akan terjadi perang dunia ketiga. Ini yang banyak tidak diketahui,” ulasnya.
Menurut Esy, tuntutan merdeka yang selama ini bergaung merupakan ungkapan ketidakpuasan terhadap pelayanan kesejahteraan yang tidak sesuai dengan budaya Papua. Yakni kehidupan Papua yang masih melekat dengan alam.
Baginya, merdeka akan lebih menyengsarakan rakyat dan hanya menghasilkan konflik yang memakan korban.
“Yang terpenting negara melayani rakyat seadil-adilnya dalam kesamaan hak sebagai warga Negara.”
Dikatakan, jika ingin merdeka, seluruh rakyat Papua harus bersatu, tak seperti yang terjadi saat ini dimana warga Papua telah terkotak-kotak.
Memang tahun ini sangat berbeda, tak ada aktifitas  bagi orang Papua merayakan “kemerdekaan” itu.
“Kami hanya saling SMS untuk mengucapkan selamat hari kemerdekaan,” ujarnya sembari tersenyum.
Sementara itu, Ketua Dewan Adat Papua Wilayah V, Stanislaus Gebze mengatakan sejak seminggu dia tak berada dikediaman dan cenderung mengunci rumah untuk menghindari intelijen menanyakan seputar kegiatan perayaan merdeka.
“Saya sudah bosan didatangi intel, bertanya ini itu. Padahal kami tidak berbuat apa-apa,” ujarnya
Dia juga menepis isu adanya penempelan stiker Bendera Bintang Kejora di tempat tertentu. Menurutnya, isu tersebut sengaja dihembuskan agar pihak keamanan mendapatkan “proyek keamanan”.
Menurutnya, tahun ini rakyat Papua di Kabupaten Merauke tak melakukan apa-apa meskipun hanya ibadah syukur.
“Kami hanya berdoa dalam hati agar Papua dapat Merdeka dari segala macam permasalahan,” tandasnya. (Indri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *