Dialog Jakarta-Papua Tak Bisa Langsung Jadi

JUBI — Koordinator Konsultasi Publik dalam rangka Dialog Jakarta-Papua, Dr. Neles Kebadabi Tebai, Pr mengatakan, wacana dialog Jakarta-Papua akan terwujud jika semua pihak memahami esensi dari dialog itu sendiri.

Dialog dilaksanakan karena ada persoalan mendasar di Papua. “Menuju ke sana, memang tidak bisa dilaksanakan sekaligus. Sejatinya harus melalui beberapa tahapan,” kata Pater Neles ketika ditemui JUBI di Nabire, Selasa (30/3).

Salah satu tahapan yang sedang dilakukan saat ini adalah Konsultasi Publik. Konsultasi Publik merupakan bagian dari pra dialog, dan tahap berikutnya dialog dan pasca dialog.

“Konsultasi Publik ini untuk mendengar langsung keinginan, harapan dan usulan rakyat. Semua tuturannya tentu berdasarkan kenyataan selama ini,” ungkapnya.

Hasil dari keseluruhan konsultasi publik akan dipublikasikan kemudian agar diketahui rakyat, pemerintah daerah, legislatif dan semua pihak terkait lainnya.

Konsultasi Publik diselenggarakan oleh Jaringan Damai Papua (JDP), beranggotakan 25 orang. Berasal dari semua faksi politik, gereja, dan masyarakat sipil.

Konsultasi Publik sebelumnya digelar di 6 kabupaten: Wamena, Timika, Manokwari, Sorong, Biak, dan Enarotali. Masih ada tiga tempat lagi, yakni Merauke, Fakfak dan terakhir di Jayapura sekitar pertengahan Mei mendatang.

Menurut Tebay, wacana dialog mendapat simpati banyak pihak di Papua maupun Jakarta. “Tapi ada sebagian yang belum sepaham, masih menolak karena berbagai alasan,” tutur Pater Neles.

Perbedaan pendapat wajar saja. Tapi kalau tidak ada dialog, kata Tebai, sampai dunia kiamatpun masalah Papua tak akan selesai.

Konsultasi Publik yang keenam diselenggarakan di Enarotali, Senin (29/3). Selain Pater Neles, hadir pula peneliti LIPI, Dr. Muridan S Widjojo dan sejumlah anggota tim JDP. (Markus You)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *