Haidah: Buruh Hanya ‘Makan Tulang’

JUBI — Ketua Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Cabang Papua Nur Haidah mengatakan, peringatan hari buruh Internasional di Papua tidak dilakukan karena SPSI mengacu pada Hari Pekerja Indonesia (Harpekindo) yang jatuh setiap 20 Februari sesuai Surat Keputusan Presiden Nomor 9 Tahun 1991 tanggal 20 Februari 1991.

“Meskipun kita tidak ada agenda peringatan, namun kita tetap berusaha dan fokus dalam memberikan perlindungan terhadap buruh,” ujarnya kepada JUBI, Sabtu (1/5).

Lanjut Nurhaida, kondisi buruh di Papua, jika dikaitkan dengan Upah Minimum Papua (UMP) yang mencapai Rp. 1.315.000, sebenarnya belum mampu memberikan kesejahteraan yang layak.

Kenaikan UMP yang hanya mencapai 8 persen dari tahun sebelumnya itu sangat minim bahkan kerap merugikan. Menurut Nurhaidah, buruh adalah asset dari negara, tanpa buruh semua pekerjaan tak akan mampu terlaksana.

Dikatakannya, tenaga kerja biasa menagih kenaikan gaji, namun alasan perusahaan selalu tidak mampu. “Tutup saja perusahaan yang tak mampu itu, karena alasan seperti ini tidak masuk akal, ibarat buruh hanya makan tulang dan perusahaan makan dagingnya,” tegasnya.

Jumlah buruh di Papua sekitar 60.000 orang. Tersebar di Propinsi Papua maupun Papua Barat. (Yunus Paelo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *