Lima Jembatan Belum Dibangun, Arus Transportasi Nabire-Paniai Terhambat

JUBI — Sedikitnya lima jembatan di ruas jalan Trans Papua saat ini belum dibangun. Akibatnya, arus transportasi yang menghubungkan Nabire-Paniai terhambat. Angkutan darat praktis tidak berjalan lancar. Ini juga diperparah dengan seringnya terjadi longsor dan tumpukan tanah di badan jalan.

Data yang dihimpun JUBI, ada tiga jembatan yang sementara sedang dalam tahap pembangunan. Dua jembatan lainnya, yakni di KM 100 dan KM 105, hingga kini sama sekali belum disentuh.

Tumpukan tanah hitam dan longsoran terlihat di beberapa titik, seperti di KM 131 hingga KM 138. “Jembatan yang terputus sejak lama masih belum diperbaiki, sehingga jelas memperlambat kecepatan angkutan antar kabupaten ini,” tutur Edison yang baru turun dari Enarotali, Senin (31/5).

Edison dan beberapa penumpang yang melintas di jalan trans ini mempertanyakan penyelesaian jembatan di KM 121, 128 dan 171. “Sebenarnya kerangka jembatannya sudah jadi, tapi sampai sekarang belum bisa dilewati kendaraan,” katanya.

Khusus jembatan di KM 105 yang terputus beberapa waktu lalu, menurut Edison, belum juga ditangani. Begitupun jembatan anak Kali Otawa di KM 100.

Ketika ada banjir, kendaraan tidak bisa lewat. Semua kendaraan baru bisa bergerak jika air di kali surut. Tak jarang, sopir dan penumpang bisa bermalam sampai dua malam di pertengahan jalan. “Tapi kadang di tengah jalan bisa sampai 3 atau empat hari,” imbuhnya.

Kenyataan itu dibenarkan Faris, sopir strada Nabire-Enarotali. ”Kita sudah biasa bermalam di tengah jalan sampai 4 hari baru mobil bisa lewat.”

Sebenarnya bukan hanya di kali yang sekarang sudah dibangun jembatan. Jembatan anak kali Otawa juga menjadi ancaman baru bagi para sopir. Sebab kalau banjir, mobil tidak bisa lewat. “Kita terpaksa bermalam di ujung jembatan,” aku Faris.

Lantaran kondisi jalan trans sedemikian parah, kendaraan yang mengangkut bahan bangunan dan barang kebutuhan pokok tujuan daerah pedalaman terlambat tiba. Tak jarang juga barang bawaan menjadi busuk dan terpaksa dibuang di tengah perjalanan. “Sering ayam potong yang kami angkut mati dan busuk dalam mobil. Apalagi ayam kulkas, baunya minta ampun,” Faris mengisahkan.

Beras yang diangkut pun tak luput dari siram air hujan. Jika tak dilengkapi pengaman, beras menjadi basah karena terkena hujan.

Pembangunan jembatan dan jalan di ruas jalan Trans Papua poros Nabire-Dogiyai-Deiyai-Paniai ini belum mendapat perhatian serius dari pemerintah. (Markus You)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *