Uang banyak, Minim Prestasi

JUBI — Laporan pertanggung jawab pengurus Komite Olahraga Nasional (KONI) Provinsi Papua digelar pada 26-27 Mei di gedung Sasana Krida Kantor Gubernur Provinsi Papua.

Dari LPJ para pengurus sebelumnya, menarik diketahui bahwa Pemprov Papua menghibakan dana Rp. 8.180.612.307.  Jika mencermati dari dokumen LPJ, penggunaan dana paling besar adalah belanja pegawai. Misalnya, Honorium pengurus KONI Papua  Januari sampai Mei 2010 menembus angka Rp.847.500.000, honorium staf KONI Papua mencapai Rp.317.900.000, transport pengurus KONI Rp. 222.500.000,  perjalanan dinas pengurus Rp.650.513.200. tak hanya itu, diketahui pula bahwa dana yang diplotkan untuk pembinaan Pengprov  mencapai  Rp. 352. 500.000, serta dana yang digunakan untuk persiapan Rapat Anggota yang hanya berlangsung dua hari (26-27 Mei 2010) menelan biaya 110. 875.000.

Tentu, dari beberapa item laporan penggunaan dana tersebut, pantaslah kita bertanya; Dana Hibah dari Pemerintah Provinsi Papua diperuntukan pembinaan  pengurus atau pembinaan altet? Tak mengherankan, prestasi atlet Papua pada  PON XVII 2008 di Kalimantan Timur, tidak membuahkan hasil yang memuaskan. Setidaknya, jika dana miliaran tersebut diplotkan untuk pembinaan atlet tentu akan mempengaruhi daya juang atlet di pentas olah raga nasional tersebut.

Meski Papua dikenal sebagai gudang atlet di tanah air, tapi nyaris seluruh cabang olahraga di tanah Papua yang tersebar di seluruh kabupaten mengalami berbagai keterbatasan sarana dan prasarana. Untuk bidang olahraga tinju misalnya, masih ada sasana bernaung di bawah pohon.

Cerita sedih ini dialami sasana Anim Ha di Merauke. Padahal, dari sasana itu sudah mengorbitkan para petinju go  internasional. Tak hanya dunia tinju, bidang olahraga Dayung juga mengalami nasib yang sama. Sebanyak 30 atlet yang sudah mengikuti seleksi tapi terkendala dana trasportasi, dan terpaksa dikembalikan ke Pengcab.

Dapat disimpulkan bahwa pasang surutnya prestasi para atlet Papua, bukan karena ketidakmampuan si atlet, tapi mandek di pengurus. Ini terbukti pada laporan penggunaan dana yang sudah disebutkan di atas bahwa dana hilang untuk kepentingan pengurus. Mestinya, KONI Papua sebagai wadah yang bertanggung jawab terhadap semua bidang olah raga harus lebih memikirkan prestasi dan masa depan atlet.

Apalagi, dalam tahun Tahun Anggaran 2010 Pemprov Papua akan menghibahkan sebesar Rp. 50 miliar yang bersumber dari Dana Otonomi Khusus.  Pertanyaanya, apakah dana sebesar itu, bisa mendongkrak prestasi atlet Papua? Jawaban ‘ya’ jika dimanfaatkan untuk kepentingan pembinaan dan dukungan sarana prasarana atlet. Namun jika dana itu lebih besar untuk biaya pengurus, tentu ceritanya akan sama seperti pada tahun-tahun sebelumnya. “Uang banyak, minim Prestasi” (Lasarus Gon)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *