Datangi Polres Merauke, Keluarga Korban Keluarkan Sejumlah Tuntutan

JUBI — Pasca penyergapan Polres Merauke di Gudang  Arang yang berujung pada tewasnya bocah 2 tahun, keluarga korban, Selasa (1/6) mendatangi Polres Merauke.  

Keluarga korban, diwakili oleh wali keluarga, Lukas Tanggipaimu, Ibu korban, Amelia Tanggipaimu dan sejumlah kerabat tiba di Polres Merauke, siang.

Sesampainya di Polres, mereka disambut oleh Kapolres dan sejumlah petinggi di Kepolisian Resort Merauke di ruang rapat. Disaksikan Jubi, kondisi Amelia masih lesu, dan tertunduk saat dipertemukan dengan pihak kepolisian. Kedatangan mereka didampingi oleh Kepala Dinas Perbatasan dan Kerjasama Wilayah, Albertus Muyak,SE.

Dalam kesempatan itu, Lukas Tanggipaimu selaku wali keluarga menyampaikan sejumlah tuntutan kepada Polres Merauke. Mereka menuntut salah satu dari 8 anggota buzzer yang terbukti bersalah harus dihukum seberat-beratnya hingga pemecatan. Untuk proses peradilan, lanjut Lukas, keluarga meminta agar anggota buzzer yang bersalah, diadili di Merauke, tidak di kabupaten lain.

“Kami harapkan keadilan bisa ditegakkan di Polres Merauke,”ucap Lukas.

Menanggapi permintaan keluarga korban, Kapolres Merauke, AKBP. Joko Prihadi menyampaikan bahwa pihak keluarga tidak perlu khawatir. Polres Merauke akan transparan dalam penegakan hukum terutama dalam melakukan setiap proses pemeriksaan. Dalam proses olah TKP, Prihadi juga meminta dukungan informasi dari masyarakat agar aparat kepolisian dapat menemukan titik terang dari peristiwa yang terjadi pada Minggu pagi itu.

“Jadi keluarga tidak perlu khawatir, setiap proses yang berlangsung, akan dikoordinasikan dengan pihak keluarga,” ujarnya.

Sedangkan mengenai tuntutan menghukum kedelapan tim buzzer yang dianggap keluarga korban telah melakukan kesalahan, Prihadi  mengatakan tak dapat menjawab dalam waktu singkat. Pasalnya, sangat tergantung  dari proses pemeriksaan dan disesuaikan dengan undang-undang yang berlaku.

“Tuntutan merupakan acuan, namun proses akan berjalan terus. Kita  akan terus tegakkan hukum dan saya bertanggung jawab atas itu semua,”tegas Prihadi.

Ditanyai mengenai dugaan keluarga korban yang menyebutkan bahwa proyektil peluru bersumber dari senjata laras panjang, Prihadi mengemukakan bahwa pihak kepolisian mensinyalir bahwa dugaan itu benar adanya.

Namun pihaknya akan membuktikan kebenaran tersebut dengan melakukan olah TKP lengkap di lapangan yang akan dilakukan sore ini.  Sedangkan kedelapan anggota buzzer yang kini telah diamankan Polres Merauke, tengah menjalani proses pemeriksaan dan diistirahatkan dari tugas-tugasnya sementara waktu. (Indri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *