Memprediksi Emas Papua Melalui Syair


Syair lagu yang dulunya dianggap tak mungkin, kini sudah terbukti. Tapi, karya ciptanya pernah tak dihargai, bahkan diklaim diciptakan orang lain. Ia terus berjuang mempertahankan hak ciptanya.

Di sana pulauku yang ku puja slalu
tanah Papua, pulau indah
hutan dan laut mu
yang membisu slalu
cenderawasih, burung emas
gunung-gunung, lembah-lembah
yang penuh misteri
yang ku puja slalu
keindahan alam mu yang mempesona
sungaimu yang deras
mengalirkan emas
oh ya Tuhan, trima kasih..

 

JUBI — Lagu berjudul asli “Irian Jayaku” karya Yance Rumbino masih berdendang merdu hingga kini. Meski judul dan beberapa lirik mengalami perubahan seiring pergantian Irian Jaya menjadi Papua, makna keilahian karya agung Tuhan yang tersirat dalam lagu ini benar-benar nyata. Identitas diri negeri nan kaya yang dikisahkan dalam syair lagu, awalnya ditentang karena memang secara nalar manusia, sebuah sungai tak mungkin mengalirkan emas. Tapi, fakta sekarang, emas dengan mudah orang dapat di sungai.
Jauh sebelumnya, tahun 1985, ketika lagu tersebut diciptakan, prediksi Yance memang benar adanya. Mengabdi cukup lama di kawasan pedalaman Paniai, pria asal Biak Numfor yang sudah tak asing di blantika seni Papua ini memandang kekayaan alam negeri ini. Realita yang dijumpai dikisahkan melalui syair nan merdu dan hingga kini akrab dikumandangkan, bahkan menjadi lagu pembuka pada kegiatan pemerintahan di Tanah Papua.
Mendengar bait-bait syair lagu tadi, sebetulnya amat sederhana. Namun memunyai makna mendalam bagi masyarakat Papua. Bait-bait lagu yang begitu mengagungkan Tanah Papua yang penuh dengan sumberdaya alam yang teramat kaya. “Lagu ini pujian kepada Tuhan atas limpahan kekayaan alam tak terhingga yang ada di Tanah Papua,” ujar Yance.
Lagu yang tidak pernah disangka akan menjadi sebuah lagu wajib dalam setiap pembukaan kegiatan resmi, lagu yang akan melegenda dan dikenal masyarakat Papua. Walaupun lagu ini awalnya ditentang karena ada syair-syair yang tidak masuk akal, tapi siapa sangka semua kemustahilan itu akhirnya menjadi nyata. “Sekarang banyak sungai di Papua mengalirkan emas, dulu waktu saya karang lagu itu memang tidak masuk akal,” sambungnya.
Lagu ini kini diperjuangkan penciptanya. Yance terus perjuangkan hak cipta dengan berbagai upaya. Ia ingin masyarakat dunia tahu bahwa lagu tersebut merupakan buah karyanya.
Berawal mengirim surat kepada Gubernur Provinsi Papua, Barnabas Suebu dan sebelumnya juga mengirim surat kepada Gubernur Provinsi Papua Barat, Oktavianus Abraham Atururi.
Perjuangan demi meluruskan siapa sebenarnya pencipta lagu ‘Tanah Papua’. Surat yang dikirim kepada Atururi, tak lebih dari upaya untuk meluruskan hak cipta dan hak intelektual atas lagu ‘Tanah Papua’ yang diproduksi Trio Ambisi, dimana muncul dalam rekaman Trio Ambisi edisi lagu-lagu daerah Papua.
Ada dua poin dalam suratnya. Pertama, pelurusan nama sebenarnya pencipta lagu Tanah Papua. Kedua, hak cipta dan hak intelektual lagu Tanah Papua.
“Dalam kaset yang diproduksi Trio Ambisi Group, lagu Tanah Papua ditempatkan di nomor urut satu. Tapi disitu ditulis ciptaan Yance Runaweri. Ini yang saya pertanyakan,” ujar Yance Rumbino, Guru Kesenian di SMA YPK Tabernakel Nabire yang juga Kepala SD Negeri Inpres Kalibobo, Distrik Nabire Barat.
Ketika ditemui di kediamannya di komplek perumahan SD Negeri Inpres Kota Baru, ia menceritakan kisah penciptaan lagu Tanah Papua dan kesedihannya saat tidak ada pihak yang peduli terhadap karya cipta yang selalu dikumandangkan dalam kegiatan pemerintahan maupun acara-acara lainnya.
“Awalnya berjudul ‘Irian Jayaku’, tapi seiring pergantian nama Irian Jaya menjadi Papua oleh Presiden RI ke-4, (Alm) K.H. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, judul lagu dan syair Irian Jaya berubah menjadi Papua,” Yance membeberkan.
Menurutnya, perubahan tersebut secara otomatis saat lagu didendangkan oleh ibu-ibu asal Nabire saat pertemuan di Bali.
Lagu ini diciptakan tahun 1985 di kediamannya setelah Yance bersama istri tercinta melakukan perjalanan panjang di Nabire.
Dari bait-bait lagu Tanah Papua barangkali kita bisa menilai bahwa ketajaman naluri seorang seniman Papua saat mencipta lagu benar-benar terlihat. Bagaimana tidak, dalam salah satu bait syair ada tertulis “sungaimu yang deras mengalirkan emas”, padahal saat bait demi bait dirangkai menjadi sebuah lagu, emas masih belum ditemukan di Nabire, sungai-sungai di Nabire belum diketahui mengandung deposit emas.
Bahkan lagu Tanah Papua pernah ditolak dinyanyikan oleh kelompok musik anak buahnya sendiri saat di Makassar hanya karena lagu tersebut sangat misteri, tidak mungkin ada sungai mengalirkan emas.
“Mereka menolak menyanyikan lagu di Makassar tahun 1991. Saat itu ada rekaman lagu daerah di sana. Dan kapasitas saya sebagai Sekretaris Dewan Kesenian Kabupaten Paniai (sekarang Kabupaten Nabire), mereka beralasan bahwa syair-syair lagu ini banyak yang tidak masuk akal, tidak mungkin sungai mengalirkan emas,” tutur Rumbino.
“Sekarang kita lihat, hal yang dulu dianggap tidak mungkin menjadi sangat mungkin ketika Tuhan telah memberikan karunianya. Sungai-sungai di Papua sekarang menjadi ajang rebutan ribuan orang, mulai dari masyarakat paling bawah hingga masyarakat berkasta tinggi, dari masyarakat yang telanjang sampai jenderal berbintang. Sungai-sungai di Papua benar-benar mengalirkan emas!”
Perjuangannya bertemu dengan Gubernur Provinsi Papua Barat, tak pernah terwujud. Surat yang dititipkan melalui ajudan tidak sampai di tangan Atururi. Saat menemui Sekda, Yance diarahkan untuk bertemu langsung dengan Gubernur.
Upayanya tidak berhenti disitu. Paitua Rumbino ‘terbang’ ke Jakarta bertemu dengan personil Trio Ambisi Group dan Trio Wondama. Tapi, gagal.
Ia akhirnya menemui produser Trio Ambisi Siringo-ringo. Saat itu produser meminta maaf dan berjanji meralat nama pencipta lagu. “Tapi, sampai sekarang tidak ada,” kata Yance.
Yance Rumbino pernah bertemu dengan Yance Runaweri terkait hak cipta lagu Tanah Papua. Sempat sepakat untuk klarifikasi melalui media massa. Inisiatif itupun ditolak Yance Runaweri. “Kalau saudaranya Yance Runaweri, Roby Sawaki dan Alberth Runaweri pernah datang minta maaf karena memang disadari telah bersalah terhadap pencipta lagu Tanah Papua,” lanjut Rumbino.
Upaya Yance Rumbino memperjuangkan hak ciptanya tak surut. Ia kemudian mengirim surat kepada Gubernur Provinsi, Barnabas Suebu untuk meluruskan nama sebenarnya pencipta lagu Tanah Papua sekaligus mengukuhkan hak cipta dan hak intelektualitas dari sebuah lagu tersebut.
Yance melihat syair lagu ciptaannya ada sedikit kekeliruan penulisan yang berpengaruh pada maknanya.
Sebagai contoh, lirik “Sio Ya Tuhan” seharusnya “Oh Ya Tuhan”. Begitupun “Kau ku puja” yang biasa didendangkan selama ini, seharusnya “Yang kupuja slalu”.
Meski belum ada pengakuan terhadap karya ciptanya, Yance Rumbino merasa puas karena lagu yang dirilis berdasarkan renungan panjang atas realita Tanah Papua itu kini dijadikan sebagai lagu persatuan Papua. Bahkan dalam menyanyikannya pun, seperti misalnya saat acara-acara penting, lagu tersebut dinyanyikan penuh khidmat dengan posisi berdiri dan tangan diletakan di dada. (JUBI/Markus You)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *