Pentingkah Sagu Bagi Orang Asmat?

Cerita kehidupan Orang Asmat tak lepas dari mitologi. Makanan pun ditemukan dalam mimpi. Asmat mendunia karena keunikannya.

JUBI — Pohon sagu (atau bahasa ilmiahnya: metrosylon sagu) masih nampak bertumbuh subur di hutan rawa Asmat. Kawasan ini terdapat di daerah tropis bersuhu 26 sampai 27 derajat celcius derajat sepanjang tahun.
Secara astronomis, wilayah ini terbentang di garis lintang selatan, tepat di posisi137 derajat bujur timur(BT) hingga kurang dari 140 derajat BT. Dengan kelembaban udara rata-rata 78 sampai 80 persen atau diatas kelembaban udara optimum bagi pohon sagu.
Bila kita menulusuri wilayah asmat, dari tanjung ke tanjung, dari kali ke kali maupun di pinggiran sungai yang berkelok-kelok bagai Ular Talingkar-lingkar, kita akan lebih banyak menjumpai pepohonan dan tunas palma seperti pepohonan jenis tumbuhan pandan, nippa (sari buah manis berminyak), kelapa, rotan dan lainnya.
Hampir dua belas (12) rumpun suku asmat mengantungkan hidupnya pada pohon sagu. Yaitu, rumpun Safan, Becembub, Aramatak, Yupmakcain, Unir Epmak, Emari Ducur, Unir Sirau, Joerat, Simai, Bismam, kenekap dan rumpun Bras. Mereka hidup di sepanjang kawasan ketinggian topograpi antara 0 (nol) sampai 100meter di atas permukaan laut (dpl) yang hampir 90persen wilayah ini selalu digenangi oleh air. Lahan tanah basah bagi pohon sagu tersebut didukung dengan curah hujan mencapai 236hari atau banyaknya curah tertinggi mencapai 1916 milimeter hampir tiap tahun. Selain itu, pasang-surut air laut tertinggi di wilayah asmat mencapai 5 sampai 6 meter di awal dan akhir tiap tahun.
Menurut 12 rumpun suku Asmat, pohon Sagu diberi nama sesuai bahasa rumpun setempat. Misalnya rumpun Bismam menyebut sagu dengan kata ‘Amos’; menurut rumpun unir-Sirau (di wilayah Distrik Sawa-Erma, Agani dan sekitarnya) menyebut sagu dengan kata ‘Ames’, menurut rumpun Safan (Distrik Pantai Kasuari, Distrik Fayit dan sekitarnya seperti Kampung Basim, Kampung Primapun, Kampung Santanbor dan sekitarnya) menyebutnya dengan kata ‘Amsa’.
Bila kitorang berbincang dan melihat kehidupan orang Asmat, mereka mengolah serta mengkonsumsi pohon sagu dan pohon nipa sebagai makanan khas setempat. Banyak Ilmuwan, Ahli, Peneliti dan Praktisi lainnya menuliskan di berbagai sumber buku ‘Pohon sagu bagi orang asmat adalah makanan pokok orang asmat’.
Belum lama ini sejumlah siswa  SMP dan SMA di Asmat  mempresentasikan hasil studi bahwa Sagu merupakan makanan pokok bagi orang Asmat dan sebagian besar orang Papua. Para siswa Asmat asal SMA Negeri Agats, SMA Katolik Agats, SMP Mbait Agats serta SMP Negeri 01 Atsj dan SMPN Sawaerma mempresentasikan bahwa rata-rata satu pohon sagu dewasa mampu menghasilkan sebanyak 15-300gram pati sagu. Jika Sagu dikelolah secara baik, dapat menghasilkan produksi pati sebanyak 25ton pati kering per tahun. Selain itu perbandingan kandungan pati dalam sagu yaitu 100gram sagu (355kalori) memiliki 94 gram karbohidrat, 0,2 protein; 0,5 gram serat, 10mg kalsium; 1,2 mg besi dan lemak, karoten, tiamin dan asam askorbat dalam jumlah sangat kecil. Selain itu, sagu juga mengandung Amilesa 27 persen, amileftin 73 persen.
Selain itu, sagu merupakan makanan pokok beberapa daerah di Indonesia Timur, seperti daerah Maluku, Papua, Berdasarkan hasil penelitian para ahli, peneliti dan sejawatnya menyimpulkan bahwa Sagu memiliki prospek sumber utama pangan murah. Tak lazim pula juga jika para ahli, peneliti dan praktisi mengatakan bahwa Sagu mengandung zat karbohidrat yang tinggi untuk kesehatan tubuh manusia.
Pentingnya sagu bagi orang asmat adalah menurut adat setempat memiliki sejarah asal-usul pohon sagu. Ke-12 rumpun di Asmat memiliki cerita Mitos asal-usul sagu secara berbeda. Namun inti mitos 12 rumpun tersebut sama. Yaitu Penemu pohon sagu di Asmat adalah Beweripits.
Berikut ini merupakan salah satu cerita rakyat diambil dari rumpun Bismam Asmat. Seperti yang dikisahkan oleh sejumlah penulis cerita rakyat orang asmat, pada zaman dahulu di kali Pets hiduplah seorang Biwiripits (pria tampan dan gagah perkasa). Dan istrinya bernama Teweraut (wanita cantik, molek dan lemah gemulai). Biwiripits dan Teweraut hidup bersama saudara-saudaranya dan mereka tidak mengenal sagu, sebelumnya. Mereka hanya makan ikan, pucuk nipah, buha nipah, siput dan kepiting (keraka) yang menjadi makanan pokok seharian mereka.
Suatu hari Biwiripits bermimpi menemui sejenis pohon palma yang berduri di tengah hutan. Dalam mimpinya, Dia bersama istrinya menebang pohon palma itu. Lalu menokok serta mengolah sari tepungnya dan memakan tepung itu.dan hasilnya lezat. Setelah terbangun dari tidurnya, dia teringat dan termenung merenungkan isi mimpinya.
Keesokan harinya, Biwiripits pergi (sendirian) ke hutan mencari pohon impiannya. Setiap kali ia pulang seusai mencari pohon tersebut, ia selalu merahasiakan kepada istri dan saudara-saudarinya. Satu hari, Teweraut mendekatinya untuk menanyakan maksud kepergiannya. Namun ia sama sekali tidak mau menceritakan hal tersebut kepada siapapun, sampai suatu hari Ia berhasil menemukan pohon impiannya. Keadaan itu berlangsung terus menerus sehingga istrinya merasa jengkel. Kejengkelan mereka karena kuatir suaminya bisa mendapat musibah. Lagipula Biwiripits tidak mau istrinya mengikutinya. Maka Biwiripits bertujuan untuk mengelabuhi istrinya dengan cara (Biwiripits) pindah ke adat Jew. Di rumah Jew Ia bertingkah dan berbuat seakan-akan tidak pernah keluar dari Jew.
Suatu hari, Biwiripits ke hutan lagi. Di tengah hutan ia menginjak duri sagu sehingga kakinya terasa sakit. Setelah pulang ke rumah, ia mengambil Taf (duri ikan kakap). Biwiripits yakin bahwa duri yang menusuk kakinya adalah duri pohon impiannya. Kemudian duri (Taf) tersebut di bawah ke hutan dan ditanam kembali ke lumpur. Keesokan paginya Biwiripits pergi menengok ke tempat duri diletakkan, ternyata di tempat itu telah ditumbuhi sebatang pohon palma berduri sesuai impiannya ketika berpimpi. Akhirnya Biwiripits melompat kegirangan.
Biwiripits lekas pulang ke rumah dan memberitahu kepada istri dan saudara-saudaranya untuk menyiapkan peralatan sesuai dalam mimpinya. Setelah semuanya sudah siap, berangkatlah mereka ke tempat pohon sagu yang tumbuh. Biwiripits menebang pohon tersebut. Setelah pohon itu tumbang, duri-durinya yang melakat pada pohon tersebut dibersihkan, dikupas kulitnya dan ditokok serta sari tepungnya diramas sesuai petunjuk mimpi). Hasilnya diisi dalam noken yang dibawah oleh Biwiripits dan keluarganya. Karena noken Biwiripits terlalu penuh dan berat, sehingga ketika pulang Biwiripits tergelincir pada pada titian kayu setapak di tengah jalan. Akhirnya Biwiripits tertanam dalam lumpur sebatas leher, istri dan saudara-saudaranya berusaha mengangkatnya. Namun usaha keluarganya sia-sia belaka. Maka Biwiripits berpesan kepada mereka: “biarlah kamu pulang dahulu ke rumah”. Mendengar pesan tersebut, mereka semua berpulang ke rumah sambil meratapi nasib Biwiripits.
Keesokan harinya mereka ke hutan lagi untuk mengetahui keadaan Biwiripits, setibanya di sana mereka tidak melihat Biwiripits. Mereka hanya melihat pohon-pohon sagu disekitar dimana tempat Biwiripits tertanam. Biwiripits berubah menjadi pohon sagu.
Sejak itulah, orang Asmat mengenal dan memakan sagu (Ambas, Amos atau amsa) sebagai makanan pokok bagi orang asmat.  Hingga sekarang, manfaat sari pati sagu terus dikaji dan diteliti sebagai sumber makanan pokok dan pemanfaatan lainnya. (Jubi/Willem Bobi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *