Program Kampanye HIV/AIDS Perlu Follow Up

Kampanye HIV 2010  dengan tema “Kitorang Pangaruh, Mari Betanggungjawab Untuk HIV”, yang di canangkan KPA Papua,belum lama ini telah membawa harapan baru bagi pemberantasan penyakit HIV/AIDS di tanah Papua. Namun hal ini baru ditindaklanjuti dengan follow up atau tindakan nyata dan bukan hanya sekadar wacana saja.

JUBI — Kampanye HIV 2010 se – Papua (Provinsi Papua dan Papua Barat), merupakan program Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Papua dengan melibatkan pihak-pihak terkait dalam kampanye ini, yakni  mencanangkan kampanye pencegahan penyakit HIV/AIDS pada kelompok pria berusia 15-49 tahun.
Hal ini diungkapkan Gubernur Provinsi Papua, Barnabas Suebu belum lama ini di Jayapura. Gubernur Papua, yang akrab disapa Kaka Bas juga mengakui  penyebaran virus HIV-AIDS di Papua sudah sampai ke populasi masyarakat umum dan terbanyak penyebarannya di usia antara 15-49 tahun atau usia produktif. “Mari kita berantas ancaman penyakit ini di Papua,” ungkap Gubernur Suebu saat launching Kampanye HIV di Papua untuk tahun 2010, di Jayapura.
Saat ini kata  dia jumlah kasus terbanyak ditemukan pada usia 20-29 tahun  yakni mencapai 2251 kasus yang merupakan usia kerja dan angkatan kerja. Usia ini dalam ancaman, bila tidak ada usaha-usaha pencegahan dan penanggulangan yang efektif dan terkoordinir dengan maksimal. Sebabnya kasus HIV-AIDS sekarang jadi ancaman serius bagi Papua.
Program kampanye ini didukung juga melalui program Kemitraan Australia Indonesia ( Autralia Indonesia Partnership). Disisi lain, Secara khusus di tanah Papua (Provinsi Papua dan Papua Barat) masih menempati ranking teratas untuk kasus penyebaran HIV/AIDS secara nasional, dengan pengidap diperkirakan mencapai 6.000 orang. Adapun data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Papua tercatat hingga tahun 2009 telah mencapai 4.745 jiwa dan Papua Barat 1.500 orang. Sedangkan data terakhir tahun 2009 pengidap HIV/AIDS (ODHA) sekitar 6.245 orang dengan rincian di Papua 4.745 orang dan Papua Barat 1.500, disamping itu  data di Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Papua mengakui 94 persen penyebaran HIV/AIDS terjadi karena perilaku hubungan seks yang menyimpang.Misalnya suka gonta ganti pasangan hubungan seksual. Data diatas akan selalu bertambah, bilamana belum ada kesadaran bersama dalam mencegah dan memberantasnya, karena suatu kampanye hanya bersifat informasi semata dengan  mengajak semua pihak peduli akan bahaya penyakit yang mematikan ini. Disamping itu, kampanye harus dapat ditindaklanjuti dengan follow up untuk menolong Orang Dengan infeksi HIV/AIDS (ODHA).
“Program yang dilakukan hanya strategis, namun perlu di lanjutkan dengn adanya follow up, misalnya mendeteksi orang yang teerkena HIV/AIDS,” ujar Sony Wanda dari Program Media (PM) LSM Yayasan Persekutuan Pelayanan Masirey (YPPM). Apa yang dilakukan oleh KPA Papua, katanya, akan membuat masyarakat mengerti, namun yang penting disini adalah bagaimana memberdayakan ODHA, karena mereka yang terinfeksi sering dikucilkan dari masyarakat bahkan keluarga.
Hal ini karena belum ada dukungan program pemberdayan atau perawatan terhadap orang terinfeksi, termasuk KPA Papua tidak pernah melakukan hal ini. “Kita mengalami banyak hal dilapangan, karena banyak ibu rumah tangga yang dilepas keluarga mereka,” ungkap Wanda, yang mengakui di YPPM menampung 2 (dua) orang ODHA, sebagai bentuk mengajak dan memberdayakan mereka. Persoalan menghilangkan stigma dan diskriminasi bago ODHA memang harus gencar dilakukan, sebab hingga kini masih saja mendapat pertentangan dalam  masyarakat. Sebabnya, kampanye HIV 2010 di tanah Papua di maksudkan untuk meningkatkan kesadaran laki-laki menggunakan kondom, penurunan stigma dan diskriminasi terhadap penderita HIV/AIDS di masyarakat serta penundaan seks dini atau pengurangan pasangan seks serta mengajak masyarakat tidak malu memeriksakan diri ke klinik-klinik yang tersedia. Mungkin banyak informasi yang sudah di dengar masyarakat, sebab sejak munculnya penyakit ni di tanah Papua tahun 1992, maka disana ada berbagai pihak melakukan kampanye dan advokasi informasi bahaya HIV/AIDS, akan tetapi tetap saja ada masalah hingga saat ini, dalam hal ini laki-laki dikategori 3M (mobile, men with money). Artinya, laki-laki yang suka bepergian (mobilitas tinggi) dan memiliki uang, memiliki kontribusi terhadap peningkatan laju pertumbuhan HIV di Papua.
Oleh karena itu,  kampanye HIV/AIDS tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya, yakni lebih difokuskan ke para lelaki, karena lelaki yang lebih dominan dalam terjadinya hubungan seksual. Sekitar 90 persen penyebaran HIV-AIDS di Papua karena hubungan seks.Alasannya laki-laki memiliki peran dominan dalam penyebaran HIV-AIDS selama ini.
Kampanye yang mengambil tempat di Gedung Negara, juga ternyata mendapat tanggapan dari bahasa masyarakat, yakni seharusnya bisa dilakukan di tempat terbuka dan di hadiri oleh seluruh masyarakat, karena informasi bukan hanya untuk pejabat pemerintah saja atau para undangan yang hadir saat itu, sehingga kalau sudah di canangkan di tengah tahun ini, maka harus bisa menyebar informasinya hingga kepelosok kampung-kampung termasuk siapa saja untuk mengetahuinya dan mencegah sejak dini.
Diakui, ada 4 hal yang ingin dicapai dalam kampanye ini, yakni, penundaan seks dini dan pengurangan jumlah pasangan seks, ajakan periksa atau tes HIV dan periksa infeksi menular seksual (IMS), peningkatan penggunaan kondom pada setiap kegiatan seks beresiko dan mempromosikan kondom sebagai sarana pelindung kesehatan, dan pengurangan stigma dan deskriminasi terhadap orang hidup dengan HIV-AIDS. Semoga dengan kampanye ini ada kesadaran yang terbangun untuk merubah perilaku dan memutuskan mata rantai penyakit yang mematikan ini. Tantangan tentu akan selalu di hadapi dalam kampanye, karena masyarakat seringkali terkesan malas tahu dan tidak peduli dengan kasus-kasus HIV/AIDS serta ikut peduli dengan bertindak sesuai perilaku hidup yang benar dalam bermasyarakat. Ajakan ini adalah untuk bisa salaing mengingatkan bahwasannya masih banyak persoalan yang melilit Papua dan bila kita tidak mencegah, tentu akan meningkat terus tiap tahunnya. Setidaknya berbagai informasi yang sebarkan para pegit LSM yang konsetrasi HIV-AIDS di papua selama ini bisa dampak dan resiko dari suatu kehidupan yang suka ganti-ganti pasangan, karena akan  menjadi titik rawan masuknya  HIV-AIDS.KPA sebagai lembaga pemerintah yang bertanggung jawab dalam   untuk menekan kasus yang berbahaya itu, pelu memikirkan kampanye yang praktis sehingga muda di mengeriti oleh masyarakat. Sebab sampai sekarang banyak masyarakat  Papua yang juga terinfeksi. Pemerintah Provinsi Papua dan Kabupaten/Kota se tanah Papua, diharapkan peran serta dalam memutus mata rantai penyebaran virus yang belum ada obatnya itu. (Jubi/Eveerth Joumilena)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *