Tuntut Pepera Juga Terjadi di Wamena

JUBI — Selain di Jayapura, tuntutan pengembalian Penentuan Pendapat Rakyat tahun 1969 juga terjadi di Timika dan Wamena.

Stracky Asso, aktivis Papua dalam orasinya mengatakan, rakyat Papua diberbagai wilayah mengalami masa-masa yang sangat buruk saat Pepera 1969 dilaksanakan.

“Semua orang harus lihat ini bahwa kita masih mengalami ketidakadilan, ini jadi tanggungjawab Indonesia,” ujarnya dalam sesi mimbar bebas ‘Kembalikan Pepera’ di Sentani, Kabupaten Jayapura, Senin.

Asso mengajak para tokoh Papua terlibat dalam pengembalian Pepera tersebut. “Hari ini mimbar bebas serupa juga digelar di Timika dan Wamena, seluruh orang Papua harus terlibat,” ajaknya.

Sementara itu ratusan warga terus berdatangan dari berbagai penjuru memperingati moment akbar itu. Mereka berlari dan mengibarkan bendera Komite Nasional Papua Barat.

Gelaran Tolak Pepera diwarnai dengan penandatangan spanduk oleh Dewan Adat Papua, Parlement Jalanan dan sejumlah lembaga di Papua. Warga juga membakar peti jenazah dan piagam Pepera sebagai wujud penolakan terhadap Pepera yang dianggap cacat hukum.

Polisi dari Polres Kabupaten Jayapura dengan senjata lengkap berjaga. Sejumlah wartawan tak diijinkan masuk.

Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) diadakan pada tahun 1969 untuk menentukan status daerah bagian barat Pulau Papua menjadi milik Belanda atau Indonesia. Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) adalah hasil dari New York Agreement pada tahun 1962. (Musa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *