Polres Merauke Tak Remehkan Kematian Ardiansyah

JUBI — Kapolres Merauke, AKBP. Joko Prihadi menegaskan, Polres Merauke tidak pernah meremehkan kasus kematian wartawan JUBI, Ardiansyah Matra’is. Bahkan hingga saat ini, Polres Merauke terus mengembangkan motif-motif penyebab kematian Ardi.

Demikian disampaikan Kapolres Merauke kepada Bagian Advokasi Aliansi Jurnalist Independen (AJI) Indonesia, Eko Maryadi di ruang kerjanya, Rabu (1/9). Diakui Prihadi, hingga kini pihaknya belum dapat memastikan sebab-sebab kematian Ardi. Jika pun ada isu-isu yang berkembang seputar kematian Ardi, itu sifatnya masih penyimpulan sementara.

Dirinya menjelaskan, berdasarkan hasil otopsi dan visum RSUD Merauke, menunjukkan tidak ada bekas-bekas kekerasan disekitar tubuh Ardi saat diotopsi. Bahkan, gigi yang dinyatakan tanggal, sebenarnya utuh. “Menurut kesaksian keluarga Ardi, memang Ardi memiliki 1 buah gigi palsu. Kalau pun ditanggalkan, itu dilakukan dokter untuk memastikan bahwa Ardi memakai gigi palsu,” jelasnya.

Dari hasil pemeriksaan medis diketahui bahwa Ardi mengalami scezoofrenia. Sejenis gangguan kejiwaan akibat depresi berat, sehingga kesimpulan sementara, Ardi menceburkan diri ke dalam air, yang juga dibuktikan dengan hasil pemeriksaan dokter RSUD Merauke.

Untuk memastikan kematian Ardi, pihaknya telah memeriksa 10 orang saksi, bahkan keluarga korban termasuk istri Ardi pun telah diperiksa kepolisian. “Ada benang merah yang terputus, karena dari pantauan saya, keluarga Ardi kurang mau terbuka,” sesalnya.

Menyikapi adanya rumor yang menyatakan bahwa Polres Merauke lamban dalam menangani kasus kematian Ardi, Prihadi menegaskan bahwa pihaknya masih terus menunggu hasil uji forensic di Labfor Makassar. Keterlambatan itu, kata dia, disebabkan karena adanya kerusakan alat pada Labfor Makassar sehingga pihak Labfor Makassar meminta bantuan Laboratorium Patologi Unhas Makassar yang harus disertakan dengan surat permohonan ulang dari Polres Merauke.

Dirinya mengklarifikasi, proses uji forensic yang dilakukan, belumlah terlambat. Pasalnya, pihaknya baru mengirimkan organ tubuh Ardi ke Labfor Makassar pada 5 Agustus 2010 lalu. Sementara permohonan ke Laboratorium Patologi Makassar baru dilakukan pada 25 Agustus 2010 lalu.

“Jadi kesimpulan tentang kematian Ardi belum diketahui secara pasti, meskipun ada dugaan Ardi menceburkan diri ke Kali Maro. Namun, kami tidak berhenti sampai disini,” tandasnya. (Indri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *