Foker LSM : Ada Tiga Kategori Orang Asli Papua

JUBI — Untuk memetakan konflik sesama orang asli Papua , maka keberadaan orang asli Papua hingga kini memiliki kepentingan yang berbeda – beda yang harus dipersatukan.

Hal ini terungkap dalam diskusi elemen masyarakat dan organisasi pemuda bersama Forum Kerja Sama (Foker) LSM Papua, dengan tema “Kontruksi Politik Identitas Masyarakat Asli Papua Sebelum dan Sesudah Otonomi Khusus 2001 di Kota Jayapura”bertempat di  Padang Bulan Kota Jayapura, Sabtu (30/10).

“Untuk memetakan konflik di antara orang asli Papua, maka kita bisa melihat tiga kelompok kategori orang asli Papua yang mempunyai kepentingan berbeda-beda,” kata Koordinator Litbang, Forum Kerja Sama (Foker LSM) Papua, Rafael Hafen, di Jayapura, Sabtu (30/10).

Ia menambahkan  perbedaan inilah yang  menjadi salah satu indikator munculnya konflik antara orang asli Papua di Papua.

Data primer dan sekunder berhasil dikumpulkan FOKER LSM Papua, menyebutkan kelompok pertama adalah golongan yang menginginkan Papua Merdeka, kedua adalah  mereka yang yang pro Indonesia (Barisan Merah putih)  dan kelompok terakhir Abu-abu.

“Kelompok yang mengingkan Papua merdeka karena dilatar belakangi kesenjangan pembangunan, pelanggaran HAM dan latar belakang sejarah Papua,” jelasnya.

Dikatakan, kelompok barisan merah putih, yakni orang asli Papua yang berada di pemerintahan, ditambah dengan lembaga-lembaga yang dibentuk
oleh pemerintah, seperti LMA dan FKUB.

“Sedangkan kelompok Abu-abu yakni LSM-LSM dan Gereja,” ucapnRafael Hafen, Koordinator Penelitian dan Pengembangan ini.

Menurutnya,  tiga kelompok tersebut harus bersatu   untuk membicarakan solusi  dan masalah yang terjadi di Papua.

Seminar sehari tersebut dihadiri 16 organisasi massa dari berbagai elemen yang ada di kota Jayapura dan merupakan  bagian dari penelitian Foker bekerja sama dengan pasca sarjana Universitas Gadja Mada (UGM).

“Seminar penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan secara utuh tentang politik identitas orang asli Papua,” tandasnya.

Informasi yang diterima JUBI, diperkirakan hasil penelitian tersebut akan di buat buku dan  diluncurkan pada bulan Desember 2010. (Marten)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *